Sabtu, 04 Desember 2010

Aku juga AREMANIA!

Dalam rangka pemburuan terus Aremania yang berada di kota Surabaya, Admin fan page facebook Aremania Surabaya Ivan mendapatkan sebuah info bahwa di daerah gedangan (sori guys spesifiknya dirahasiakan) ada seorang Warga Surabaya asli bernama Fahmi Anwar Sanusi yang saat ini kuliah di salah satu PTN di kota pahlawan ini. Admin mendapatkan info dari teman-teman kampus bahwa memang ada, dan memang banyak pendukung Arema asli dari kota Surabaya. untuk mencarinya kita semua melakukan beberapa rencana untuk mendapatkan informasi fans singo edan tersebut. langkah pertama kita menyusun pertanyaan yang nantinya akan di wawancarakan secara tidak formal kepadanya. Memang tak mudah bergerak bebas di basis "Negara Musuh" ini guys. Semua persiapan sudah siap, yaitu buku catatan dan pena. Admin segera menghubungi nomor yang telah didapatkan secara gerilya tersebut


Aremania Surabaya : Selamat sore Sam Fahmi? kami dan rekan-rekan Aremania Surabaya mau ketemu dengan sam bisa?

Fahmi : loh emang ada ya mas Aremania Surabaya itu? ok temui saya di Galaxy Mall 15 menit lagi (gayanya sambil agak kaku)

beberapa saat kemudian kami sampai di Galaxy mall,tepatnya di sebuah cafe yg telah ditentukan dalam pembicaraan. kami menunggu Sam Fahmi. setelah 15 menit memang benar Sam Fahmi datang. Dia nampaknya agak canggung, karena kita belum pernah bertemu sebelumnya dan agak canggung rupanya dia bertemu dengan rekan kami yang berjumlah 7 orang tersebut.

Aremania Surabaya : Santai aja sam, kita disini hanya mau tanya-tanya koq, silahkan sam kalau mau pesan kopi atau minuman apa gitu (sapa kami akrab)

Fahmi : Oh iya mas..

Setelah minuman pesanan kami datang rekan-rekan kami memulai untuk mencari informasi tentang Sam Fahmi tersebut

Aremania Surabaya :maaf sam, apa benar sam seorang Aremania?
Sam Fahmi : (dengan agak takut) tau dari mana mas? 
Aremania Surabaya : tau dari teman-teman sam
Sam Fahmi : io bener iku mas,aku iki Aremania 


Aremania Surabaya : bukankah sam warga gedangan asli, kenapa koq bukannya dukung Bon*k?

Sam Fahmi : lho emange nek warga suroboyo asli gk oleh to sam nek dadi supporter Arema (candanya, memang dari logat bicaranya dia memang asli warga Kota Pahlawan ini,dengan seringnya menyapa dengan "Dolor" ataupun bahasa jawa yang memang khas Surabaya)

Aremania Surabaya : gini sam, kami kan juga komunitas kumpulan Aremania yang kerja atau kulia di Surabaya ini.

Sam Fahmi : loh tibak e bener rek ancen ono yo Aremania Suroboyo iku..tak kiro ne iku mek bibir manis ae rek...

Aremania Surabaya : bener sam..memang ada,tapi kami tidak terkoordinir dengan baik, yah maklum sam iki laiki basis "Negara Musuh",sam apa sam pernah ke Kanjuruhan untuk melihat Arema berlaga

Sam Fahmi (tertawa) : yo jenenge ae Aremania rek,,nemen nek gk tau nang kanjuruhan (sambil menunjuk motornya yang terlihat di pelataran parkir cafe tersebut) iku lo sepedah q gawe belakrakan nang Malang ben Aremana Tanding

Sentak kami terdiam,dan berpikir,,dengan motor tua tersebut Sam Fahmi selalu datang setiap Arema berlaga baik di Kanjuruhan maupun di Gajayana, meski menempuh jarak 90 km dia tak pernah menghiraukan kondisinya.

Sam Fahmi : wingi Arema juara aku yo ndek Malang terus sak mingguan,,golek konco gawe barengan konvoi rek..hahaha (sembari dia tertawa)

Aremania Surabaya : suka dukanya jadi seorang Aremania di basis "Negara Musuh" gimana sam?

Sam Fahmi : woh yo akeh dulur,aku iki ndek kerjoanku,dek kampus diarani Arewaria,tapi aku gk atau ngrungokno,babah wes kate ne ngomong opo sak penake cangkemmu (khas logat suroboyo ne,menggebu,nggebu).

Aremania Surabaya : akan tetap selamanya menjadi Aremania sam? tidak mau ikut temen-temen sam yang menjadi Bon*k Mania?

Sam Fahmi : wadoh rek,yo ora,ak pancet Arema sampek tuwek,sampek matek,koncoku yo kono koncoku,aku pancet seneng Arema yo bedo maneh urusane atine wong? hahaha (sembarinya bercanda)

Aremania Surabaya : sam nek ancen oleh,,foto sampean gak popo tah diterbitno ndek blog awak e?

Sam Fahmi : waduh, yo malah bangga rek aku,haha,,Wani!! haha (dia bercanda),mas kalau bisa korwil ini cepat di resmikan yo? Aku yo pengen onok barenge rek nek kate nang Kanjuruhan

Aremania Surabaya : Aminnnn Sam

Sam Fahmi adalah satu dari jutaan tauladan bagi Aremania Surabaya, dan Aremania Seluruh Indonesia, betapa tidak, tiap kali Arema berlaga, dia mengendarai sepeda motor tuanya menempuh jarak 90-100 Km untuk mendukung tim kebanggaannya. Seandainya dia tidak bisa datang, dia selalu menyempatkan untuk titip beli tiket yang dititipkannya melalui temannya di daerah Kepanjen,Malang.Salam Satu Jiwa Sam Fahmi!

Sweet Memory Indonesia Foot Ball

Sejak 11 Juni sampai 11 Juli para penggemar sepakbola di seantero dunia disuguhkan pertandingan bergengsi Piala Dunia di Afrika Selatan. Setiap malam hingga dini hari, televisi di dominasi warna hijau rumput stadion dan bunyi terompet vuvuzela yang bising. Di negeri ini, kehebohan yang sama juga melanda para pecinta sepakbola. Konon Indonesia juga pernah merasakan atmosfer Piala Dunia, tepatnya pada Piala Dunia tahun 1938 di Perancis. Sampai saat ini, kita terus menerus membanggakan keikutsertaan di Piala Dunia itu. Namun pertanyaannya, apakah benar yang berlaga di sana tim nasional Indonesia?

