Kamis, 05 Mei 2011

Tunggu Sikap Pengurus

Rapat Tertutup di De Liv, Kemarin Sore
MALANGPOST- Adanya keterlambatan gaji yang kini sudah 2,5 bulan dan minimnya perhatian pengurus disebut-sebut jadi pemicu menurunnya performa tim Arema belakang ini. Itu terlihat jelas saat Singo Edan kalah telak 0-4 atas Cerezo Osaka dalam pertandingan Liga Champions Asia di stadion Kanjuruhan, Selasa (3/5)  kemarin.
Bahkan termasuk juga mulai menurunnya motivasi para pemain saat berlatih. Meski tak lagi ada aksi mogok latihan seperti yang sudah-sudah, latihan di Araya Family Club kemarin pagi terlihat banyak pemain yang kurang bersemangat.
Baik saat menjalani recovery maupun conditioning, pemain tampak kurang bergairah. Termasuk juga banyak pilar Arema memilih untuk tidak mengikuti program recovery yang sebenarnya berfungsi mengembalikan kebugaran pasca pertandingan lawan Cerezo.
“Bagaimana mau main bagus, hak kita memang belum dibayar, dan perhatian dari pengurus juga hampir tidak ada saat ini,” ungkap salah satu pemain Arema yang memaksa agar namanya tak disebutkan di Koran.
Tak hanya peraoalan gaji, menurut pemain ini bonus juga mulai tersendat.  Sementara dari pengurus, setidaknya hingga kemarin, belum ada yang menemui pemain untuk bisa memecahkan persoalan finansial ini.
“Ya, kami sangat berharap agar pengurus atau yayasan bisa segera berbicara dan juga menyelesaikan sisa hak kami yang masih tertunda ini. Kalau tidak ada perhatian pengurus, bagaimana kita bisa menang apalagi juara,” kata pemain tersebut.
Pelatih Arema, Miroslav Janu pun membenarkan bahwa saat ini timnya membutuhkan perhatian dari pengurus. Selain untuk menyelesaikan persoalan gaji, kehadiran para pengurus dinilai juga bisa menyuntikkan motivasi kepada para pemain.
’’Sekarang tidak ada pengurus. Saya tidak bisa kontak Pak Nur, bahkan terakhir saya ketemu dia di Samarinda, pada partai away Arema. Dengan kondisi sekarang tanpa kehadiran pengurus, pasti susah untuk kami  bisa jadi yang terbaik,” ungkap Miro.
Secara de Jure, Muhammad Nur masih menjadi pengurus Arema sebagai Ketua Yayasan Arema sekaligus Direktur PT Arema Indonesia. Meski selama ini, mantan Sekda Kota Malang itu memang sudah tak pernah muncul di Arema.
Meski tak pernah menangani Arema, M. Nur meyakinkan masih sebagai pemilik hak suara Arema. Sedangkan selama ini, manajemen Arema ditangani oleh Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian PT Arema Indonesia yang sebenarnya bukan pemegang kebijakn tertinggi di Arema.
“Jadi pengurus yang ditanyakan oleh Miro itu bukan pengurus yang ada disini, tapipengurus yang mengaku Arema di PSSI,” ungkap Abriadi kepada Malang Post saat ditemui di kantor Arema, kemarin sore.
Pengurus yang dimaksud tentunya M. Nur dan Siti Nurzanah yang kini sebagai anggota Komite Normalisasi PSSI. Seperti halnya M. Nur, secara de Jure, Nurzanah masih tercatat sebagai Direktur PT Arema Indonesia.
“Miro mengatakan, kenapa pengurus yang ngaku-ngaku Arema itu tidak melihat kondisi Arema saat ini. Kondisi Arema sebenarnya lebih urgent, karena Arema tidak ikut kongres sebenarnya juga tidak masalah,” terang Abriadi.
Kini, baik pemain, pelatih maupun manajemen Arema tengah menunggu sikap dari pengurus. Khususnya sikap dari Pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia, untuk mengelola atau lebih tepatnya menyelamatkan tim Arema ini.
