Lupakan LCA, Target Poin di Balikpapan
MALANG - Arema harus segera melupakan kekalahan telak 0-4 dari Jeonbuk Hyundai Motors di Stadion Kanjuruhan Rabu (16/3) lalu. Pasalnya, Singo Edan dituntut mengarahkan konsentrasi pada lanjutan kompetisi Liga Super musim ini. Skuad besutan pelatih Miroslav Janu bakal kembali bertanding pada 23 Maret mendatang.
Tak tanggung-tanggung, tim berlogo kepala singa lagi-lagi harus bertandang ke markas lawan. Kali ini lawan yang akan dihadapi adalah Persiba Balikpapan. Tim berjuluk Beruang Madu itu bertekuk lutut 0-3 saat melawat ke kandang Arema 19 Januari lalu di putaran pertama.
Hanya saja, Zulkifli Syukur dkk patut mewaspadai semangat balas dendam tim asal kota minyak tersebut. Apalagi Persiba di putaran babak kedua ini banyak melakukan perubahan pemain. Termasuk, ditangani pelatih baru Hariyadi yang mengantikan Junaedi.
Manager coach Miroslav Janu mengaku tengah menyiapkan pasukan terbaiknya agar bisa membawa oleh-oleh poin dari Balikpapan. Terlebih, mencuri poin di markas tim yang kini masih terdampar di peringkat 12 klasemen sementara ISL itu tidaklah mudah.
‘’Sabtu dan Minggu kita latihan. Senin (21/3) sudah berangkat karena Selasa (22/3) harus coba lapangan. Kita bawa 18 pemain. Semua pemain harus siap,’’ beber pelatih asal Ceko itu.
Kondisi tim yang mulai kondusif pasca beresnya masalah finansial yang mendera dirasa cukup melegakan. Der trainer yang sempat mengarsiteki PSM Makassar itu pun tak segan memuji semangat juang anak asuhnya.
‘’Pemain latihan serius. Mereka maksimal. Sekarang gaji satu bulan sudah dibayar. Problem finansial sudah oke. Kita fokus Persiba,’’ terangnya kepada Malang Post.
Disinggung soal kekuatan calon lawan, pelatih berusia 51 tahun itu mengaku bahwa Persiba bukanlah tim yang bisa diremehkan bila bermain di kandangnya. Terbukti, tim kuat macam Persipura Jayapura dipaksa pulang tertunduk dengan kekalahan 0-1 dalam lawatan ke Balikpapan. ‘’Saya lihat Persiba sebagai tim kuat,’’ tandas Miro.
Meski baru saja dipecundangi Persija Jakarta dengan skor besar 1-5, tidak menjadi gambaran permainan Persiba yang sesungguhnya.
‘’Saat lawan Persija, sebenarnya mereka bermain bagus di babak kedua. Tapi jelas permainan mereka berbeda saat melawan tim yang berbeda pula. Kita harus waspadai itu,’’ pungkas pelatih kelahiran 8 November 1959 tersebut. (tom/avi)
Jumat, 18 Maret 2011
Selasa, 15 Maret 2011
Laga Arema Bebas dari Rokok
Malang (beritajatim.com) - Peraturan tegas yang dikeluarkan AFC selaku penyelanggara Liga Champion Asia (LCA), nampaknya tidak akan ada dispensasi lagi. Bahkan, denda Rp 50 juta siap diberikan jika sampai penonton yang duduk di tribun Very Importan Person (VIP), ketahuan merokok. Dengan begitu, tempat duduk esklusif bagi penonton VIP dan juga pekerja media di tempat itu dipastikan akan bebas dari asap rokok.
“Itu sudah aturan. Jika kami tidak ingin kena denda lima ribu dolar atau setara dengan lima puluh juta rupiah, jangan merokok di tribun VIP saat pertandingan nanti,” ungkap Humas Arema, Sudarmaji, Senin (14/3/2011) siang pada beritajatim.com.
Peraturan dilarang merokok itu menurut Sudarmaji sudah berlaku untuk pertandingan international manapun. Itu sebabnya, panita pelaksana pertandingan Arema nantinya, akan melarang penonton di tribun VIP untuk menghembuskan asap rokoknya. Para pecandu bola yang biasanya menikmati asap rokok di tribun VIP tersebut, akan menjadi target dirinya agar jangan ada denda dari AFC dan LCA terkait asap rokok.