Menurut Srie Agustina Palupi dalam bukunya Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942 orang-orang Indonesia mengenal sepakbola dari bangsa Belanda yang datang ke Hindia Belanda untuk bekerja di instansi-instansi pemerintah kolonial. Awalnya sepakbola hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Belanda, lalu orang-orang Tionghoa, kemudian orang-orang bumiputra yang punya status sosial setaraf dengan bangsa Belanda. Selanjutnya, orang-orang bumiputra yang sudah paham akan sepakbola memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Sebenarnya, jauh sebelum Belanda datang ke negeri ini, orang-orang Indonesia sudah mengenal olahraga semacam sepak bola, yaitu sepakraga (sepaktakraw). “Karena pengaruh sepakraga ini orang-orang asing menyebut sepakbola dengan istilah tersebut,” tulis Masmimar dalam bukunya Abidin, Penjetak Gol. Boleh dibilang, secara tidak langsung bangsa kita membentuk sebuah frasa kata yang ‘disetujui’ menir-menir Belanda itu. Lalu, bagaimanakah cerita soal Indonesia di Piala Dunia 1938?

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepakbola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia. PSSI didirikan oleh Ir. Soeratin Sosrosoegondo pada 19 April 1930 atas dasar semangat nasionalisme. Bisa dibilang, PSSI ingin mengimbangi keberadaan NIVB sebagai representasi gerakan kemerdekaan lewat jalur sepakbola.
Alkisah, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)sebuah organisasi sepakbola orang-orang Belanda di Hindia Belandamenaruh hormat kepada Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lantaran Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)yang memakai bintang-bintang dari NIVBkalah dengan skor 2-1 lawan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ)salah satu klub anggota PSSIdalam sebuah ajang kompetisi PSSI ke III pada 1933 di Surabaya. Maka terbukalah mata tuan-tuan bule ini melihat kemampuan olah kulit bundar bumiputra. NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI (Palupi, 2004: 75-76). Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepakbola di Hindia Belanda. Di tahun 1938, Indonesia mendapat undangan dari FIFA untuk berlaga di Piala Dunia Perancis. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal pertandingan sepakbola sejagat ini. Butirnya, yakni dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Namun, apa lacur, NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. Mereka menelikung secara sepihak dan tak tepati janji. Konon, NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.
Atas tindakan culas tuan-tuan kulit putih ini, Soeratinketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesiasangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Sialnya, FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.
Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. “Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain bumiputra yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland dan bukan Merah-Putih,” tulis Srie Agustina Palupi dalam bukunya Politik dan Sepak Bola.

Kurcaci yang dipecundangi raksasa

Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di Stadiun Velodrome Municipal, Reims, Perancis. Sekitar 10.000 kepala menyaksikan pertandingan ini. Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan Belanda “Het Wilhelmus”. Berarti di Piala Dunia ini, lagu “Het Wilhelmus” dikumandangkan dua kali, yaitu saat Hindia Belanda dan Belanda akan bertanding. Secara skill mereka bisa mengimbangi, tapi tidak dengan fisiknya. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims menyebutnya,”saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci.” Begitulah kata walikota Remis dalam buku 100 + Fakta Unik Piala Dunia karya Asep Ginanjar dan Agung Harsya. Dan, akhirnya tersiarlah kabar yang pahit. Kesebelasan Hindia Belanda digunduli 6-0 tanpa balas. Cuma sekali bertanding. Sehabis itu mereka mesti angkat koper, karena saat itu sistem Piala Dunia masih menggunakan sistem knock-out. Hal ini disebabkan karena negara pesertanya sedikit. Ketika itu, Piala Dunia cuma diikuti 15 tim, yaitu Italia, Jerman, Swedia, Norwegia, Brasil, Kuba, Swiss, Polandia, Hindia Belanda, Rumania, Hongaria, Cekoslowakia, Belanda dan Belgia. Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan menampilkan headline: “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”. Sekarang coba kita bayangkan, jika saja tim yang dikirim adalah tim pilihan PSSI apa yang bakal terjadi di Piala Dunia 1938? Ah, ternyata sejarah tak bisa diulang dan kita harus menerima terus menerus ‘mimpi manis’ Piala Dunia 1938 sebagai ‘Indonesia di Piala Dunia 1938’ meskipun sejatinya kita pernah ditelikung Belanda dan tak pernah ada di sana!
FANDY HUTARI, esais dan penulis buku.

Usung Misi Ganda

Pertandingan menentukan akan dilakoni timnas Indonesia malam nanti di Gelora Bung Karno ( GBK). Yaitu menghadapi Laos di laga kedua Piala AFF 2010 Grup A.
Timnas Indonesia memiliki dua misi penting dalam laga yang akan disiarkan RCTI pukul 19.30 WIB itu. Pertama, mengamankan tiket ke semifinal. Dan kedua adalah revans atas kekalahan memalukan skuad Merah Putih  2-0 di SEA Games tahun lalu.  
Firman Utina dkk harus bekerja keras untuk mewujudkan ambisi itu. Sebab saat ini Laos sudah menjelma menjadi tim yang tidak mudah dikalahkan. Buktinya, para pertandingan pertama Rabu kemarin (1/12) Laos berhasil membuat kejutan dengan menahan seri 2-2 salah satu kandidat juara, Thailand.
Tapi Indonesia juga punya modal bagus untuk mengalahkan Laos. Selain pemain dalam kondisi komplet tidak ada yang cedera, Skuad Garuda juga punya sosok pelatih Alfred Riedl, pria yang mengarsiteki Timnas Laos saat mengalahkan Indonesia 2-0 tahun lalu.
Riedl yakin malam nanti Indonesia bakal bisa melakukan ’balas dendam’ atas Laos. Mantan penyerang  timnas Austria  ini mengaku tahu banyak kekuatan calon lawannya karena di tim Laos saat ini ada delapan pemain yang pernah ditanganinya tahun lalu.
’’Saat ini tim (Indonesia) dalam kondisi bagus. Saya tidak peduli (jika Laos mantan tim saya). Yang terpenting kami bisa menang di dua laga berikutnya,’’ kata Riedl usai latihan timnas di Lapangan C, Senayan, kemarin.
Meski optimistis Riedl menyatakan kemenangan tidak akan diraih dengan mudah. ‘’Laos mengalami kemajuan yang bagus dalam setahun terakhir. Ada beberapa pemain di skuad sekarang yang dulu saya latih di timnas U-23. Yang jelas pertandingan besok (malam ini, Red.) tidak akan mudah,’’ lanjutnya.
Secara khusus Riedl menyebut ada dua pemain Laos yang malam nanti harus diwaspadai oleh pemainnya. Yaitu pemain nomor punggung 8 Lamnao Singto dan penyerang  bertubuh tinggi besar Khampeng Sayavutthi.
‘’Saya juga tegaskan kepad pemain untuk tidak over convidence setelah menang 5-1 atas Malaysia. Jangan sekali-kali menganggap remeh Laos,’’ tegasnya. Pada Piala AFF 2007, Indonesia berhasil menaklukkan Laos dengan skor 3-1. 
Sementara itu, Laos juga dalam kepercayaan diri tinggi. Dalam sesi press conference kemarin sore pelatih David Booth mengatakan timnya bersiap mengulang penampilan impresif seperti saat melawan Thailand.
‘’Saya harap kami bisa tampil sebaik mungkin untuk laga besok (malam nanti, Red). Saya sudah melihat pertandingan Indonesia (lawan Malaysia). Indonesia sama kuatnya seperti Thailand, maka kami harus tampil seperti saat melawan Thailand,’’ ujar Booth.
Pelatih asal Inggris ini mengatakan timnya siap kembali membuat kejutan di GBK. ‘’Kejutan kedua, saya berharap bisa mengulangi kejutan itu lagi saat melawan Indonesia,’’ lanjut David Booth yang memilih untuk menyimpannya rapat-rapat formasi seperti apa yang akan dia mainkan.
David Booth juga menyatakan timnya siap mendapat intimidasi dari suporter Indonesia seperti yang diterima tim Malaysia. "Tapi saya rasa kami tidak akan mendapat intimidasi seperti mereka. Namun, jika kami mencetak gol lebih dulu, mungkin kami juga akan mendapat intimidasi yang sama," kelakar Booth. (ali/jpnn)