 Kebetulan dari pantauan Malang Post, pengurus Arema telah melakukan pertemuan tertutup di CafĂ© De Liv, di jalan Semeru, kemarin sore. Hingga tadi malam, belum bisa dipastikan siapa-siapa yang hadir dalam pertemuan tersebut.
“Maaf, sementara (hasil pertemuan pengurus) ini masih off the record,” sebut manajer media officer Arema, Sudarmaji saat dikonfirmasi perihal adanya pertemuan yang digagas oleh Presiden Club Arema, Rendra Kresna tersebut. (mg3/bua)

Loyalitas Mulai Dipertanyakan!

MALANGPOST -Hanya mendapat dukungan tak sampai 2.000 Aremania, saat Arema menjamu Cerezo Osaka, Selasa (3/5) kemarin, menjadi tanda tanya besar.
Di laga Liga Champions Asia itu, tepatnya ada 1.812 Aremania yang datang ke Stadion Kanjuruhan. Padahal kapasitas stadion milik Pemkab Malang ini berjumlah 35 ribu penonton, dan hanya terisi sekitar tiga ribu penonton.
Itu termasuk pendukung tim tamu yang berjumlah 1.300 orang hadir di Kanjuruhan. Suporter tim Cerezo yang sebagian besar karyawan Yanmar ini mampu memberi ‘perlawanan’ pada Aremania yang terkonsentrasi di tribun timur.
’’Kenapa Aremania tidak lihat tim Jepang? Ini tim bagus di Asia, jarang sekali kita bisa melihat pemain-pemain bagus dari Jepang datang ke Malang,’’ ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu melihat kondisi stadion yang sepi penonton.
Menurut pelatih asal Republik Ceko ini, harusnya Aremania minimal datang untuk menyaksikan permainan tim Jepang. Apalagi laga Arema menghadapi Cerezo Osaka itu adalah laga home terakhir Arema di ajang LCA musim.
‘’Kita belum tahu, kapan lagi Arema bisa main di LCA.  Kenapa Aremania tidak datang dan stadion sepi, Arema juga tidak turunkan tim cadangan,’’ terang Miro yang sebelumnya masih berharap Aremania datang untuk memadati stadion.
Kondisi ini pun, sedikit banyak telah mempangaruhi penampilan tim Arema yang selama ini memang bertanding untuk Aremania. Termasuk tim Arema banyak mengharapkan pemasukan dari hasil penjualan tiket di setiap laga home.
‘’Jelas sangat berpengaruh. Selama ini yang bisa memberi semangat adalah suporter. Tanpa mereka kita tidak ada apa-apanya,’’ sebut asisten pelatih Arema, Tony Ho kepada Malang Post, kemarin sore.
‘’Ya, kemarin memang terasa paling sepi. Kalau menurut saya, ada pengaruhnya, karena selama ini dukungan Aremania bisa menjadikan motivasi untuk bermain habis-habisan dan membuat pemain semangat,’’ imbuh Dwi Sasmianto, pelatih kiper Arema.
Sepinya Aremania yang datang menyaksikan pertandingan level Asia ini pun membuat tim Arema tak habis pikir. Bahkan ada pemain yang mulai mempertanyakan loyalitas Aremania yang selama ini sebenarnya cukup solid mendukung Arema.
‘’Kita seperti main di partai usiran. Kita tidak bermain di kandang sendiri disaat tim terpuruk dengan masalah internal yang tak kunjung selesai. Dukungan dari supporter kita yang setidaknya dapat membangkitkan motivasi kita ternyata tidak seperti sebelum-sebelumnya,’’ ungkap Ahmad Bustomi
‘’Padahal semua pemain mau bertahan karena adanya Aremania dan Aremanita semua. Kemarin kita jadi tahu, mana yang benar-benar loyal pada tim Arema sendiri,’’ sambung gelandang Arema ini mengakui tim Arema memang sulit untuk bersaing di LCA.
