Jumat, 20 Mei 2011

Pulihkan Cedera Untuk Timnas

PAKIS – Striker Arema Indonesia, Dendi Santoso untuk sementara tersisih dari program pelatnas Timnas U-23 SEA Games 2011 sejak Senin (10/5) lalu. Pemain jebolan Akademi Arema ini terdeteksi masih terbelit masalah cedera pada engkel kaki kanannya. Data itu dikantongi Badan Tim Nasional (BTN) usai menerapkan tes kesehatan bagi seluruh pemain yang masuk daftar panggil.
Dendi harus meninggalkan geberan program pelatnas jelang persiapan tampil di SEA Games 2011. Tak terkecuali, saat tim asuhan pelatih Rahmad Darmawan ini menghelat program character building di Pusat Pendidikan dan Latihan Komando Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, sejak 10 Mei lalu. Program ini untuk pembentukan mental dan jiwa nasionalisme kuat bagi pemain.
‘’Benar, saya tidak ikut di pelatnas timnas. Saya masih ada cedera engkel, dan itu terdeteksi setelah tes kesehatan di timnas. Jadi sebelum program character building itu dimulai, saya terpaksa kembali ke Malang lagi. Saat ini, kondisi cederaku sudah lumayan baik,” aku Dendi Santoso kepada Malang Post disela-sela menjalani latihan tim di Lapangan Abdulrahman Saleh Pakis, sore kemarin.
Meski demikian, peluang pemain bernomor punggung 41 Arema ini bergabung timnas masih terbuka lebar. Pasalnya, BTN dan tim pelatih timnas masih mengharapkannya bergabung di pelatnas. Hanya saja, jika cedera engkel yang dialami Dendi tersebut sudah benar pulih. Dengan begitu, Dendi terbuka lebar meneruskan labelnya sebagai pemain langganan timnas U-23.
Dendi lantas menyebut, dirinya sedianya diminta BTN dan tim pelatih timnas untuk menyusul gabung pada 23 Mei nanti. Tentunya, dia sepertinya bakal langsung masuk program latihan timnas setelah amunisi pelatnas sudah diciutkan menjadi 23 pemain, dari sebelumnya 40 pemain.
Itupun, tepat pelatnas di Batujajar ini sudah berakhir, lantaran sedianya tuntas hingga 21 Mei mendatang. Padahal, tenaga Dendi tentunya sangat diharapkan Arema saat menjamu Deltras Sidoarjo, 29 Mei nanti. ‘’Tanggal 23 nanti, saya balik gabung timnas lagi. Jadi, saya disarankan untuk lakukan pemulihan cedera dulu,” pungkasnya. (poy/bua)

Arema Diwakili Siti dan Nur

JAKARTA – Teka teki siapa wakil Arema dalam Kongres PSSI di Hotel Sultan Jakarta, hari Jumat ini, akhirnya terjawab tadi malam. Komite Normalisasi  telah menunjuk dan merekomendasikan Siti Nurzanah (Direktur PT Arema Indonesia) dan HM Nur (Ketua Yayasan dan Pjs Direktur Utama PT Arema Indonesia) sebagai pemilik suara Arema dalam Kongres PSSI ini.
‘’Tidak ada masalah berkaitan dengan  keputusan ditunjuknya dua pengurus Arema sebagai pemilik suara dalam Kongres kali ini,’’ tegas Ahmad Riyadh, Ketua Komite Banding kepada Malang Post di Hotel Sultan.
Pelaksanaan Kongres yang diikuti ratusan peserta hari ini dikhawatirkan berlangsung ricuh dan menemui jalan buntu. Apalagi,hingga tadi malam, santer beredar kabar mengenai kemungkinan keterlibatan pihak  tertentu  untuk mengcounter sikap Komite Normalisasi yang tetap menolak kehadiran George Toisutta dan Arifin Panigoro. Sedangkan kelompok 78 juga terus melakukan pemetaan baik di seputar arena Kongres maupun di sebuah hotel.
Sementara itu, rapat pemilik suara hingga berita ini diturunkan pukul 21.30 masih belum selesai. Karena  suara dari  beberapa perwakilan baik pengurus Pengprov maupun klub-klub ISL dan divisi utama belum seperti yang diharapkan.Bahkan peserta rapat juga banyak menyoroti keputusan Komite Normalisasi (KN) jika tidak memberi kesempatan George Toisutta dan Arifin Panigoro ikut pencalonan Kongres PSSI.
Disisi lain, pewakilan dari klub  juga banyak melakukan pergantian pengurus yang berhak mengikuti Kongres selama sehari ini. Misalnya perwakilan Deltras Sidoarjo  Saiful Illah yang  ditambah satu pengurus lagi yaitu M.Djamil.  (hms/nug)