Sudarmaji juga menjelaskan, selain tidak boleh merokok, tribun VIP selama LCA berlangsung harus bebas dari pedagang asongan. Dimana, pedagang asongan yang tergabung dalam ASOKA (Asongan Kanjuruhan) itu, dilarang keras dan tidak diperbolehkan berada di tribun VIP.
“Tadi juga ada satu asongan yang mendatangi kami. Ia bertanya, apakah boleh berjualan di tribun VIP, ya saya suruh tanya sendiri ke petugas dari LCA yang sedang survey. Jawabnya, tidak boleh. Itu berarti, selain tribun VIP bebas dari asap rokok, juga tidak boleh ada asongan ditempat itu,” ucapnya.
Hal yang sama menurut Sudarmaji pula, sebenarnya terjadi pada tribun ekonomi. Tapi, karena harus ada rasa kemanusian juga, ia akan berpikir keras agar asongan bisa berjualan di tribun ekonomi. Masalahnya, di pertandingan International manapun, tidak ada yang namanya asongan. Kalaupun ada, produk yang dijual di dalam stadion nanti, kemasannya harus diubah dan diganti menggunakan plastik. Karena itu sudah aturan resminya, mau tidak mau pihaknya juga akan mengikuti aturan itu.
“Kami akan mengikuti aturan nantinya. Jangan sampai denda Rp 50 juta itu ditanggung bagi teman-teman asongan yang nekat jualan di VIP. Kalau sampai ketahuan, ya bayar sendiri dendanya,” urai Sudarmaji.
Ditambahkannya, selain melarang tribun VIP dari asongan dan asap rokok, makan dari luar yang di bawa penonton untuk masuk kedalam stadion nanti juga akan dilakukan pemeriksaan lebih dulu. Meski akan melakukan pemeriksaan soal makanan maupun minuman yang dibawa penonton, semuanya dilakukan masih memegang rasa kemanusian.
“Tetap bawaan makanan akan kita periksa. Kalau ada yang bawa kaleng atau botol minuman tertentu, kita pindahkan ke dalam plastik. Kasihan juga kalau nggak boleh bawa makanan dan minuman. Kalau pingsan, siapa nanti yang bertanggung jawab,” pungkas Sudarmaji. [yog/but]
“Itu sudah aturan. Jika kami tidak ingin kena denda lima ribu dolar atau setara dengan lima puluh juta rupiah, jangan merokok di tribun VIP saat pertandingan nanti,” ungkap Humas Arema, Sudarmaji, Senin (14/3/2011) siang pada beritajatim.com.
Peraturan dilarang merokok itu menurut Sudarmaji sudah berlaku untuk pertandingan international manapun. Itu sebabnya, panita pelaksana pertandingan Arema nantinya, akan melarang penonton di tribun VIP untuk menghembuskan asap rokoknya. Para pecandu bola yang biasanya menikmati asap rokok di tribun VIP tersebut, akan menjadi target dirinya agar jangan ada denda dari AFC dan LCA terkait asap rokok.
Sudarmaji juga menjelaskan, selain tidak boleh merokok, tribun VIP selama LCA berlangsung harus bebas dari pedagang asongan. Dimana, pedagang asongan yang tergabung dalam ASOKA (Asongan Kanjuruhan) itu, dilarang keras dan tidak diperbolehkan berada di tribun VIP.
“Tadi juga ada satu asongan yang mendatangi kami. Ia bertanya, apakah boleh berjualan di tribun VIP, ya saya suruh tanya sendiri ke petugas dari LCA yang sedang survey. Jawabnya, tidak boleh. Itu berarti, selain tribun VIP bebas dari asap rokok, juga tidak boleh ada asongan ditempat itu,” ucapnya.
Hal yang sama menurut Sudarmaji pula, sebenarnya terjadi pada tribun ekonomi. Tapi, karena harus ada rasa kemanusian juga, ia akan berpikir keras agar asongan bisa berjualan di tribun ekonomi. Masalahnya, di pertandingan International manapun, tidak ada yang namanya asongan. Kalaupun ada, produk yang dijual di dalam stadion nanti, kemasannya harus diubah dan diganti menggunakan plastik. Karena itu sudah aturan resminya, mau tidak mau pihaknya juga akan mengikuti aturan itu.