Tak Pasang Target

MALANG - Tim Arema Indonesia bisa bernafas lega dengan kepastian lolos ke penyisihan grup AFC Champions League atau Liga Champions Asia 2011. Tim kebangaan Aremania ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang langsung tampil di LCA.
Sedangkan Persipura sebagai runner Indonesia Super League 2009/2010, mendapat jatah tampil AFC Cup 2011. Lalu Sriwijaya FC sebagai juara Piala Indonesia 2010, mendapat kesempatan tampil di LCA 2011 melalui babak play off. SFC yang tergabung di grup timur akan bersaing dengan wakil Thailand, Muang Thong. Sedangkan di grup barat, ada empat tim yang mendapat jatah tampil di play off Dempo SC (India), Al Sadd (Qatar), Al Ittihad (Syria) dan Al Ain (Uni Emirat Arab).
Menurut ketentuan dari AFC sebagai federasi sepakbola Asia, satu tim dari grup barat ini akan bergabung di grup timur agar lebih fair. Rencananya itu akan diputuskan dalam drawing LCA di Kualalumpur, Malaysia, Selasa (7/12) nanti.
Termasuk tiga tim yang bakal dihadapi Arema dalam penyisihan grup, mulai awal Maret 2011 nanti juga akan diundi hari Selasa itu. Kemungkinan Arema akan menghadapi tim asal Jepang, Korea Selatan, China atau tim asal Australia.
Pasalnya, berdasarkan pembagian wilayah oleh AFC, Indonesia tergabung di Negara-negara Asia Timur, yaitu Jepang, Korea Selatan dan China, plus Australia. Sedangkan Iran, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Uzbekistan dan Qatar masuk wilayah Asia Barat.
Bagi Arema, ini adalah penampilan kedua kalinya di ajang kompetisi paling bergengsi di Asia, setelah 2007 lalu gagal di fase penyisihan grup. Kebetulan kala itu, Arema juga ditangani pelatih yang sama seperti 2007 lalu, yaitu Miroslav Janu.
Mengacu pengalaman tiga tahun silam, Miro kini tak mau bicara seputar target Arema di LCA. Menurutnya, kualitas tim yang bakal dihadapi Arema nanti, masih lebih bagus, dan rata-rata berstatus juara di negaranya masing-masing.
‘’Kenapa harus tanya target? Kamu sudah tahu seperti apa kualitas tim-tim LCA tahun 2007 lalu. Nanti kita akan menghadapi juara liga Australia, Korea dan Jepang,’’ sebut Miro saat disinggung perihal targetnya bersama Arema di LCA 2011.
Meski Arema Indonesia sebenarnya juga berangkat dengan status juara, pelatih asal Republik Ceko ini tak mau berspekulasi perihal target tim asuhannya di LCA. Terbukti 2007 lalu, saat ditarget masuk empat besar, Arema justru gugur di penyisihan grup.
‘’Kita lihat nanti, siapa lawan yang akan dihadapi Arema. Perlu kamu ketahui, sepakbola Indonesia itu berbeda dengan sepakbola Jepang,’’ yakin Miro tak mau terlena dengan status juara yang digenggam Singo Edan musim lalu.
Sementara itu, terkait dengan ketentuan bisa mendaftarkan empat pemain asing di LCA, mantan pelatih Slavia Praha ini belum memutuskannya. Meski diperkirakan, dari dua pemain Arema asal Singapura, tampaknya hanya Noh Alamshah yang bakal didaftarkan.
‘’Saya sudah tahu, aturan empat pemain asing, dengan satu pemain dari Asia. Saya tidak tahu, siapa nanti yang akan masuk, mungkin satu pemain Singapura bisa main, saya belum tahu, lihat nanti,’’ terang Miro belum menyebutkan nama.
Jika mengacu pada kebutuhan tim dan komposisi pemain, empat pemain asing yang bakal didaftarkan LCA yaitu Pierre Njanka, Esteban Gullien, Chmelo Roman dan Alamshah. Sedangkan untuk posisi gelandang sayap kanan yang biasa ditempati Muhamad Ridhuan, bisa digantikan pemain lokal Arema. (bua/avi/malangpost)

Bawa 22 Pemain, Ladub ke Bali

MALANG-Meski sempat jadi perdebatan untuk program pemusatan latihan atau TC Arema di Bali, skuad tim berjuluk Singo Edan dipastikan ladub (berangkat, Red). Dijadwalkan pagi ini, pukul 09.00 WIB, rombongan tim Arema bertolak dari mess pemain di Jalan Semeru menuju Pulau Dewata.
Rombongan tim Arema akan membawa 22 pemain, berangkat dari mess menuju bandara Juanda, Surabaya untuk penerbangan pukul 14.00 WIB ke Bali. Program TC dimulai Sabtu (4/12) hari hingga Sabtu (11/12) yang akan datang.
 “Ya, besok pagi kita berangkat dengan bawa 22 pemain, termasuk dua pemain Arema U-21,” ungkap Managercoach Arema, Miroslav Janu kepada Malang Post, kemarin sore perihal jumlah pemain yang dibawanya ke Bali.
Dua pemain Arema U-21 yang dapat kesempatan gabung TC di Bali itu adalah Gilang Andik Permana dan Andre Lesmana. Kebetulan dua pemain ini sejak awal sudah ikut latihan bersama Juan Revi dkk, selama delapan pemain Arema gabung Timnas.
Khusus untuk penjaga gawang, Miro hanya bawa dua kiper Arema, Ahmad Kurniawan dan Aji Saka. Total Arema bawa 22 pemain, termasuk Dendi Santoso yang baru saja kembali dari Timnas Indonesia.
Selama di Bali, Pierre Njanka dan kawan-kawan rencananya menginap di Hotel Summer, Kuta. Sayangnya, Miro belum mau merinci program latihannya selama TC di Bali, meski kemungkinan akan lebih difokuskan pada latihan fisik. (bua)

Daftar 22 Pemain Arema ke Bali

Penjaga Gawang:
1.    Ahmad Kurniawan
2.    Aji Saka
Lini Belakang
3.    Pierre Njanka
4.    Hermawan
5.    Purwaka Yudi
6.    Irfan Raditya
7.    Wahyu Gunawan
8.    Waluyo
9.    Johan Ahmad Farizi
10.    Leonard Tumpamahu
Lini Tengah
11.    Esteban Gullien
12.    Chmelo Roman
13.    Juan Revi
14.    Tomi Pranata
15.    Roni Firmansyah
16.    Fakhrudin
17.    Gilang Andik Permana*
18.    Andre Lesmana Gilang*
Lini Depan
19.    Dendi Santoso
20.    Talaohu Abdul Musafri
21.    Ahmad Amirudin
22.    Sunarto
*Pemain Arema U-21

