KEPANJEN – Jika Stadion Gajayana Malang, dinyatakan masih banyak kekurangan yang harus dibenahi kalau ingin lolos verifikasi, justru sebaliknya dengan Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Meski tanpa verifikasi, stadion yang rencananya akan menjadi homebase Deltras Sidoarjo ini sudah dinyatakan lolos verifikasi oleh tim khusus dari Asian Football Confederation (AFC).
Kabar bahwa Stadion Kanjuruhan Kepanjen lolos verifikasi itu, kemarin disampaikan oleh Kepala UPTD Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Abdul Haris. Menurutnya tim AFC batal datang ke Stadion Kanjuruhan, karena menganggap bahwa Stadion Kanjuruhan Kepanjen masih layak.
Padahal kedatangan tim AFC ini sendiri, kemarin sangat dinantikan oleh pengelola stasion dan Aremania yang sudah berkumpul di halaman luar Stadion sejak pagi. Mereka ingin menyampaikan kekecewaannya tentang keputusan PSSI yang menjatuhkan pilihan kepada Arema versi Muhammad Nur.
“Kata mereka, Stadion Kanjuruhan Kepanjen ini, sudah bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak perlu dilakukan verifikasi,” ungkap Abdul Haris kepada Malang Post, kemarin siang.
Menurut dia, informasi bahwa Stadion Kanjuruhan Kepanjen dianggap masih layak oleh tim AFC, setelah konfirmasi kepada Manager Deltras Sidoarjo, Zaini. Lantaran sebelumnya AFC berencana datang ke Stadion Kanjuruhan. Haris mengaku menghubungi Zaini via telepon, karena sebelum rencana datang ke Kepanjen, tim AFC siang kemarin sedang berada di Sidoarjo.
“Saat saya konfirmasi, katanya tim AFC tidak jadi datang ke Stadion Kanjuruhan. Alasannya karena kondisi stadion ini sudah bisa dipertanggungjawabkan. Artinya Deltras Sidoarjo, bisa memakai Stadion Kanjuruhan sebagai homebase dalam pertandingan kompetisi ISL (Indonesia Super League) 2011-2012 nanti,” yakin Haris.
Ditambahkannya, bahwa Deltras Sidoarjo akan menggunakan Stadion Kanjuruhan Kepanjen sebagai homebase, hanya untuk sementara waktu saja selama Stadion Gelora Delta Sidoarjo diperbaiki. “Ya, Deltras, menggunakan Stadion Kanjuruhan ini sebagai homebase sementara sampai Desember nanti,” pungkasnya.(agp/bua)
Jumat, 07 Oktober 2011
Lucky dan M Nur Bawa Dua PT Berbeda
OSO-Ancora ‘Rebutan’ Arema
MALANG -Meski PSSI sebagai otoritas sepakbola Indonesia telah resmi memutuskan Arema dikelola Muhamad Nur, namun manajemen tim yang kini berkantor di Tidar ini belum juga mau terbuka seputar investor mereka. Bahkan hingga jelang kompetisi bergulir, sosok investor itu masih misterius.
‘’Mohon maaf, kalau soal itu (investor Arema, Red), saya belum berwenang menjawab,’’ ungkap Noor Ramadhan, Manajer Media Officer Arema Tidar saat dikonfirmasi Malang Post, kemarin sore. Sedangkan M. Nur lagi-lagi sulit untuk dikonfirmasi perihal kejelasan investor Arema ini.
Segala urusan Arema tampaknya telah dipercayakan kepada Lucky Acub Zaenal, pendiri Arema yang kini jalan bersama M. Nur. Pria yang akrab disapa Ikul itu sebelumnya mengaku masih menunggu waktu yang tepat untuk memastikan investor alias penyandang dana tim Arema ini.
Terlepas itu, manejemen Arema versi M. Nur ini memastikan tidak ada masalah dengan anggaran tim Singo Edan semusim kedepan. ‘’Untuk financial, sudah dipersiapkan dana dengan estimasi cukup untuk menjalani satu musim kedepan,’’ yakin Noor Ramadhan tanpa merinci kebutuhan anggaran Arema.
