MALANG - Tantangan terbuka disampaikan Ketua Yayasan Arema, Muhammad Nur kepada investor yang ingin menanamkan modalnya di Arema. Khususnya jika investor itu ingin masuk ke Arema dengan syarat M. Nur harus keluar, maka mantan Sekkota Malang ini mengaku siap mundur.
M. Nur meyakinkan tidak ada syarat lain, kecuali investor tersebut menyelesaikan semua utang-utang Arema, diantaranya utang gaji, utang pada Bank Saudara, utang pada hotel dan utang-utang yang lain. Menurutnya, jika semua utang itu bisa dibayar, maka M. Nur siap mundur.
Kebetulan salah satu investor yang disebut-sebut berminat untuk mengambil alih pengelolaan Arema itu dari Bakrie Grup. Seperti yang disampaikan Nirwan Bakrie beberapa waktu lalu, pihaknya siap mengucurkan dana untuk Arema dengan syarat adanya perubahan manajemen Arema.
Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda Bakrie bakal serius untuk masuk dan mengambil alih pengelolaan Arema. Bahkan melalui Andi Darussalam Tabusala sebagai salah satu orang kepercayaan Bakrie Grup, perusahaan yang peduli pada sepakbola ini merespon dingin ‘tantangan’ M. Nur.
‘’Senin, kita baru bicara,’’ singkat Andi Darussalam saat dikonfirmasi Malang Post perihal rencana masuknya Bakrie. Diperkirakan Bakrie masih menunggu keseriusan pengurus Arema untuk melakukan pembenahan, khususnya setelah Rendra Kresna dan Iwan Kurniawan diangkat sebagai Pembina Yayasan.
Terlepas Bakrie belum memberikan sikap tegas untuk masuk dan mengelola Arema, menurut manajemen Arema, para investor menyambut baik pertemuan antara pemain dan pengurus Yayasan, Kamis (2/5) kemarin. Sekalipun dalam pertemuan itu sebenarnya belum memecahkan masalah Arema.
‘’Ya, investor menyambut baik pertemuan antara pemain dan pengurus Yayasan, dan berharap secepatnya pekan depan serius melakukan perubahan yayasan, serta pengisian kekosongan posisi di Yayasan, jangka pendek terpenting menyelamatkan Arema,’’ terang manajer media officer Arema, Sudarmaji.
‘’Terutama sebelum kompetisi berakhir, baru berikutnya menginjak persoalan audit dan penataan roda organisasi. Bila struktur Yayasn dan Direksi (PT Arema Indonesia) bisa segera terisi dan dilegalkan, keinginan untuk mengurangi beban hutang Arema sekitar Rp 10 miliar akan mendapatkan solusi,’’ lanjutnya.
Sementara itu, pelatih Arema, Miroslav Janu berharap dan cukup yakin, Bakrie bakal masuk untuk menyelamatkan tim Arema. Meski juga belum ada garansi, lantaran M. Nur memberi syarat cukup berat yaitu harus menanggung semua hutang Arema musim ini yang total mencapai sekitar Rp 10 miliar.
‘’Saya rasa Bakrie akan masuk, lihat nanti. Tapi ada Pak Nur atau tidak ada Pak Nur, kita harus mendapat hak kita. Kalau perlu pengurus ambil utang ke bank untuk bayar gaji kita. Sekarang tinggal dua minggu lagi, waktu cepat sekali,’’ ungkap Miro yang akan mengakhiri kompetisi Indonesia Super League, per 19 Juni nanti.
‘’Saya tidak percaya Pak Nur akan kembali menemui kita, sekarang dimana dia mau dapat uang. Kalau ada Pak Nur, siapa yang akan memberi utang, tapi kalau bosnya Pak Rendra, dia bisa garansi untuk cari hutang. Tidak mungkin Pak Nur akan cari utang untuk gaji. Bisa seperi musim lalu, tidak mau bayar lagi,’’ sambung pelatih asal Republik Ceko ini kemarin sore. (bua)
Sabtu, 04 Juni 2011
Aremania Sambut LA Mania
MALANG – Sejauhmana loyalitas dan dukungan Aremania akan diuji di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, malam ini. Tepat, saat tim kesayangannya, Arema Indonesia ditantang tamunya Persela Lamongan dalam lanjutan kompetisi Indonesia Super Liga (ISL). Pasalnya, LA Mania yang notabene komunitas supporter fanatik Persela bersiap memberikan dukungan penuh Fabiano Beltrame dkk dari kandang singa.