“Kami akan mengikuti aturan nantinya. Jangan sampai denda Rp 50 juta itu ditanggung bagi teman-teman asongan yang nekat jualan di VIP. Kalau sampai ketahuan, ya bayar sendiri dendanya,” urai Sudarmaji.
Ditambahkannya, selain melarang tribun VIP dari asongan dan asap rokok, makan dari luar yang di bawa penonton untuk masuk kedalam stadion nanti juga akan dilakukan pemeriksaan lebih dulu. Meski akan melakukan pemeriksaan soal makanan maupun minuman yang dibawa penonton, semuanya dilakukan masih memegang rasa kemanusian.
“Tetap bawaan makanan akan kita periksa. Kalau ada yang bawa kaleng atau botol minuman tertentu, kita pindahkan ke dalam plastik. Kasihan juga kalau nggak boleh bawa makanan dan minuman. Kalau pingsan, siapa nanti yang bertanggung jawab,” pungkas Sudarmaji. [yog/but]
Presiden Kehormatan Arema: Manajemen Tak Transparan
Malang(beritajatim.com) - Bupati Malang Rendra Kresna yang juga Penasehat Tim Arema Malang mengaku jika keterlambatan gaji pemain akibat sikap manajemen yang tidak terbuka.
Hal itu diungkapkan Rendra di Pendopo Agung Kabupaten Malang saat ditemui wartawan. Rendra menangkap jika Manajemen Arema tidak transparan lagi.
“Ketidak tepatan soal pembayaran gaji pemain ini, karena tidak transparannya manajemen. Saya selaku pihak luar dalam tim itu sendiri menilai manajemen tidak terbuka," ungkap politisi Partai Golkar ini.
Dijelaskannya, meski posisinya saat ini hanya sebagai penasehat saja Rendra menganggap jerih payahnya juga sudah tidak dihargai lagi oleh manajemen.
Munculnya masalah keterlambatan gaji sebenarnya, saat tim hendak bertandang pada LCA ke Jepang beberapa waktu lalu. Dimana, saat itu para pemain sudah mogok bermain dan tidak mau ikut bermain di Jayapura.
Tetapi, lewat campur tangannya selaku penasehat, dirinya saat itu bersedia menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Tetapi, ketika kesepakatan sudah disepakati bersama, beberapa pemain dianggapnya tidak mentaati kesepakatan. Dari situlah, ia merasa kecewa dengan sikap para pemain.
Termasuk, sangat menyayangkan sikap manajemen yang dinilainya, tidak transparan serta tertutup dalam menyelesaikan persoalan tentang pendapatan selama Arema bermain di Stadion Kanjuruhan.
"Sampai hari ini, kami tidak tahu berapa pendapatan selama bermain di Stadioan Kanjuruhan. Dari sini berarti sudah tidak ada transparansi," terang Rendra.
Politisi Partai Golkar Kabupaten Malang itu menambahkan, saat dirinya duduk dalam susunana manajemen Arema, selalu dilakukan pembicaraan dulu.
Pada masa dirinya sebagai orang di manajemen, soal transaksi pemain selalu dilakukan pembicaraan. Namun, hal itu berbeda pada saat ini. Dimana, ada kejanggalan kenaikan gaji kontrak pemain sampai 30 persen.
“Dulu kami selalu melakukan pembicaraan dulu sebelum melakukan sesuatu. Tapi sekarang, saya lihat sudah tidak begitu lagi,” ucapnya.
Ditambahkannya, untuk mensiasati gaji pemain yang terlambat itu, bisa dilakukan dengan cara mengangsur tanpa harus menunggu satu bulan gaji penuh.
Dengan begitu, tidak sampai memberatkan dan menimbulkan persoalan baru. Kuncinya adalah, setiap komponen dalam tim Arema harus saling mengisi. Serta, adanya keterbukaan dan transparansi dalam segi apapun. Termasuk, soal pendapatan Arema selama bermain di Stadion Kanjuruhan. [yog/ted]
Hal itu diungkapkan Rendra di Pendopo Agung Kabupaten Malang saat ditemui wartawan. Rendra menangkap jika Manajemen Arema tidak transparan lagi.