Menariknya, kejelasan sosok investor yang gabung dengan Arema itu justru disampaikan oleh Andi Darussalam Tabusala. Dalam rangkainnya membeberkan fakta kemelut yang terjadi di Arema, pria yang akrab disapa ADS itu memastikan bahwa saat ini sebenarnya ada dua investor yang gabung Arema.
Hebatnya, dua investor tersebut menjalin kerjasama dengan dua PT (Perseroan Terbatas) yang berbeda di Arema. Satu PT dibawah pimpinan Lucky yaitu PT Arema Nusantara Persada dan satu lagi PT dibawah kendali M. Nur yaitu PT Arema Indonesia yang terakhir mendapatkan pengesahan dari PSSI.
‘’Ya, saya tahu bahwa Lucky itu sebenarnya mendirikan PT yang baru yaitu PT Arema Nusantara Persada,’’ ungkap ADS yang sebelumnya mengaku kecewa dengan sikap Lucky terkait dengan pencairan dana dari pihak investor sebesar 250 ribu dolar Singapura atau hampir setara Rp 1,5 miliar itu.
Dana yang menurut ADS cair dari perusahaan Ancora Grup itu, sebenarnya akan digunakan untuk membayar sisa gaji pemain, beberapa waktu lalu. Namun kenyataannya, Lucky yang menjalin kerjasama dengan Ancora tersebut telah dianggap melanggar perjanjian dengan pihak ADS.
‘’Nanti, PT yang dibentuk Lucky itu akan mengikat kerjasama dengan PT Arema Indonesia yang dipegang Pak Nur, karena kelompok usaha yang masuk pastinya lihat PT Arema Indonesia. Suka tidak suka itu fakta, bukan Arema Nusantara Persada yang diakui PSSI, tapi PT Arema Indonesia dibawah Pak Nur,’’ jelasnya.
Namun meski PSSI mengakui M. Nur, pihak Lucky yang terlanjur menerima 250 ribu dolar Singapura itu akhirnya bersinergi dengan PT Arema Indonesia. Meski menurut ADS, sebenarnya Lucky yang membutuhkan M. Nur yang secara sah mengandalikan PT Arema Indonesia.
‘’Lucky butuh Pak Nur, kalau Pak Nur tidak mau, ya berhenti. Tapi yang kerjasama sama dengan investor itu Lucky, ya Ancora itu. Sedangkan dengan Arema Indonesia masih belum, makanya sekarang ini masih hitung-hitungan,’’ yakin mantan Ketua Badan Liga Indonesia ini.
Tak dijelaskan hitung-hitungan yang dimaksudnya. Namun pastinya, Ancora kini harus berhitung dengan OSO Grup yang merupakan investor atau penyandang dana untuk M. Nur. Tepatnya kala pembayaran gaji pemain di Kota Batu, beberapa waktu lalu itu merupakan dana dari OSO Grup melalui Said Amin, pengusaha asal Kalimantan.
‘’Ya, uang pertama yang dikasih itu memang punya OSO melalui Pak Said. Pak Said itu pengusaha di Kalimantan Timur, ya keluarganya Pak Nur. Jadi sampai sekarang OSO itu ada keterikatan dengan Arema. Pasti ada keterikatan dengan Pak Nur, tidak mungkin tidak,’’ yakin ADS.
Hingga kemarin, pihak Ancora pun coba berunding dengan pihak OSO, terkait pengelolaan tim Arema ini. Boleh jadi, perundingan ini juga terkait dengan pembagian komposisi manajemen PT Arema Indonesia. Atau kemungkinan, pihak Ancora dibawah pimpinan Gita Wiryawan itu yang bakal menguasai Arema.