Namun untuk kompetisi ISL (Indonesia Super League) menurutnya tim Arema masih bisa bersaing di papan atas, sekalipun kondisinya seperti saat ini. Sehingga menurut Bustomi, prestasi pemain dengan gaji selalu telat ini masih cukup bagus.
’’Pemain sudah melaksanakan semua kewajiban walaupun hak-hak kita belum semua terbayarkan. Jadi jangan tanyakan kepada kami tentang arti loyalitas. Sudah jelas semua, biarkan masyarakat yang menilai,’’ terang Bustomi.
’’Saat kita tahu jumlah penonton sedikit, pasti itu berpengaruh kepada kami, apalagi kita mengharapkan pemasukan dari tiket. Kalau penontonnya sedikit, apa yang bisa dibuat bayar pemain,’’ sambung salah stu pilar Arema yang tak mau namanya disebutkan di koran.
’’Memang bayar gaji pemain itu tugas pengurus. Tapi kita sekarang mempertanyakan dimana loyalitas Aremania yang katanya sebagai pemilik tim Arema dan punya loyalitas tanpa batas. Jadi kita mempertanyakan Aremania yang selalu bicara soal loyalitas,’’ sambung pemain ini.
Salah satu pemain yang selalu masuk starting line up Arema ini pun mempertanyakan Aremania yang sempat menjadi saksi penandatangan kesepakatan pemain Arema dengan manajemen Arema perihal pembayaran gaji yang dijanjikan bakal selalu tepat waktu.
’’Selama karir saya, baru kali ini Arema ditonton tak lebih dari 2.000 Aremania saat lawan tim asing. Menurut saya ada hikmahnya. Semua harus intropeksi, bahwa Arema adalah kebersamaan. Disitu bisa kita jadikan hikmah, sebagai awal titik sadar bahwa Arema harus kita selamatkan, pengurus, tim (pemain, pelatih dan staf) dan Aremania,’’ yakin Joko Susilo, asisten pelatih Arema.
Tak hanya tim Aremania yang menyesalkan minimnya dukungan laga kandang Arema yang disiarkan langsung di Indonesia dan Jepang itu. Bahkan pertandingan ini rencananya juga akan disiarkan ulang oleh jaringan telvisi internasional, ESPN.
’’Tragis, karena banyak korwil baru dan kata manajemen korwil sudah ratusan, kemana mereka? Apakah bikin korwil tujuannya biar mudah dapat tiket pas bigmatch?’’ komentar Fuad Ardiansyah, Aremania Cili menyaksikan laga Arema tanpa dukungan penuh Aremania itu.
’’Ayas kemarin juga miris lihat stadion yang kosong, ya mungkin itu bisa disebabkan karena kekalahan beruntun Arema, permainan yang monoton dan pelatih yang kurang bisa mengambil hari suporter,’’ tambah Hansano, Aremania Plat AE.
’’Tapi semoga itu cukup kemarin saja stadion kosong. Insya Allah pada pertandingan empat laga home terakhir Arema akan dipenuhi oleh kawan-kawan Aremania,’’ lanjut Hansano kepada Malang Post.
Sedangkan Naji, Aremania Klayatan ini bisa memaklumi kondisi Aremania yang tak bisa memaksakan datang langsung disaat hari kerja, Selasa (3/5) kemarin.
’’Aremania juga manusia yang butuh kerja untuk menghidupi keluarga dan tentunya loyalitas tidak bisa diukur dari kedatangan Aremania ke stadion. Aremania bukan mesin pencetak uang. Darimana Aremania dapat uang, kalau tidak kerja,’’ katanya.
Lalu menurut Amin, Aremania Jalur Gaza, Sukorejo, sepinya penonton itu akibat kerja pengurus dan pemain yang tidak sungguh-sungguh menghadapi pertandingan LCA. ’’Even yang levelnya lebih tinggi yaitu tampil di LCA dilihat sebelah mata, akibatnya Aremania malas nonton LCA,’’ ucap Amin. (bua)