Miro Urus Kitas

MALANG-Setelah beberapa hari lalu kapten tim Arema, Pierre Njanka berangkat ke Jakarta untuk mengurus KITAS (Kartu Ijin Tinggal Terbatas), giliran Managercoach Arema, Miroslav Janu yang mengurusnya, Jumat (3/12) kemarin. Miro berangkat ke Jakarta, Kamis (2/12) kemarin dan menyelesaikan KITAS miliknya tersebut di kantor Imigrasi.
Kebetulan, sehari kemarin, Arema tidak ada jadwal latihan, usai recovery pasca laga uji coba lawan Deltras Sidoarjo.
“Hari ini ada libur latihan, saya baru saja mengurus KITAS di Jakarta, dan sekarang mau kembali ke Malang,” ungkap Miro sesaat setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, kemarin sore.
Pelatih asal Republik Ceko ini pun mengaku kelelahan setelah seharian pengurus KITAS, apalagi terjebak macet di Porong, Sidoarjo, saat akan kembali ke Malang. Dan dijadwalkan pagi ini, Miro harus kembali ke Juanda, untuk berangkat TC di Bali.
Selain Miro, pemain asing Arema lainnya yang dalam waktu dekat mengurus KITAS adalah Esteban Gullien. Gelandang asal Uruguay ini rencananya akan berangkat ke Singapura untuk memperpajang KITAS miliknya.
Dijadwalkan Kamis (9/12) depan, Esteban berangkat mengurus KITAS, dan harus meninggalkan TC atau pemusatan latihan Arema di Bali. Mantan pemain PSMS Medan ini harus keluar Indonesia dulu, kabarnya juga untuk mengurus visa.
“Ya, rencananya tanggal 9 hingga 10 Desember nanti, Esteban akan mengurus KITAS miliknya ke Singapura,” sebut Abriadi Muhara, pelaksana harian PT Arema Indonesia perihal jadwal salah satu pemain asing Arema untuk mengurus KITAS. (bua/jon/malangpost)

Jumat, 03 Desember 2010

Film Arema Agama Kedua

Pemutaran film AREMA “AGAMA KEDUA”
Gedung Samanta Krida Universitas Brawijaya
9 desember 2010

Jam pemutaran
sesi 1 10.00WIB
sesi 2 12.00WIB
sesi 3 14.00WIB
sesi 4 16.00WIB

Ticket Box :
GKB Lantai 2 Univ.Brawijaya
Gedung FISIP Lantai 1 Univ.Brawijaya 
Ongisnade Store. Jln.Ciliwung 57F,HTM : RP 8000

CP:
Doyok - 0856 493 81 444
Afut - 085 6644 76 800

tempat terbatas hanya 250 kursi setiap sesi pemutaran!!


Hidup Sehat Ala Aremania Surabaya

1. Minum air putih sebanyak mungkin.
Minumlah air putih minimal 5 sampai 8 gelas perhari akan membuat Anda terhindar dari berbagai penyakit.Diantaranya tekanan darah tinggi,diabetes,sakit perut akibat maag dan sebagainya.

2. Perbanyak kandungan serat.
Perbanyak kandungan serat dalam tubuh. Selain melancarkan pencernaan,karbohidrat dalam makanan kaya serat seperti sayur dan buah akan meningkatkan energi Anda tanpa menambah kadar lemak dalam tubuh.

3. Olahraga secara teratur.
Olahraga secara teratur selain dapat membakar lemak dan kalori berlebihan dalam tubuh,olahraga juga dapat mengendurkan otot yang kencang serta menghilangkan stres.

4. Cukup Tidur.
Saat tidur tubuh akan beristirahat dengan total. Maka jika waktu tidur berkurang,otoamtis tubuh akan lemas dan gampang terserang penyakit.

5. Banyaklah tertawa.
Percaya atau tidak,tertawa merupakan obat yang cukup
ampuh melawan penyakit ! Pikiran yang positif dan bahagia dapat mempengaruhi Anda baik secara mental dan fisik. Semakin bahagia Anda maka semakin jauh penyakit datang menyerang.


6. Selalu Dukung Arema.
Dimanapun nawak-nawak berada, pastikan Arema selalu dalam sanubari nawak-nawak. Selalu sempatkan untuk melihat langsung ke stadion. Dengan berkontribusi terhadap tim, kita juga akan selalu dapat menjaga psikologis kita. Salam Satu jiwa!

Lawan Persela di Gajayana

MALANG-Panpel Arema sukses menggelar uji coba pertama dalam masa rehat kompetisi. Laga persahabatan antara Arema menjamu Deltras Sidoarjo yang digelar di Stadion Gajayana Rabu (1/12) lalu berlangsung lancar dengan disaksikan sekitar 11 ribu penonton. Jumlah yang cukup tinggi untuk ukuran pertandingan sekelas uji coba.
Apalagi uji coba tersebut dilangsungkan di stadion yang bukan markas utama Arema. Selama beberapa musim terakhir, tim Singo Edan berkandang di Stadion Kanjuruhan. Aremania jelas lebih familiar menyaksikan laga tim pujaannya di stadion yang terletak di daerah Kepanjen, Kabupaten Malang tersebut.
Dari hasil laga pemanasan jelang lanjutan kompetisi itu, panpel Arema berhasil meraup pendapatan penjualan tiket sebesar Rp 103 juta. Angka yang lumayan, meski tidak terlalu besar. Mengingat uji coba lawan Deltras saat itu dilangsungkan di hari dan jam kerja, bukan akhir pekan, pihak panpel pun bisa memaklumi.
“Pertandingan kemarin (1/12) agak terpengaruh faktor hujan dan hari kerja. Jadi animo penonton sebenarnya masih kurang dibandingkan biasanya,” ungkap media officer Arema, Sudarmadji kepada Malang Post saat ditemui di Kantor Arema siang kemarin.
Selanjutnya, Arema akan kembali menggelar uji coba, kali ini untuk kedua kalinya sepanjang bulan Desember.
Tepatnya pada 14 Desember mendatang, menghadapi Persela Lamongan. Sama seperti laga uji coba pertama, pertandingan akan dihelat di Stadion Gajayana. Panpel menilai Stadion Gajayana layak untuk menggelar pertandingan di saat jam-jam kerja.
“Uji coba tanggal 14 nanti itu kan hari Selasa, juga masih jam kerja. Rasanya masih cocok bila digelar di Gajayana. Letaknya di tengah kota, jadi cukup stretegis,” tandas Sudarmadji.
Pada uji coba ketiga tanggal 18 Desember mendatang, menghadapi Persibo Bojonegoro, panpel membuka wacana bakal menggelar pertandingan di Stadion Kanjuruhan. Menurut Sudarmadji, hal ini dimaksudkan agar Aremania tidak jenuh dengan jadwal pertandingan persahabatan yang dilaksanakan di tempat yang sama saja. “Biar ada variasi. Jadi dua laga pertama di Gajayana, sedangkan dua lagi kemungkinan di Kanjuruhan,” imbuh pria asal Banyuwangi ini.
Stadion Kanjuruhan dipilih dengan pertimbangan bahwa pertandingan uji coba ketiga dilangsungkan pada hari Sabtu (18/12). Artinya panpel juga harus bersiap memilih stadion yang bisa menampung kuota penonton cukup besar, lantaran pertandingan di akhir pekan bakal menyedot animo penonton lebih banyak lagi.
“Stadion Kanjuruhan memiliki kapasitas memadai untuk menampung Aremania dalam jumlah besar. Tentu ini menjadi salah satu pertimbangan untuk menggelar pertandingan akhir pekan di sana,” pungkas Sudarmadji. (tom/jon/malangpost)

LCA KAMI DATANG!