‘’Lihat nanti komposisi di PT Arema Indonesia, saya tidak mau ikut campur urusan itu. Pastinya Ancora itu salah pilih karena mestinya kerjasama dengan PT Arema Indonesia. Ya, kalau Ancora mau masuk, harus bicara dengan pihak OSO,’’ sebut ADS berpesan agar Lucky tak lupa diri jika benar-benar kembali ‘mendapatkan’ Arema.
‘’Lucky itu punya perusahaan lain, tidak ada hubungannya dengan PT Arema Indonesia. Jadi yang kuasa itu Pak Nur, kontrak yang tanda tangan itu ya Pak Nur,’’ sambung ADS mengaku dirinya memback up dan mengakui keabsahan Mantan Sekda kota Malang itu sebagai pengurus Arema.
Sayang, dari pihak Ancora Grup maupuan pihak OSO Grup dibawah pimpinan Oesman Sapta Odang belum bisa dikonfirmasi terkait ‘perebutan’ Arema ini. Lalu bagaimana dengan Medco Grup dibawah pimpinan Arifin Panigoro yang disebut-sebut ikut mendanai M. Nur?
‘’Soal Medco, tidak ada hubungannya,’’ jawab ADS yang mengaku dirinya saat ini juga berstatus sebagai Aremania seperti pendukung Arema yang lain. Untuk itu, ADS mengaku siap berdialog dengan siapa saja terkait Arema. Khususnya menyangkut kemelut yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. (bua
MALANG -Meski PSSI sebagai otoritas sepakbola Indonesia telah resmi memutuskan Arema dikelola Muhamad Nur, namun manajemen tim yang kini berkantor di Tidar ini belum juga mau terbuka seputar investor mereka. Bahkan hingga jelang kompetisi bergulir, sosok investor itu masih misterius.
‘’Mohon maaf, kalau soal itu (investor Arema, Red), saya belum berwenang menjawab,’’ ungkap Noor Ramadhan, Manajer Media Officer Arema Tidar saat dikonfirmasi Malang Post, kemarin sore. Sedangkan M. Nur lagi-lagi sulit untuk dikonfirmasi perihal kejelasan investor Arema ini.
Segala urusan Arema tampaknya telah dipercayakan kepada Lucky Acub Zaenal, pendiri Arema yang kini jalan bersama M. Nur. Pria yang akrab disapa Ikul itu sebelumnya mengaku masih menunggu waktu yang tepat untuk memastikan investor alias penyandang dana tim Arema ini.
Terlepas itu, manejemen Arema versi M. Nur ini memastikan tidak ada masalah dengan anggaran tim Singo Edan semusim kedepan. ‘’Untuk financial, sudah dipersiapkan dana dengan estimasi cukup untuk menjalani satu musim kedepan,’’ yakin Noor Ramadhan tanpa merinci kebutuhan anggaran Arema.
Menariknya, kejelasan sosok investor yang gabung dengan Arema itu justru disampaikan oleh Andi Darussalam Tabusala. Dalam rangkainnya membeberkan fakta kemelut yang terjadi di Arema, pria yang akrab disapa ADS itu memastikan bahwa saat ini sebenarnya ada dua investor yang gabung Arema.
Hebatnya, dua investor tersebut menjalin kerjasama dengan dua PT (Perseroan Terbatas) yang berbeda di Arema. Satu PT dibawah pimpinan Lucky yaitu PT Arema Nusantara Persada dan satu lagi PT dibawah kendali M. Nur yaitu PT Arema Indonesia yang terakhir mendapatkan pengesahan dari PSSI.
‘’Ya, saya tahu bahwa Lucky itu sebenarnya mendirikan PT yang baru yaitu PT Arema Nusantara Persada,’’ ungkap ADS yang sebelumnya mengaku kecewa dengan sikap Lucky terkait dengan pencairan dana dari pihak investor sebesar 250 ribu dolar Singapura atau hampir setara Rp 1,5 miliar itu.