Sebanyak 500 supporter dari LA Mania secara resmi melalui perwakilannya memastikan akan hadir di Stadion Kanjuruhan. Peryataan ini seperti yang diterima perwakilan korwil Aremania yang kemudian langsung disampaikan ke pihak Panpel Arema Indonesia. Namun, LA Mania mengisyaratkan, jumlah tersebut masih bisa saja bertambah lagi. Kepastian total jumlahnya baru akan diketahui pada hari H pertandingan.
‘’LA Mania positif hadir ke Malang untuk memberikan dukungan langsung kepada tim kesayangannya, Persela di Stadion Kanjuruhan. Hingga kontak terakhir, sebanyak 500 supporter dari LA Mania yang sudah terkoordinir pastikan ke Malang,” terang Tembel, Aremania korwil Stasiun Kotabaru kepada Malang Post, sore kemarin.
Walhasil, Aremania dan LA Mania yang selama ini memiliki hubungan baik tentunya akan saling bersaing dalam mendukung tim kesayangannya masing-masing. Rencananya, LA Mania akan ditempatkan di sektor selatan. Dengan demikian, Aremania tentunya tidak boleh kalah dan harus membuktikan mampu membirukan stadion. Paling tidak, pemandangan tribun penonton yang tak penuh seperti saat Arema menjamu Deltras Sidoarjo, 29 Mei lalu, tidak sampai terulang.
Abriadi Muhara, Ketua Panpel Arema berharap, Aremania bisa memadati Stadion Kanjuruhan seperti saat Singo Edan menjamu Persija Jakarta dan Persipura Jayapura. Belum lagi, Aremania tentunya memahami, Arema sangat berharap pemasukkan maksimal dari hasil penjualan tiket laga home untuk membantu mengatasi masalah krisis financial tim. Salah satunya, adalah pembayaran gaji pemain.
‘’Sesuai komitmen manajemen, hasil pendapatan penjualan tiket dari empat home terakhir Aremaakan dimaksimalkan untuk pembayaran gaji pemain. Hanya saja, saat lawan Deltras kemarin, hasilnya tidak cukup untuk pembayaran sekali gaji dan hanya cukup untuk bonus pemain, senilai Rp 230 juta, dan hanya sisa satu juta,” terang Abriadi sekaligus menjabat sebagai Manajer Arema Indonesia, terpisah. (poy/bua)
Sebanyak 500 supporter dari LA Mania secara resmi melalui perwakilannya memastikan akan hadir di Stadion Kanjuruhan. Peryataan ini seperti yang diterima perwakilan korwil Aremania yang kemudian langsung disampaikan ke pihak Panpel Arema Indonesia. Namun, LA Mania mengisyaratkan, jumlah tersebut masih bisa saja bertambah lagi. Kepastian total jumlahnya baru akan diketahui pada hari H pertandingan.
‘’LA Mania positif hadir ke Malang untuk memberikan dukungan langsung kepada tim kesayangannya, Persela di Stadion Kanjuruhan. Hingga kontak terakhir, sebanyak 500 supporter dari LA Mania yang sudah terkoordinir pastikan ke Malang,” terang Tembel, Aremania korwil Stasiun Kotabaru kepada Malang Post, sore kemarin.
Walhasil, Aremania dan LA Mania yang selama ini memiliki hubungan baik tentunya akan saling bersaing dalam mendukung tim kesayangannya masing-masing. Rencananya, LA Mania akan ditempatkan di sektor selatan. Dengan demikian, Aremania tentunya tidak boleh kalah dan harus membuktikan mampu membirukan stadion. Paling tidak, pemandangan tribun penonton yang tak penuh seperti saat Arema menjamu Deltras Sidoarjo, 29 Mei lalu, tidak sampai terulang.