Arema Langsung ke Babak Utama
MALANG – Resmi sudah Arema menjadi salah satu kontestan AFC Champions League (Liga Champions Asia – LCA). Dalam situs resmi AFC, nama Arema Indonesia sudah tercantum sebagai wakil Indonesia.
Sebenarnya selain Arema, masih ada Sriwijaya FC dan Persipura. Namun khusus untuk Sriwijaya FC yang juga jawara Piala Indonesia 2010, harus lewat jalur play off untuk bisa masuk ke LCA. Sedang Persipura, runner up Indonesia Super League (ISL), turun di ajang AFC Cup.
Penentuan lawan Arema sendiri, baru diketahui dalam drawing yang bakal digelar Selasa (7/12) mendatang di Petaling Jaya Hilton Hotel Malaysia.
‘’Kemungkinan saya dan Pak Abri (Abriadi Muhara, pelaksana harian PT Arema Indonesia) yang hadir. Insya Allah kalau tidak ada perubahan kami berangkat Selasa (6/12) nanti,’’ ujar media officer Arema, Sudarmaji, kemarin.
Jika berkaca pada LCA 2010 kemarin, ketika Persipura menjadi wakil Indonesia, kemungkinan besar Arema akan bertemu tim dari Jepang, Korea, China atau Australia.
Dari negara-negara tersebut, baru China dan Australia yang sudah mempunyai wakil. China akan diwakili Shandong Luneng, Tianjin Teda, Shanghai Shenhua dan Hangzhou Greentown. Sementara Australia diwakili Sydney FC dan Melbourne Vicory.
Wakil Jepang masih akan ditentukan. Sementara baru Nagoya Grampus yang sudah pasti, tiga wakil lainnya masih akan ditentukan dari peringkat di Liga Jepang. Sedang Korea tinggal satu wakil yang belum ditentukan. Lainnya adalah FC Seoul, Suwon Samsung Bluewings dan Jeju United.
Yang menarik, untuk LCA musim 2011 ini, setiap tim bisa menurunkan empat pemain asingnya. Komposisinya, tiga pemain non Asia dan satu pemain Asia. Berbeda dari sebelumnya, ketika tim hanya boleh menurunkan tiga pemain asing.
Menurut AFC Director of Competitions, Tokuaki Suzuki penerapan 3+1 dalam LCA memberikan kesempatan kepada pemain-pemain Asia, untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di level kompetisi lebih tinggi.
’’Termasuk memberikan peluang bagi klub untuk menyusun kekuatan saat turun di LCA. Sistem ini juga bisa memberikan pengertian kepada klub, agar memakai pemain Asia, karena terbukti sudah banyak yang sukses,’’ ujarnya dalam situs AFC.
Arema sendiri sempat merasakan atmosfir LCA pada 2007 lalu. Ketika itu, Singo Edan juga dipoles Miroslav Janu. Ketika itu Arema berada di Grup F bersama-sama Kawasaki Frontale (Jepang), Chunnam Dragon (Korea) dan Bangkok University ( Thailand).
Dari enam kali laga, Arema hanya sekali meraih kemenangan dan sekali seri. Dua gol berhasil dicetak dan sembilan gol bersarang ke gawang Arema.
Sementara itu terkait persiapan menghadapi LCA, Darmaji menyebut dimulai dari keikutsertaan Arema dalam drawing. Nantinya, perwakilan Arema akan membawa beberapa dokumen. Seperti soal infrastruktur stadion, jersey, apparel dan segala sesuatu yang menyangkut Arema.
Data-data tersebut dibutuhkan karena setiap tim peserta diwajibkan melakukan presentasi soal kesiapan masing-masing menyongsong LCA, pada rangkaian acara drawing nanti.
Misi khusus juga diemban oleh rombongan perwakilan tim Singo Edan. Tidak hanya sekadar memenuhi undangan drawing saja, Sudarmadji dkk bertekad melakukan sharing dengan para perwakilan klub peserta lain. Intinya, menimba ilmu kepada tim peserta lain yang rata-rata sudah lebih professional dibanding Arema.
Menurut Sudarmadji, momen ini merupakan kesempatan berharga yang tak boleh disia-siakan. Jadi Arema bisa belajar banyak agar semakin maju dan berkembang, seperti halnya banyak klub top di daratan Asia asal Jepang, Korea Selatan atau Australia.
‘’Kita  tidak ingin hanya sekadar datang memenuhi undangan drawing. Akan kita manfaatkan untuk sharing dan belajar kepada klub peserta lainnya,’’ tutur pria yang juga dikenal sebagai dosen ini. (tom/avi/malangpost)

Lanjutkan Bustomi!