Dana yang menurut ADS cair dari perusahaan Ancora Grup itu, sebenarnya akan digunakan untuk membayar sisa gaji pemain, beberapa waktu lalu. Namun kenyataannya, Lucky yang menjalin kerjasama dengan Ancora tersebut telah dianggap melanggar perjanjian dengan pihak ADS.
‘’Nanti, PT yang dibentuk Lucky itu akan mengikat kerjasama dengan PT Arema Indonesia yang dipegang Pak Nur, karena kelompok usaha yang masuk pastinya lihat PT Arema Indonesia. Suka tidak suka itu fakta, bukan Arema Nusantara Persada yang diakui PSSI, tapi PT Arema Indonesia dibawah Pak Nur,’’ jelasnya.
Namun meski PSSI mengakui M. Nur, pihak Lucky yang terlanjur menerima 250 ribu dolar Singapura itu akhirnya bersinergi dengan PT Arema Indonesia. Meski menurut ADS, sebenarnya Lucky yang membutuhkan M. Nur yang secara sah mengandalikan PT Arema Indonesia.
‘’Lucky butuh Pak Nur, kalau Pak Nur tidak mau, ya berhenti. Tapi yang kerjasama sama dengan investor itu Lucky, ya Ancora itu. Sedangkan dengan Arema Indonesia masih belum, makanya sekarang ini masih hitung-hitungan,’’ yakin mantan Ketua Badan Liga Indonesia ini.
Tak dijelaskan hitung-hitungan yang dimaksudnya. Namun pastinya, Ancora kini harus berhitung dengan OSO Grup yang merupakan investor atau penyandang dana untuk M. Nur. Tepatnya kala pembayaran gaji pemain di Kota Batu, beberapa waktu lalu itu merupakan dana dari OSO Grup melalui Said Amin, pengusaha asal Kalimantan.
‘’Ya, uang pertama yang dikasih itu memang punya OSO melalui Pak Said. Pak Said itu pengusaha di Kalimantan Timur, ya keluarganya Pak Nur. Jadi sampai sekarang OSO itu ada keterikatan dengan Arema. Pasti ada keterikatan dengan Pak Nur, tidak mungkin tidak,’’ yakin ADS.
Hingga kemarin, pihak Ancora pun coba berunding dengan pihak OSO, terkait pengelolaan tim Arema ini. Boleh jadi, perundingan ini juga terkait dengan pembagian komposisi manajemen PT Arema Indonesia. Atau kemungkinan, pihak Ancora dibawah pimpinan Gita Wiryawan itu yang bakal menguasai Arema.
‘’Lihat nanti komposisi di PT Arema Indonesia, saya tidak mau ikut campur urusan itu. Pastinya Ancora itu salah pilih karena mestinya kerjasama dengan PT Arema Indonesia. Ya, kalau Ancora mau masuk, harus bicara dengan pihak OSO,’’ sebut ADS berpesan agar Lucky tak lupa diri jika benar-benar kembali ‘mendapatkan’ Arema.
‘’Lucky itu punya perusahaan lain, tidak ada hubungannya dengan PT Arema Indonesia. Jadi yang kuasa itu Pak Nur, kontrak yang tanda tangan itu ya Pak Nur,’’ sambung ADS mengaku dirinya memback up dan mengakui keabsahan Mantan Sekda kota Malang itu sebagai pengurus Arema.
Sayang, dari pihak Ancora Grup maupuan pihak OSO Grup dibawah pimpinan Oesman Sapta Odang belum bisa dikonfirmasi terkait ‘perebutan’ Arema ini. Lalu bagaimana dengan Medco Grup dibawah pimpinan Arifin Panigoro yang disebut-sebut ikut mendanai M. Nur?
‘’Soal Medco, tidak ada hubungannya,’’ jawab ADS yang mengaku dirinya saat ini juga berstatus sebagai Aremania seperti pendukung Arema yang lain. Untuk itu, ADS mengaku siap berdialog dengan siapa saja terkait Arema. Khususnya menyangkut kemelut yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini. (bua
Langganan:
Postingan (Atom)