“Ketidak tepatan soal pembayaran gaji pemain ini, karena tidak transparannya manajemen. Saya selaku pihak luar dalam tim itu sendiri menilai manajemen tidak terbuka," ungkap politisi Partai Golkar ini.
Dijelaskannya, meski posisinya saat ini hanya sebagai penasehat saja Rendra menganggap jerih payahnya juga sudah tidak dihargai lagi oleh manajemen.
Munculnya masalah keterlambatan gaji sebenarnya, saat tim hendak bertandang pada LCA ke Jepang beberapa waktu lalu. Dimana, saat itu para pemain sudah mogok bermain dan tidak mau ikut bermain di Jayapura.
Tetapi, lewat campur tangannya selaku penasehat, dirinya saat itu bersedia menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Tetapi, ketika kesepakatan sudah disepakati bersama, beberapa pemain dianggapnya tidak mentaati kesepakatan. Dari situlah, ia merasa kecewa dengan sikap para pemain.
Termasuk, sangat menyayangkan sikap manajemen yang dinilainya, tidak transparan serta tertutup dalam menyelesaikan persoalan tentang pendapatan selama Arema bermain di Stadion Kanjuruhan.
"Sampai hari ini, kami tidak tahu berapa pendapatan selama bermain di Stadioan Kanjuruhan. Dari sini berarti sudah tidak ada transparansi," terang Rendra.
Politisi Partai Golkar Kabupaten Malang itu menambahkan, saat dirinya duduk dalam susunana manajemen Arema, selalu dilakukan pembicaraan dulu.
Pada masa dirinya sebagai orang di manajemen, soal transaksi pemain selalu dilakukan pembicaraan. Namun, hal itu berbeda pada saat ini. Dimana, ada kejanggalan kenaikan gaji kontrak pemain sampai 30 persen.
“Dulu kami selalu melakukan pembicaraan dulu sebelum melakukan sesuatu. Tapi sekarang, saya lihat sudah tidak begitu lagi,” ucapnya.
Ditambahkannya, untuk mensiasati gaji pemain yang terlambat itu, bisa dilakukan dengan cara mengangsur tanpa harus menunggu satu bulan gaji penuh.
Dengan begitu, tidak sampai memberatkan dan menimbulkan persoalan baru. Kuncinya adalah, setiap komponen dalam tim Arema harus saling mengisi. Serta, adanya keterbukaan dan transparansi dalam segi apapun. Termasuk, soal pendapatan Arema selama bermain di Stadion Kanjuruhan. [yog/ted]
Arema: Ini Bukan karena Gaji
Malang (beritajatim.com) – Manajemen Arema membenarkan adanya keinginan mundur dari tiga pemain. Hanya saja, sampai saat ini, manajemen belum menerima surat resmi pengunduran diri. Manajemen akan terus melakukan koordinasi.
Tiga pemain tersebut adalah Noh Alam Shah alias Along, Muhammad Ridhuan serta satu pemain lokal asal Sidoarjo, M Fakhrudin. Menanggapi hal itu, kepada wartawan, Senin (14/03/2011) siang, Pelaksana Harian PT Arema Indonesia, Abriadi Muhara, mengakui kabar tersebut.
“Iya, saya sudah dikabari pelatih Janu, usai latihan, di Stadion Gajayana, Senin (14/03/2011) pagi,” akunya, saat ditemui di Kantor Arema, Jl Sultan Agung No 9 Kota Malang.
Kata Abriadi, Janu menyampaikan, satu pemain sudah dipastikan ingin keluar dari Arema adalah M Fakhrudin. Sementara untuk Along dan M Ridhuan, masih sekadar menyampaikan secara lisan saja kepada Janu.
“Namun, hingga kini, ketiga pemain itu masih belum memberikan surat pernyataan resmi kepada manajemen Arema. Manajemen, kini masih terus akan melakukan komunikasi dengan ketiga pemain itu,” aku Abriadi.
Abriadi menambahkan, alasan ketiga pemain tersebut untuk mundur bermacam-macam. Alasan Fakhrudin aku Abriadi, telah melakukan pembicaraan dengan keluarganya dan memutuskan untuk mundur. Sementara alasan Noh Alam Shah dan Muhammad Riduan adalah koordinasi antar pemain yang semakin kurang.