MALANG- Achmad Bustomi menjadi salah satu aktor kemenangan timnas Indonesia atas Malaysia Rabu (1/12) lalu. Dalam pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan Jakarta dan berkesudahan skor 5-1 untuk keunggulan tuan rumah, nama Bustomi tercantum sebagai penghuni barisan starter.
Tampil sejak menit awal, gelandang Arema ini membuktikan kelasnya sebagai pemain tengah kelas wahid. Pemain kelahiran 13 Juli 1985 ini turut andil atas terciptanya gol ketiga Indonesia yang dicetak M Ridwan. Kerjasama satu-dua nya dengan pemain Sriwijaya FC itu membuahkan gol cantik di menit ke-55.
Keberhasilan mengganyang Malaysia dengan skor besar, melecut semangat Bustomi untuk mengantar Merah Putih (julukan timnas) meraih kemenangan keduanya Sabtu (4/11) mendatang. Menghadapi Laos di pertandingan berikutnya, Bustomi mengaku siap diturunkan penuh sepanjang 90 menit.
“Sebagai pemain professional, saya siap diturunkan kapan pun. Yang penting urusan tim tetap nomor satu,” ungkap suami Fina Dian Sari ini ketika dihubungi Malang Post kemarin.
Harapan untuk kembali diturunkan sebagai pemain inti tetap berkecamuk di dada pemain asal Karangploso ini. Namun, Bustomi tetap tak mau berandai-andai. “Masih belum tahu. Itu tergantung pelatih. Menunggu saja perkembangan nanti. Sebagai pemain inti atau cadangan, saya tetap siap,” imbuh pemain 25 tahun ini.
Ditandemkan dengan Firman Utina sebagai kreator lini tengah, Bustomi mampu menghidupkan  permainan tim Garuda (julukan lain timnas Indonesia) berkat umpan-umpannya yang akurat serta mobilitasnya yang susah dihentikan.
“Mungkin awalnya kolaborasi saya dengan Firman Utina belum terlalu terlihat. Maklum saja, baru kali ini pertandingan resmi kejuaraan. Atmosfer ujicoba dan laga resmi benar-benar berbeda. Semoga kami bisa semakin padu sebagai motor lini tengah,” tandas mantan pemain Persema ini.
Ambisi terbesar Bustomi saat ini adalah mengantar Indonesia lolos babak penyisihan sehingga bisa melenggang mulus hingga ke partai puncak Piala AFF. Dengan begitu, mimpi merebut gelar jawara Piala AFF untuk kali pertama akan semakin mendekati kenyataan. “Saya ingin memberikan yang terbaik bagi tim. Yang terdekat, yaitu agar lolos penyisihan grup lebih dulu. Setelah itu baru berbicara juara,” tegasnya.
Menanggapi kans membekuk Laos di pertandingan kedua, Bustomi bersikap realistis. Menurutnya, tak ada kamus meremehkan lawan sebelum bertanding. “Kita tidak boleh menganggap remeh. Apalagi Laos bermain bagus saat menahan imbang Thailand yang selama ini dikenal sebagai tim kuat. Yang utama kita bermain semaksimal mungkin,” tambahnya mengomentari.
Tak lupa Bustomi meminta doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia, khususnya dari Aremania agar langkah tim Merah Putih tak terbendung hingga nanti berhasil merajai Piala AFF. “Mohon doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia. Karena kami disini membela negara dan membawa harum nama bangsa. Salam buat Aremania. Tanpa mereka, saya bukan siapa-siapa,” pungkasnya. (tom/jon/malangpost)

Jalani Recovery

MALANG-Usai menorehkan kemenangan atas tamunya, Deltras Sidoarjo dalam partai uji coba yang digelar di Stadion Gajayana Rabu (1/12) lalu, para pemain Arema menjalani program recovery pagi kemarin. Latihan ringan dilakukan Piere Njanka dkk di kawasan perumahan Araya, di bawah komando langsung head coach Miroslav Janu.
Para penggawa Singo Edan diwajibkan berlari mengitari kawasan perumahan elite itu dua kali, dengan jarak tempuh 2800 meter. Satu putaran harus bisa diselesaikan dalam waktu 12 menit. Meski baru saja melakoni pertandingan yang cukup menguras tenaga, Miro tampaknya tidak ingin fisik anak didiknya kedodoran.
Apalagi rombongan tim sudah harus bertolak ke Bali Sabtu (4/11) besok. Para penggawa tim berlogo kepala singa itu akan melahap serangkaian program pemusatan latihan alias training center (TC) di Pulau Dewata nanti. Lumrahnya, program TC ditujukan untuk mengoptimalkan kemampuan fisik para pemain.
Rona lelah terpancar dari wajah seluruh pemain. Namun tak ada satu pun yang terkendala masalah kebugaran. Mereka berhasil menyelesaikan jogging tepat pada waktunya. Piere Njanka bahkan tiba lebih dulu di depan area kolam renang Family Club Araya dengan dibonceng motor oleh Joko Susilo. Sebelumnya, kapten Arema itu memang sudah lebih dulu menyelesaikan joggig di depan rekan-rekannya. “Lumayan juga ya,” seloroh mantan pemain timnas Kamerun itu sambil menghela napas panjang.
Usai jogging, para pemain langsung menuju kolam renang. Sebagian pemain menghabiskan waktu istirahat sambil bersantai di dalam kolam. Seperti Alfarizi, Sunarto dan Aji Saka yang asyik berenang. Ada pun yang hanya berendam di tepi kolam, macam Juan Revi dan kapten Piere Njanka. Revi bahkan terus dibujuk ikut berenang oleh rekan-rekannya yang lain. “Tidak ah, di sini saja,” tolaknya malu-malu.
Sebagian besar lainnya memilih berendam di jacuzzy, tanpa berendam di kolam air dingin. Pelatih Miroslav Janu pun juga berada di jacuzzy bersama para pemainnya, macam Esteban Guilien dan M Fachruddin. Waktu istirahat juga digunakan untuk menikmati massage alias pemijatan oleh Piere Njanka dan Leonard Tupamahu.
Tak lama di area jacuzzy dan kolam renang, awak tim Singo Edan bergegas membasuh diri. Miroslav Janu tampak mengisyaratkan bahwa agenda hari itu sudah cukup dan saatnya disudahi. Sebelum pulang, seluruh pemain dan jajaran pelatih berkumpul membahas agenda keberangkatan ke Bali. Hari ini tim dijadwalkan libur latihan, untuk mempersiapkan diri berangkat ke Bali besok pagi. (tom/jon/malangpost)

Roman Cidera

MALANG- Chemelo Roman terlihat meringis kesakitan usai menjalani latihan jogging di kawasan perumahan Araya pagi kemarin. Sesampainya di kolam renang Family Club, legiun asing asal Slovakia itu buru-buru melepas sepatunya dan menemui dokter tim. Roman terlihat berkonsultasi dengan dr.Albert Rudianto.
Usut punya usut, ternyata pemain bernomor punggung sembilan itu mengeluh sakit pada kaki kirinya, tepatnya di bagian jari kelingking. Roman sendiri tidak tahu pasti mengapa jari kelingkingnya begitu terasa sakit. Seingatnya, dia mulai merasakan masalah di kelingking kaki kirinya usai bertanding melawan Deltras Rabu (1/12) lalu.
Menurut Roman, kemungkinan besar cedera itu didapatnya setelah kakinya sempat terinjak salah seorang pemain Deltras. Dalam laga uji coba lalu, Roman memang sempat beberapa kali dilanggar oleh pemain lawan. “I don’t know. Sepertinya terinjak,” komentarnya lirih.
Awalnya Roman hanya merasa sakit biasa, lumrahnya bila terinjak pemain lawan. Namun usai jogging, Roman merasa ada sesuatu yang tak beres dengan kondisi kelingkingnya itu. Kontan, dr Albert langsung menginstruksikan agar Roman segera mengkompres kakinya itu dengan es, agar cedera tak bertambah parah.
Menurut dr Albert, tidak ada masalah serius pada Roman. Tapi alangkah baiknya bila Roman segera melakukan pemeriksaan lanjutan dengan foto rontgen. Hal ini dilakukan untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kelingking kaki kiri pemain kidal itu.
“Kita belum bisa pastikan kenapa. Jadi mungkin segera di foto rontgen saja. Kalau ada yang tidak beres, biar bisa cepat ditangani lebih lanjut,” ungkap dokter tim Arema itu.
Tidak seperti rekan-rekannya yang lain, Roman kemarin tidak banyak beraktivitas di kolam renang. Gelandang serang produktif itu lebih banyak duduk di tepi kolam sembari menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Roman lebih banyak ngobrol dengan dr Albert maupun Esteban Guilien yang berada di sampingnya. (tom/jon/malangpost)