Abriadi Muhara, Ketua Panpel Arema berharap, Aremania bisa memadati Stadion Kanjuruhan seperti saat Singo Edan menjamu Persija Jakarta dan Persipura Jayapura. Belum lagi, Aremania tentunya memahami, Arema sangat berharap pemasukkan maksimal dari hasil penjualan tiket laga home untuk membantu mengatasi masalah krisis financial tim. Salah satunya, adalah pembayaran gaji pemain.
‘’Sesuai komitmen manajemen, hasil pendapatan penjualan tiket dari empat home terakhir Aremaakan dimaksimalkan untuk pembayaran gaji pemain. Hanya saja, saat lawan Deltras kemarin, hasilnya tidak cukup untuk pembayaran sekali gaji dan hanya cukup untuk bonus pemain, senilai Rp 230 juta, dan hanya sisa satu juta,” terang Abriadi sekaligus menjabat sebagai Manajer Arema Indonesia, terpisah. (poy/bua)
Jumat, 03 Juni 2011
Aremania Desak M. Nur Mundur
MALANG-Ketua Yayasan Arema, Muhammad Nur bersikukuh tidak mau mundur dari posisinya. Kecuali ada investor yang siap masuk mengelola Arema dan memberi syarat dirinya harus mundur, maka M. Nur mengaku siap mundur.
Tapi jika tidak ada persyaratan harus mundur, maka mantan Sekda Kota Malang ini tidak ada niatan untuk mundur. Posisinya sebagai ketua Yayasan, menurut M. Nur diserahkan pada keputusan Dewan Pembina Yayasan Arema.
Sedangkan jika ada kemungkinan terburuk tidak ada investor yang masuk lantaran M. Nur tidak mundur, Ketua Yayasan yang hampir sembilan bulan tak menemui tim Arema meyakinkan bahwa investor untuk Arema tetap ada.
Sayang, M. Nur tak menjelaskan investor yang akan masuk atau berminat untuk membiayai Arema tersebut. Sementara pemain, pelatih Arema dan Aremania sudah terlanjur meragukan keterangan M. Nur perihal adanya investor.
“Menurut Pak Nur, investor yang akan masuk itu harus menanggung semua hutang-hutang Arema, dan Pak Nur belum mau mundur sebelum investor menyelesaikan semua hutang itu, mana bisa ada titik temu,” ungka Iin, Aremania Dinoyo.
“Kalau nanti ternyata tidak ada investor, terus Pak Nur menjanjikan investor, siapa investor itu harus jelas, sampai sekarang. Kalu begini terus, berarti Pak Nur memang ingin terus bertahan di Arema,” sambungnya.
M. Nur sebenarnya menginginkan ada waktu khusus untuk pertemuan dengan Aremania, namun terlanjur jadi satu dengan pertemuan pemain dan pelatih. Aremania merasa sebagai satu kesatuan dengan tim Arema.
Untuk itu, seperti halnya pemain dan pelatih, Aremania menuntut M. Nur mundur sebagai bentuk pertanggung jawabannya lantaran selama ini tak pernah muncul untuk mengurus dan memperhatian persoalan tim Arema.
“Manajemen Arema harus dirombak, saya tahu kondisi manajemen Arema, kalau pun Pk Nur mundur, juga belum tentu investor masuk, manajemen Arema harus diaudit, dan kuncinya adalah Pak Nur harus mundur,” tegas H. Selamet, Aremania Tongan.
Kekhawatiran Arema, begitupun pemain dan pelatih Arema adalah jika ternyata investor itu mau masuk jika M. Nur mundur. Sehingga Aremania mendesak agar M. Nur mundur, meski mantan manajer Persema ini bersikeras tak mau langsung mundur.
“Kita Aremania sudah resah dengan kondisi tim Arema ini, saya minta Pak Nur untuk mundur saja, sederhana saja, sekarang saja katakan mau mundur, karena Pak Nur itu sulit dicari,” ungkap Tembel alias Ponidi, Aremania korwil Stasiun.
Namun tekanan demi tekanan ini mentah, lantaran M. Nur tetap pada pendiriannya, mau mundur jika memang ada investor yang masuk dan menginginkannya untuk mundur dari posisinya sebagai Ketua Yayasan.