Rabu, 18 Mei 2011

Maksimalkan Tiket Home

MALANGPOST–Manajemen Arema terus mencari solusi untuk menyelesaikan tanggungan pembayaran gaji pemain. Mereka bertekad kewajibannya atas 2,5 bulan gaji pemain bisa tertuntaskan sebelum kompetisi Indonesia Super Liga (ISL) berakhir. Arema sendiri kini tinggal menyisakan lima pertandingan lagi yang sedianya tuntas seiring memasuki tengah Juli mendatang.
Potensi menggali dana besar pun coba terus dilakukan manajemen Singo Edan. Yang paling kongkrit, mereka memproyeksikan bisa memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket empat laga home Arema kedepan. Yakni, saat lawan Deltras Sidoarjo (29/5), Persela Lamongan, Persisam Samarinda (15/6) dan Bontang PKT (19/6). Tentunya, mereka berharap dukungan penuh Aremania, komunitas supporter fanatik Arema.
‘’Ya, kami berharap dukungan penuh Aremania. Karena proyeksi kami, empat laga home terakhir Arema di ISL itu bisa dimaksimalkan manajemen untuk selesaikan kwajiban pembayaran gaji pemain. Utamanya, untuk 2,5 bulan gaji yang terlambat,” ujar Abriadi Muhara, Manajer tim Arema Indonesia kepada Malang Post, kemarin.
Lebih lanjut, lelaki yang juga menjabat Ketua Panpel Arema ini mengidamkan, Aremania bisa memadati seluruh jengkal tribun Stadion Kanjuruhan Kepanjen saat laga home. Pihaknya pun berharap penjualan tiket yang sebanyak-banyaknya, alias bisa menuju angka Rp 1 Miliar. Pasalnya, kubu Arema sangat menanti dukungan penuh Aremania untuk ikut membantu menyelesaikan masalah krisis financial yang sedang melanda tubuh tim.
Setidaknya, pemandangan sepi penonton seperti saat tim menjamu Cerezo Osaka Jepang pada laga home terakhir tim di penyisihan Grup G AFC Champions League (LCA), 24 April lalu. Kala itu, penonton yang hadir langsung ke stadion berjumlah 3.112 penonton. Itupun sudah termasuk 1300 supporter Cerezo Osaka, yang mengatasnamakan Real Osaka Ultras baik asli dari Jepang dan karyawan Yanmar di Indonesia, perusahaan yang memiliki saham terbesar kepemilikan Cerezo. Dengan begitu, Aremania hanya berjumlah 1.812.
‘’Kami rasa, Aremania juga mengetahui dan memahami kondisi yang dialami Arema saat ini. Jadi, kedatangan Arema sangat kami nantikan di empat pertandingan home itu, kalau bisa stadion bisa penuh. Hasil pendapatan tiket di semua laga ini diharapkan bisa menutup seluruh biaya pembayaran gaji pemain,” pungkas Abriadi sembari berharap. (poy/jon) 