Latihan Berat di Bali

MALANG-Rombongan Arema bakal bertolak ke Bali besok (4/11) pagi. Sesuai agenda, para penggawa Singo Edan bakal melakoni training center (TC) selama satu pekan penuh. Terhitung sejak menginjakkan kaki di pulau dewata, hingga Sabtu (11/12) mendatang. Sejumlah program TC telah disiapkan oleh tim pelatih.
Awak rombongan berangkat dari mes Arema di kawasan Jalan Semeru menuju bandara Juanda Surabaya via perjalanan darat. Sebelum akhirnya pesawat yang mengangkut rombongan tim arahan pelatih Miroslav Janu take off sekitar pukul 13.00 WIB. Sesampainya di tujuan, seluruh pemain, tim pelatih dan official tampaknya tidak bisa lama bersantai. Rangkaian program pemusatan latihan telah disusun, yang tentunya menyita waktu yang padat.
Namun begitu, head coach Miroslav Janu masih bungkam soal program apa saja yang akan diberikan kepada anak asuhnya di Bali nanti. Pelatih asal Ceko itu enggan menanggapi pertanyaan terkait materi latihan timnya di pulau dewata. Janu juga tidak memberi bocoran sedikit pun kepada para pemainnya.
Menurut asisten pelatih Joko Susilo, hal itu memang sengaja dilakukan Miro. Bukan hanya kepada anak asuhnya saja, bahkan terhadap para asisten pelatihnya.
“Pelatih kepala yang lebih paham. Karena dia yang atur. Pemain juga tidak diberi tahu,” ujar mantan penyerang Arema itu kepada Malang Post usai recovery tim di Family Club Araya, pagi kemarin.
Masih menurut asisten pelatih yang akrab dipanggil Gethuk itu, program TC sengaja dirahasiakan oleh Miro karena alasan khusus. Miro tak ingin seluruh pemainnya down sebelum berlatih.
“Kalau TC ya jelas latihan fisik yang menguras stamina. Tapi supaya anak-anak tidak berpikir macam-macam sebelum mulai TC, jadi lebih baik tidak usah dirinci apa saja programnya. Supaya mereka tidak down duluan,” tandasnya.
Seluruh pemain Arema dipastikan ikut dalam TC kali ini, kecuali beberapa pilar yang masih membela timnas di ajang Piala AFF. Beberapa nama dipastikan absen dalam pemusatan latihan di Bali, yaitu Zulkifly Syukur, Benny Wahyudi, Achmad Bustomi, Yongki Aribowo serta penjaga gawang Kurnia Meiga. Plus penggawa asal Singapura, yaitu Noh Alam Shah dan M Ridhuan.
Selain seluruh pilar dari tim senior, jajaran pelatih akan mengajak serta dua penggawa dari tim U-21. Keduanya adalah Gilang Didik Permadi dan Andi Fatturochman. Mereka bakal ikut ambil bagian melakoni seluruh program TC yang diagendakan. Sama halnya pemain tim senior, baik Gilang dan Andi jelas akan digenjot fisiknya selama di Bali nanti. (tom/jon/malangpost)

Kamis, 02 Desember 2010

Foto Aremania Surabaya di Friendly match vs Deltras (Gajayana)

Spanduk pertama mampang di Gajayana

Ne depan tribun VIP gan,,upsss dua org tuh sapa yak?? :p


                        Tuh Tim kesayangan kita, but kemana ya Aremania,,Sepi ker...

LPI Mulai menyerah

MALANG - Menyadari tim Arema dengan tegas menolak gabung kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI), manajemen PT LPI tampaknya harus memutar otak untuk mendapatkan cara agar Singo Edan meninggalkan Indonesia Super League (ISL).
Salah satu cara dan bisa jadi itu adalah jurus pamungkas LPI adalah dengan menunjukkan bukti adanya kerjasama atau bukti keikutsertaan Arema di LPI yang kabarnya ditandatangani oleh Pjs Direktur Utama PT Arema Indonesia, M. Nur.
Jika mengacu pada keterangan Penasehat LPI, Dityo Pramono saat melakukan sosialisasi di Malang, satu-satunya kunci untuk membuka atau membuktikan klaim LPI bahwa Arema sudah gabung LPI itu adalah dengan menunjukkan perjanjian tersebut.
Pasca sosialiasi sekaligus dialog Aremania, Kamis (25/11) lalu itu, Dityo berjanji akan membuka seluas-luasnya terkait perjanjian itu. Meski menurutnya, yang berhak menyampaikan isi perjanjian itu adalah Wijayanto, Direktur Utama PT LPI.
Rencana LPI menujukkan bukti perjanjian LPI-Arema, seperti yang diinginkan Aremania itu setelah M. Nur tak bisa dikonfirmasi. Padahal menurut Dityo, Dirut yang kabarnya sudah non aktif itu harusnya berkewajiban mensosialisasikannya.
Namun rupanya, LPI hanya gertak sambal untuk segera membeberkan adanya bukti keikutsertaan Arema di LPI. Terbukti hingga satu minggu usai Dityo menyampaikan janjinya, LPI tak juga menujukkan bukti tersebut.
’’Kita kembalikan ke komitmen semula dari perjanjian itu, bahwa Arema yang akan mensosialisasikannya. Kejar saja bukti perjanjian itu ke Direksi Arema, karena Arema sudah buat komitmen itu,’’ ungkap Dityo kepada Malang Post, kemarin.
’’Sebenarnya ini bukan masalah LPI, tapi ini sudah menjadi kewajiban Arema,’’ sambung Dityo yang memastikan bahwa dalam perjanjian itu, dari kubu Arema adalah M. Nur yang tanda tangan, sedangkan dari LPI adalah Wijayanto.
Menariknya, baik M. Nur maupun pria yang akrab disapa Wija itu sama-sama tak bisa dikonfirmasi. Keduanya tak bisa dihubungi melalui telpon genggam mereka. Baik M. Nur dan Wija memilih tak mengangkat telpon dari Malang Post.
Kabarnya Wija yang adalah perwakilan dari Konsorsium LPI memang selalu pilih-pilih dalam memberikan keterangan pers. Sedangkan M. Nur yang juga Ketua Yayasan Arema ini menurut informasi memang sedang ‘diistirahatkan’.
Padahal, saat deklarasi LPI di Semarang beberapa waktu lalu, ketika giliran Arema dipanggil, justru yang mewakili adalah Wijayanto. Karena saat itu, tak ada perwakilan Arema yang datang.
’’Mengenai Arema di LPI, coba tanya Pak Dityo,’’ demikian ungkap Arya Abiseka, Manajer LPI saat dikonfirmasi perihal perkembangan LPI dan Arema. Boleh jadi, pengurus LPI sudah mulai melupakan Arema untuk tampil di kompetisi yang tak direstui PSSI itu.
Sementara itu manajemen Arema tetap pada komitmennya untuk konsentrasi di ISL. Meski Aremania juga sempat menuntut pertanggungjawaban yayasan Arema perihal tersangkutnya Arema di LPI, serta meminta penjelasan dari manajemen Arema.
’’Tuntutan Aremania itu sudah kita sampaikan pada Yayasan, dan terlepas manajemen Arema, dalam hal ini Pak Nur disebut-sebut menandatangani perjanjian dengan LPI itu, kita sudah berkomitmen untuk tidak ikut LPI dan tetap di ISL,’’ yakin manajer media officer Arema, Sudarmaji.