Bagaimana jika tak ada investor, atau ada investor yang tak memberikan syarat M. Nur harus mundur? “Saya terserah Dewan Pembina Yayasan, bisa tetap di Arema, atau tidak di Arema, yang penting Arema tetap eksis,” jawab M. Nur.
Pada dasarnya pria yang juga menjabat Pjs Direktur Utama PT Arema Indonesia meyakinkan bahwa dirinya siap mundur demi Aremania. Meski dari pertemuan tersebut, M. Nur belum secara resmi menyatakn mundur, karena menunggu kepastian investor.
Menariknya, Pembina Yayasan Arema yang baru, Rendra Kresna mengaku nasib M. Nur sepenuhnya diserahkan pada Pengawas Yayasan. Dalam hal ini, Bambang Winarno, Pengawas Yayasan yang dianggap masih sebagai pemegang kebijakan tertinggi.
Menyusul Rendra Kresna masih belum secara resmi menjabat sebagai Pembina Yayasan. “Untuk kepastian posisi Pak Nur, saat ini Pengawas Yayasan yang menentukan,” terang Rendra menjawab statemen M. Nur terkait nasibnya ditangan Pembina Yayasan.
Bambang Winarno sendiri saat dikonfirmasi Malang Post mengaku masih belum mengambil keputusan apa pun. Meski desakan M. Nur mundur sebenarnya cukup kuat, baik dari pemain, pelatih dan Aremania, terkait dengan rencana masuknya investor ke Arema.
“Maaf, kami sedang koordinasi dengan seluruh stakeholder Arema. Selain itu sikap Pak nur juga kami tunggu, agar kami bisa mengambil keputusan terbaik,” yakin Bambang Winarno, kemarin sore. Dan atas konfirmasi ini, Aremania pun untuk sementara memilih untuk menunggu.
“Ya, kalau begitu kita akan menunggu perkembangan selanjutnya, yang pasti kita minta Pak Nur mundur, itu demi menyelamatkan tim Arema,” pungkas Tembel yang sempat merencanakan aksi demo besar-besar untuk menuntut M. Nur bertanggung jawab dan mundur dari Arema. (bua)
Tapi jika tidak ada persyaratan harus mundur, maka mantan Sekda Kota Malang ini tidak ada niatan untuk mundur. Posisinya sebagai ketua Yayasan, menurut M. Nur diserahkan pada keputusan Dewan Pembina Yayasan Arema.
Sedangkan jika ada kemungkinan terburuk tidak ada investor yang masuk lantaran M. Nur tidak mundur, Ketua Yayasan yang hampir sembilan bulan tak menemui tim Arema meyakinkan bahwa investor untuk Arema tetap ada.
Sayang, M. Nur tak menjelaskan investor yang akan masuk atau berminat untuk membiayai Arema tersebut. Sementara pemain, pelatih Arema dan Aremania sudah terlanjur meragukan keterangan M. Nur perihal adanya investor.
“Menurut Pak Nur, investor yang akan masuk itu harus menanggung semua hutang-hutang Arema, dan Pak Nur belum mau mundur sebelum investor menyelesaikan semua hutang itu, mana bisa ada titik temu,” ungka Iin, Aremania Dinoyo.
“Kalau nanti ternyata tidak ada investor, terus Pak Nur menjanjikan investor, siapa investor itu harus jelas, sampai sekarang. Kalu begini terus, berarti Pak Nur memang ingin terus bertahan di Arema,” sambungnya.
M. Nur sebenarnya menginginkan ada waktu khusus untuk pertemuan dengan Aremania, namun terlanjur jadi satu dengan pertemuan pemain dan pelatih. Aremania merasa sebagai satu kesatuan dengan tim Arema.
Untuk itu, seperti halnya pemain dan pelatih, Aremania menuntut M. Nur mundur sebagai bentuk pertanggung jawabannya lantaran selama ini tak pernah muncul untuk mengurus dan memperhatian persoalan tim Arema.
“Manajemen Arema harus dirombak, saya tahu kondisi manajemen Arema, kalau pun Pk Nur mundur, juga belum tentu investor masuk, manajemen Arema harus diaudit, dan kuncinya adalah Pak Nur harus mundur,” tegas H. Selamet, Aremania Tongan.