Abdriadi membantah, rencana keluarnya tiga pemain itu bukan karena gaji yang tidak dibayar oleh manajemen Arema. “Yang jelas, tiga pemain mau keluar itu bukan karena soal gaji yang belum dibayar,” akunya.
Ditanya soal kapan gaji pemain akan dibayar? Abriadi mengaku, pihaknya akan terus membicarakan masalah gaji dengan pemain dan berjanji akan melunasi semua gaji sebelum awal April 2011 nanti. “Awal April manajemen akan berupaya melunasinya,” ujarnya.
Manajemen Arema aku Abriadi, sudah mempunyai rencana jika masalah gaji pemain akan saya lunasi semua pada bulan Maret ini. Dan sebelum memasuki bulan April masalah gaji sudah beres.
Apakah keluarnya ketiga pemain itu akan mengganggu laga di LCA? Abriadi menjawab, tidak akan mengganggu kinerja tim jelang melawan Jeonbuk Hyundai Motors dalam lanjutan Liga Champions Asia (LCA) 2011, babak penyisihan grup G di stadion Kanjuruhan, Rabu (16/03/2011) nanti.
“Sebab, Janu telah menyiapkan sejumlah komposisi pemain pengganti jika ketiga pemian itu menyatakan mundur dari tim. Menurut saya tak akan terganggu,” katanya. [ain/but]
Tiga pemain tersebut adalah Noh Alam Shah alias Along, Muhammad Ridhuan serta satu pemain lokal asal Sidoarjo, M Fakhrudin. Menanggapi hal itu, kepada wartawan, Senin (14/03/2011) siang, Pelaksana Harian PT Arema Indonesia, Abriadi Muhara, mengakui kabar tersebut.
“Iya, saya sudah dikabari pelatih Janu, usai latihan, di Stadion Gajayana, Senin (14/03/2011) pagi,” akunya, saat ditemui di Kantor Arema, Jl Sultan Agung No 9 Kota Malang.
Kata Abriadi, Janu menyampaikan, satu pemain sudah dipastikan ingin keluar dari Arema adalah M Fakhrudin. Sementara untuk Along dan M Ridhuan, masih sekadar menyampaikan secara lisan saja kepada Janu.
“Namun, hingga kini, ketiga pemain itu masih belum memberikan surat pernyataan resmi kepada manajemen Arema. Manajemen, kini masih terus akan melakukan komunikasi dengan ketiga pemain itu,” aku Abriadi.
Abriadi menambahkan, alasan ketiga pemain tersebut untuk mundur bermacam-macam. Alasan Fakhrudin aku Abriadi, telah melakukan pembicaraan dengan keluarganya dan memutuskan untuk mundur. Sementara alasan Noh Alam Shah dan Muhammad Riduan adalah koordinasi antar pemain yang semakin kurang.
Abdriadi membantah, rencana keluarnya tiga pemain itu bukan karena gaji yang tidak dibayar oleh manajemen Arema. “Yang jelas, tiga pemain mau keluar itu bukan karena soal gaji yang belum dibayar,” akunya.
Ditanya soal kapan gaji pemain akan dibayar? Abriadi mengaku, pihaknya akan terus membicarakan masalah gaji dengan pemain dan berjanji akan melunasi semua gaji sebelum awal April 2011 nanti. “Awal April manajemen akan berupaya melunasinya,” ujarnya.
Manajemen Arema aku Abriadi, sudah mempunyai rencana jika masalah gaji pemain akan saya lunasi semua pada bulan Maret ini. Dan sebelum memasuki bulan April masalah gaji sudah beres.
Apakah keluarnya ketiga pemain itu akan mengganggu laga di LCA? Abriadi menjawab, tidak akan mengganggu kinerja tim jelang melawan Jeonbuk Hyundai Motors dalam lanjutan Liga Champions Asia (LCA) 2011, babak penyisihan grup G di stadion Kanjuruhan, Rabu (16/03/2011) nanti.
“Sebab, Janu telah menyiapkan sejumlah komposisi pemain pengganti jika ketiga pemian itu menyatakan mundur dari tim. Menurut saya tak akan terganggu,” katanya. [ain/but]
Langganan:
Postingan (Atom)