Minta Pengurus Bayar Gaji Pemain

MALANG-Ada pemandangan berbeda di tribun timur Stadion Gajayana saat laga uji coba Arema menghadapi Deltras Sidoarjo, kemarin sore. Terdapat dua spanduk, pertama bertuliskan ‘Aremania tolak LPI’, dan kedua bertuliskan ‘Pengurus, bayar gaji pemain. Jangan makan hak pemain.”
Usai babak pertama, spanduk tersebut diarak oleh beberapa Aremania keliling lapangan, sebelum akhirnya ditempatkan di tribun barat. Praktis, aksi Aremania ini mengundang perhatian Aremania yang lain, termasuk pemain, official tim dan pengurus Arema.
“Terus terang, kita sempat bertemu pemain, kasihan mereka, karena gajinya belum dibayar semua. Bahkan pemain harus cari hutangan, sekarang bagaimana tanggung jawab pengurus,” ungkap Amin, Aremania Korwil Sukorejo yang membawa spanduk tersebut.
“Kita usulkan agar hasil laga uji coba lawan Deltras ini untuk membayar gaji pemain, daripada untuk TC di Bali, karena kita khawatir kalau pemain akhirnya tampil ogah-ogahan kalau gaji mereka belum dibayarkan oleh pengurus Arema,” sambungnya.
Sementara itu pengurus Arema, diwakili Ketua Panpel Arema, Abriadi Muhara memastikan hasil laga uji coba kemarin sore tidak sepenuhnya untuk biaya Arema TC atau pemusatan latihan selama di Bali, 4-11 Desember ini.
“Program TC ini harus jalan, dan sudah lama kita persiapkan, dari hasil laga uji coba ini mungkin bisa untuk tambah kekuarangan biayanya. Insyallah bisa terpenuhi untuk biaya TC,” sebut Abriadi hingga usai pertandingan pemasukan panpel masih dihitung.
“Untuk soal gaji pemain, sudah saya sampaikan ke pemain, bahwa awal Desember nanti, sekitar tanggal 1 sampai 10 Desember nanti, kita akan bayar lagi gaji pemain dari dana sponsorship,” sambung pria yang juga sebagai pelaksana harian PT Arema Indonesia ini.
Abriadi pun meyakinkan, saat ini manajemen Arema sudah berusaha untuk terbuka, khususnya pada Aremania. Terbukti manajemen mau membeberkan kondisi keuangan Arema yang minus Rp 7 miliar lebih per 1 November kemarin.
“Kita sudah terbuka, kita sampaikan bahwa awal November lalu keuangan kita minus Rp 7 miliar lebih, dan satu minggu lalu, sudah ada perkembangan bahwa kondisi keuangan tinggal minus Rp 5 miliar lebih, besok kita akan lihat perkembangannya lagi,” yakin Abriadi.
Harapannya dengan bantuan Aremania, termasuk datang memadati Stadion Gajayana saat laga uji coba Arema kemarin sore, bisa terus mengurangi defisit keuangan Arema. “Untuk hasil sore ini dari sekitar 11 ribu penonton yang datang, diperkirakan kita dapat pemasukan Rp 100 juta,” jelasnya

Asal Usul Nama Arema

Asal Usul Nama Arema

Konon nama Arema, kali pertamanya muncul dalam legenda kidung Harsawijaya yang menuliskan kisah sepak terjang Patih Kebo Arema saat Kerajaan Singosari diperintah Raja Kertanegara. Singosari kini menjadi salah satu nama kecamatan di wilayah Kabupaten Malang.

Patih Kebo Arema, merupakan abdi kerajaan Raja Kertanegara yang menumpas pemberontakan Kelana Bhayangkara, seperti tertuang dalam tulisan kidung Panji Wijayakrama, termasuk menghancurleburkan upaya pemberontakan Cayaraja seperti ditulis dalam Kitab Negarakertagama.

Patih Kebo Arema, juga berperan aktif dalam perluasan wilayah Raja Kertanegara, bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema berhasil menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi Sumatera Selatan, termasuk berhasil menguasai Selat Malaka. Sayang, sejarah tentang semangat Kebo Arema tidak terdokumentasi dengan apik.

Dekade tahun 80-an, kembali muncul trend sebutan kebanggaan nama Arema. Sampai saat ini, belum diketahui asal usul nama tersebut, juga apakah menurut sejarah Kebo Arema. Namun, Arema seakan saat itu menjadi identitas, yang merupakan kepanjangan singkatan dari Arek Malang. Nama Arema dalam perjalanannya hingga kini, menjadi ikon atau identitas bersama masyarakat Malang Raya.

Sejarah Arema

Arema Indonesia adalah sebuah klub sepak bola yang berada di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Arema didirikan pada 11 Agustus 1987, Arema mempunyai julukan "Singo Edan" . Mereka bermain di Stadion Kanjuruhan dan Stadion Gajayana. Arema Indonesia memiliki suporter atau fans tim berjuluk Aremania. Aremania tidak hanya berada di wilayah Malang Raya, tapi sudah menyebar di Indonesia dan dunia. Mereka memiliki fanatisme dan loyalitas yang tinggi dalam memberikan motivasi kepada timnya. Aremania juga menjadi bagian penting sebagai media berpromosi, sekaligus potensi pengembangan bisnis. Aremania juga menjunjung tinggi sportifitas, hingga dinobatkan sebagai kelompok supporter terbaik di Indonesia oleh PSSI ( Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia).

Pendiri Arema adalah almarhum Mayjen TNI ( Purn) Acub Zainal, seorang jenderal yang kebetulan menjabat pengurus administrator Galatama dan Ketua III PSSI era Ketua Umum Syarnubi Said. Acub tertarik mendirikan sebuah klub, setelah bertemu dengan Ovan Tobing, Humas Persema ( Persatuan Sepakbola Malang) – klub sepak bola yang dibiayai Pemerintah Kota Malang, untuk menonton laga Persema lawan Perseden Denpasar era tahun 80-an di Stadion Gajayana. Penonton saat itu memenuhi tempat duduk Stadion Gajayana Malang. Melihat antusiasme penonton, Acub minta Ovan Tobing mendirikan sebuah klub bola.

Bersama putera Sang Jenderal, Lucky Acub Zainal, Ovan Tobing serius mendirikannya. Untuk mendapatkan sejumlah pemain, keduanya bertemu dengan Dirk “Derek” Sutrisno (Alm), pendiri klub Armada ‘ 86, sebuah klub sepak bola lokal yang kebetulan sedang dihimpit kesulitan dana, namun memiliki sejumlah pemain yang cukup tangguh. Lantas, Acub Zainal bersama putranya mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58. Dari pendirian bulan Agustus itu muncul ide membuat logo tim, dipilihlah simbol Singa yang identik dengan Leo sesuai horoscop bulan kelahirannya