Kekhawatiran Arema, begitupun pemain dan pelatih Arema adalah jika ternyata investor itu mau masuk jika M. Nur mundur. Sehingga Aremania mendesak agar M. Nur mundur, meski mantan manajer Persema ini bersikeras tak mau langsung mundur.
“Kita Aremania sudah resah dengan kondisi tim Arema ini, saya minta Pak Nur untuk mundur saja, sederhana saja, sekarang saja katakan mau mundur, karena Pak Nur itu sulit dicari,” ungkap Tembel alias Ponidi, Aremania korwil Stasiun.
Namun tekanan demi tekanan ini mentah, lantaran M. Nur tetap pada pendiriannya, mau mundur jika memang ada investor yang masuk dan menginginkannya untuk mundur dari posisinya sebagai Ketua Yayasan.
Bagaimana jika tak ada investor, atau ada investor yang tak memberikan syarat M. Nur harus mundur? “Saya terserah Dewan Pembina Yayasan, bisa tetap di Arema, atau tidak di Arema, yang penting Arema tetap eksis,” jawab M. Nur.
Pada dasarnya pria yang juga menjabat Pjs Direktur Utama PT Arema Indonesia meyakinkan bahwa dirinya siap mundur demi Aremania. Meski dari pertemuan tersebut, M. Nur belum secara resmi menyatakn mundur, karena menunggu kepastian investor.
Menariknya, Pembina Yayasan Arema yang baru, Rendra Kresna mengaku nasib M. Nur sepenuhnya diserahkan pada Pengawas Yayasan. Dalam hal ini, Bambang Winarno, Pengawas Yayasan yang dianggap masih sebagai pemegang kebijakan tertinggi.
Menyusul Rendra Kresna masih belum secara resmi menjabat sebagai Pembina Yayasan. “Untuk kepastian posisi Pak Nur, saat ini Pengawas Yayasan yang menentukan,” terang Rendra menjawab statemen M. Nur terkait nasibnya ditangan Pembina Yayasan.
Bambang Winarno sendiri saat dikonfirmasi Malang Post mengaku masih belum mengambil keputusan apa pun. Meski desakan M. Nur mundur sebenarnya cukup kuat, baik dari pemain, pelatih dan Aremania, terkait dengan rencana masuknya investor ke Arema.
“Maaf, kami sedang koordinasi dengan seluruh stakeholder Arema. Selain itu sikap Pak nur juga kami tunggu, agar kami bisa mengambil keputusan terbaik,” yakin Bambang Winarno, kemarin sore. Dan atas konfirmasi ini, Aremania pun untuk sementara memilih untuk menunggu.
“Ya, kalau begitu kita akan menunggu perkembangan selanjutnya, yang pasti kita minta Pak Nur mundur, itu demi menyelamatkan tim Arema,” pungkas Tembel yang sempat merencanakan aksi demo besar-besar untuk menuntut M. Nur bertanggung jawab dan mundur dari Arema. (bua)
Along: Kami Bosan dengan Janji
MALANG – Ajang pertemuan antara Ketua Yayasan PS Arema, HM Nur dengan pemain dan ofisial tim, nyaris saja berubah menjadi ‘pengadilan ala Arema’. Bahkan lantaran tidak kuasa menahan emosi, kapten tim Noh ‘Along’ Alam Shah, memilih meninggalkan tempat sebelum pertemuan berlangsung.
Betapa tidak, selama sembilan bulan, M Nur memang tidak pernah mendampingi tim. Terakhir mantan Manajer Persema ini mendampingi tim saat dijamu Persisam Samarinda, September 2010.
Tanda-tanda pertemuan itu memanas sudah terlihat ketika pemain dan tim pelatih, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait menghilangnya M Nur. Apalagi selama ini gaji pemain dan karyawan sering terlambat. Bahkan saat ini, sudah tiga bulan pemain dan karyawan belum mendapatkan gaji.
’’Kami sudah bermain profesional. Kamu yang mengontrak saya langsung. Saya tetap akan menuntut kamu. Kamu harus bayar gaji kami. Kamu sudah sembilan bulan tak masuk kantor. Tak peduli Arema. Kamu harus segera turun,’’ kata Pelatih Arema, Miroslav Janu, dengan nama tinggi.