Nirwan Bakrie : Saya Ingin Selamatkan Arema

SURABAYA,MalangPost - Keseriusan PT Arema Indonesia menjual klub Arema Indonesia, patut dipertanyakan. Pasalnya, sampai Selasa kemarin, Nirwan Dermawan Bakrie sebagai salah satu investor belum mengetahui persis seluk beluk rencana penjualan Arema. Padahal, secara bisnis Nirwan siap mengucurkan dana yang dibutuhkan manajemen.
Hal di atas disampaikan Nirwan Bakrie kepada Malang Post, melalui saluran telepon, Selasa sore. ‘’Bagaimana caranya kalau saya ingin menyelamatkan Arema. Lewat pintu mana,’’ ujarnya bernada tanya.
Secara implisit, anak ketiga dari keluarga Achmad Bakrie ini, memang tidak menyebutkan berapa rupiah yang telah disediakan untuk menyelamatkan Arema. Tetapi, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1959 ini, benar-benar ingin mengetahui berapa rupiah tahap awal harus dikucurkan.
‘’Kita mo lihat dulu, berapa dana awal yang dibutuhkan manajemen. Apakah harus melalui beberapa tahap, apa harus langsung sesuai kebutuhan,’’ kata Nirwan, yang sebelumnya telah mengucuri Arema senilai Rp 2,5 miliar melalui Surabaya Post, Surabaya.
Selain mempertanyakan soal finansial, Nirwan rupanya juga belum mengetahui persis model manajemen yang diterapkan Arema. Artinya, jika pendiri klub sepakbola Pelita Jaya ini hendak melakukan transaksi, uang tersebut harus diserahkan ke siapa. Karena, klub Arema sepengetahuan dia pemiliknya banyak sekali.
‘’Sekali lagi, harus lewat pintu mana, kalau Arema mau saya selamatkan. Lantas siapa orang yang paling menentukan dalam persoalan jual beli atau pengambilalihan Arema. Ini mesti jelas,’’ ucap Nirwan, yang juga adik ketiga Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Menurut Nirwan, pihaknya sangat ingin menyelamatkan Arema dari keterpurukan sekarang ini.  Bagi Nirwan, klub sekelas Arema sangat disayangkan kalau terus menerus berdiri dalam keadaan tidak menentu. ‘’Penyelematan. Itu dulu yang perlu didahulukan. Jangan bicara yang lain,’’ ujarnya, yang ketika dihubungi tengah berada di kantornya.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Nirwan menyatakan, akan mengambil inisiatif untuk mencari dan menemui Rendra Kresna. Dan jika tidak ada halangan, kemungkinan Jumat, 20 Mei mendatang, pihaknya akan bertemu Rendra di acara Kongres PSSI di Sutan Hotel, Jakarta.
‘’Kalau memang dia (Rendra) mengetahui persis persoalan Arema sekarang dan ke depan, maka saya akan bicara dengannya. Saya mau tahu Arema secara detail dan mendalam, sebelum saya benar-benar mengambil langkah masuk Arema,’’ tuturnya bersemangat.
Terpisah, Presiden Kehormatan Arema, Rendra Kresna menyebut, untuk tahap awal, Arema bunuh dana segar minimal Rp 10 miliar. Dana itu untuk menutupi hutang pajak, gaji pemain dan gaji pelatih.
‘’Tahap awal, kita butuh minim Rp 10 miliar dulu. Karena, beban hutang yang sifatnya immediately (segera) tidak bisa ditunda-tunda lagi. Begitu ada uang, langsung kita bayar,’’ tandas Rendra Kresna.
Secara panjang lebar, Rendra yang ketika dihubungi tengah sibuk mengikuti Rapat Kerja Nasional SOKSI Indonesia di Medan, lantas menjlentrehkan rencananya menjual Arema ke investor. Dari penjelasannya itu pula, sangat diyakini kalau penyelamatan Arema tidak mungkin ditunda-tunda lagi.
Dikatakan Rendra, jika Nirwan Bakrie hendak mengambil Arema maka tidak ada jalan lain kecuali membeli 93 saham PT Arema Indonesia, yang kini dikuasai Yayasan Arema. Sedang tujuh persen sisa saham yang ada tidak mungkin dijual, karena bukan milik Yayasan Arema melainkan milik Lucky Acub Zainal.
‘’Saham itu milik mas Lucky sebagai saham kehormatan. Karena itu, yang bisa dijual hanya saham milik yayasan. Dan berapa harganya, tergantung bagaimana negoisasi antara yayasan dengan calon investor. Bisa Rp 20 miliar atau bisa juga Rp 30 miliar,’’ ujar Rendra.
Meski pintu masuk menguasai Arema melalui yayasan, kata Rendra, investor berhak mengatur dan menempatkan orang-orangnya di PT Arema Indonesia. Artinya, membeli saham yayasan sama artinya dengan membeli PT Arema Indonesia.
‘’Silakan, kalau harga sudah sepakat dan dananya sudah masuk, kepengurusan sepenuhnya ada di tangan investor baru,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini, secara organisatoris di tubuh Arema telah terbentuk Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia. Pembentukan PT Arema Indonesia tidak lain sebagai alat bisnis Yayasan Arema, yang bersifat nirlaba.
‘’Yayasan dibentuk sifatnya non profit. Agar yayasan tetap bisa jalan dan tidak menyalahi hukum maka dibentuklah PT Arema. Dan yang bisa menghentikan dan mengangkat pengurus yayasan adalah Dewan Pembina,’’ kata Rendra, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang ini.
Ditanya soal peluang Nirwan Bakrie masuk ke Arema, lelaki yang juga bupati Malang periode 2010-2015 ini menyebutkan, kelompok Bakrie Grup adalah perusahaan pertama yang harus diberi kesempatan pertama melakukan penawaran, bahkan bisa memiliki Arema.
Alasannya, karena Bakrie selama ini telah berbuat banyak untuk Arema agar tetap bisa berkompetisi di Indonesia Super Liga. Tetapi, secara resmi, Bakrie memang belum menyatakan menawar atau ingin membeli Arema.
‘’Sampai sekarang saya masih menunggu keseriusan beliau (Nirwan Bakrie). Karena, Bakrie harus didahulukan untuk menawar Arema,’’ pungkas Rendra dengan tetap tidak mau menyebutkan berapa harga jual Arema yang sebenarnya. (has/avi)