Ketika itu, M Nur duduk di depan bersama Rendra Kresna (Pembina Yayasan) dan Sudarmaji (media officer). Dihadapan mereka bertiga, ada dua deret meja. Di deretan sebelah kiri M Nur diisi Miro dan asistennya, sementara Along dan beberapa pemain berada di kanan M Nur.
Mendapatkan pertanyaan Miro, M Nur dianggap tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Sontak Along yang duduk di barisan paling depan dan hanya berjarak dua kursi dari M Nur, langsung berdiri dan mendekati M Nur.
’’Kami sudah bosan. Kami sudah lelah dijanjikan terus. Kalau kamu datang, seharusnya bawa uang. Jangan janji-jani terus,’’ kata Along dihadapan M Nur. Bahkan jarak antara wajah Along dan M Nur tak sampai 50 cm.
Mantan Sekota Malang itu hanya bisa terdiam setelah ’disemprot’ Along. Apalagi usai menyampaikan uneg-unegnya, Along langsung pergi. ’’Sudah. Percuma. Lebih baik keluar dari pertemuan ini. Tak ada hasilnya,’’ katanya sembari meninggalkan ruangan.
M Nur sendiri dalam pertemuan tersebut, bersedia mundur jika ada investor yang mau masuk ke Arema dengan membawa persyaratan. Yakni dia harus mundur. Meski dia juga siap bertanggung jawab dan akan mencarikan solusi untuk segera melunasi seluruh utang Arema.
Utang-utang itu diantaranya, gaji pemain dan karyawan yang belum terbayar selama tiga bulan. Utang kepada Bank Saudara sebesar Rp 1,5 miliar dan utang kepada beberapa pihak lainnya.
‘’Saya ndak masalah. Saya ngak punya kepentingan. Kalau memang demi Arema, ada investor mau masuk, syaratnya saya keluar. Saya siap asalkan semuanya harus diselesaikan, seperti gaji dan utang, karena ini lembaga dan tanggung jawab perusahaan,’’ terang Nur.
Pria yang juga sebagai Widyaismara ini lantas berjanji, lantas berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebelum 19 Juni, atau saat pertandingan terakhir Arema di Indonesia Super Liga (ISL), musim ini.
Tetapi kalaupun toh sampai 19 Juni belum juga ada investor yang masuk, M Nur siap akan mencarikan dana untuk membayar gaji pemain. ‘’Tapi kalau sekarang (kemarin, Red.), Arema memang tidak punya uang,’’ tandasnya.
Bahkan M Nur juga mengaku selama menjabat ketua Yayasan, tak pernah tahu keuangan Arema. Dia juga tidak pernah memegang uang. Alasannya, pengurus yang mengetahui soal keuangan Arema, tidak pernah memberikan laporan kepada dia selaku Ketua Yayasan.
Namun salah satu orang yang setiap hari berada di kantor Arema menyebut, mereka kesulitan memberikan laporan kepada M Nur, lantaran keberadaannya sulit dilacak.
’’Bagaimana kami mau memberikan laporan. Telpon dan sms saja tidak pernah dijawab. Beliau juga tidak pernah komunikasi dengan kantor,’’ kata sumber yang tidak mau disebut namanya.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pelaksana Harian Arema, Abriadi Muhara dan Sekretaris tim Muhammad Taufan itu, juga dihadiri belasan Aremania.
Komunitas suporter itu juga meminta M Nur untuk mundur. Seperti disampaikan Iin, Tembel dan Haji Slamet. Bahkan Aremania meminta seluruh pengurus yayasan dan direksi PT Arema Indonesia dibubarkan dan diganti dengan orang-orang baru. (poy/avi)
Betapa tidak, selama sembilan bulan, M Nur memang tidak pernah mendampingi tim. Terakhir mantan Manajer Persema ini mendampingi tim saat dijamu Persisam Samarinda, September 2010.
Tanda-tanda pertemuan itu memanas sudah terlihat ketika pemain dan tim pelatih, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait menghilangnya M Nur. Apalagi selama ini gaji pemain dan karyawan sering terlambat. Bahkan saat ini, sudah tiga bulan pemain dan karyawan belum mendapatkan gaji.
’’Kami sudah bermain profesional. Kamu yang mengontrak saya langsung. Saya tetap akan menuntut kamu. Kamu harus bayar gaji kami. Kamu sudah sembilan bulan tak masuk kantor. Tak peduli Arema. Kamu harus segera turun,’’ kata Pelatih Arema, Miroslav Janu, dengan nama tinggi.
Ketika itu, M Nur duduk di depan bersama Rendra Kresna (Pembina Yayasan) dan Sudarmaji (media officer). Dihadapan mereka bertiga, ada dua deret meja. Di deretan sebelah kiri M Nur diisi Miro dan asistennya, sementara Along dan beberapa pemain berada di kanan M Nur.
Mendapatkan pertanyaan Miro, M Nur dianggap tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Sontak Along yang duduk di barisan paling depan dan hanya berjarak dua kursi dari M Nur, langsung berdiri dan mendekati M Nur.
’’Kami sudah bosan. Kami sudah lelah dijanjikan terus. Kalau kamu datang, seharusnya bawa uang. Jangan janji-jani terus,’’ kata Along dihadapan M Nur. Bahkan jarak antara wajah Along dan M Nur tak sampai 50 cm.
Mantan Sekota Malang itu hanya bisa terdiam setelah ’disemprot’ Along. Apalagi usai menyampaikan uneg-unegnya, Along langsung pergi. ’’Sudah. Percuma. Lebih baik keluar dari pertemuan ini. Tak ada hasilnya,’’ katanya sembari meninggalkan ruangan.
M Nur sendiri dalam pertemuan tersebut, bersedia mundur jika ada investor yang mau masuk ke Arema dengan membawa persyaratan. Yakni dia harus mundur. Meski dia juga siap bertanggung jawab dan akan mencarikan solusi untuk segera melunasi seluruh utang Arema.
Utang-utang itu diantaranya, gaji pemain dan karyawan yang belum terbayar selama tiga bulan. Utang kepada Bank Saudara sebesar Rp 1,5 miliar dan utang kepada beberapa pihak lainnya.
‘’Saya ndak masalah. Saya ngak punya kepentingan. Kalau memang demi Arema, ada investor mau masuk, syaratnya saya keluar. Saya siap asalkan semuanya harus diselesaikan, seperti gaji dan utang, karena ini lembaga dan tanggung jawab perusahaan,’’ terang Nur.
Pria yang juga sebagai Widyaismara ini lantas berjanji, lantas berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebelum 19 Juni, atau saat pertandingan terakhir Arema di Indonesia Super Liga (ISL), musim ini.
Tetapi kalaupun toh sampai 19 Juni belum juga ada investor yang masuk, M Nur siap akan mencarikan dana untuk membayar gaji pemain. ‘’Tapi kalau sekarang (kemarin, Red.), Arema memang tidak punya uang,’’ tandasnya.
Bahkan M Nur juga mengaku selama menjabat ketua Yayasan, tak pernah tahu keuangan Arema. Dia juga tidak pernah memegang uang. Alasannya, pengurus yang mengetahui soal keuangan Arema, tidak pernah memberikan laporan kepada dia selaku Ketua Yayasan.
Namun salah satu orang yang setiap hari berada di kantor Arema menyebut, mereka kesulitan memberikan laporan kepada M Nur, lantaran keberadaannya sulit dilacak.
’’Bagaimana kami mau memberikan laporan. Telpon dan sms saja tidak pernah dijawab. Beliau juga tidak pernah komunikasi dengan kantor,’’ kata sumber yang tidak mau disebut namanya.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pelaksana Harian Arema, Abriadi Muhara dan Sekretaris tim Muhammad Taufan itu, juga dihadiri belasan Aremania.
Komunitas suporter itu juga meminta M Nur untuk mundur. Seperti disampaikan Iin, Tembel dan Haji Slamet. Bahkan Aremania meminta seluruh pengurus yayasan dan direksi PT Arema Indonesia dibubarkan dan diganti dengan orang-orang baru. (poy/avi)
Langganan:
Postingan (Atom)