MALANGPOST -Hanya mendapat dukungan tak sampai 2.000 Aremania, saat Arema menjamu Cerezo Osaka, Selasa (3/5) kemarin, menjadi tanda tanya besar.
Di laga Liga Champions Asia itu, tepatnya ada 1.812 Aremania yang datang ke Stadion Kanjuruhan. Padahal kapasitas stadion milik Pemkab Malang ini berjumlah 35 ribu penonton, dan hanya terisi sekitar tiga ribu penonton.
Itu termasuk pendukung tim tamu yang berjumlah 1.300 orang hadir di Kanjuruhan. Suporter tim Cerezo yang sebagian besar karyawan Yanmar ini mampu memberi ‘perlawanan’ pada Aremania yang terkonsentrasi di tribun timur.
’’Kenapa Aremania tidak lihat tim Jepang? Ini tim bagus di Asia, jarang sekali kita bisa melihat pemain-pemain bagus dari Jepang datang ke Malang,’’ ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu melihat kondisi stadion yang sepi penonton.
Menurut pelatih asal Republik Ceko ini, harusnya Aremania minimal datang untuk menyaksikan permainan tim Jepang. Apalagi laga Arema menghadapi Cerezo Osaka itu adalah laga home terakhir Arema di ajang LCA musim.
‘’Kita belum tahu, kapan lagi Arema bisa main di LCA. Kenapa Aremania tidak datang dan stadion sepi, Arema juga tidak turunkan tim cadangan,’’ terang Miro yang sebelumnya masih berharap Aremania datang untuk memadati stadion.
Kondisi ini pun, sedikit banyak telah mempangaruhi penampilan tim Arema yang selama ini memang bertanding untuk Aremania. Termasuk tim Arema banyak mengharapkan pemasukan dari hasil penjualan tiket di setiap laga home.
‘’Jelas sangat berpengaruh. Selama ini yang bisa memberi semangat adalah suporter. Tanpa mereka kita tidak ada apa-apanya,’’ sebut asisten pelatih Arema, Tony Ho kepada Malang Post, kemarin sore.
‘’Ya, kemarin memang terasa paling sepi. Kalau menurut saya, ada pengaruhnya, karena selama ini dukungan Aremania bisa menjadikan motivasi untuk bermain habis-habisan dan membuat pemain semangat,’’ imbuh Dwi Sasmianto, pelatih kiper Arema.
Sepinya Aremania yang datang menyaksikan pertandingan level Asia ini pun membuat tim Arema tak habis pikir. Bahkan ada pemain yang mulai mempertanyakan loyalitas Aremania yang selama ini sebenarnya cukup solid mendukung Arema.
‘’Kita seperti main di partai usiran. Kita tidak bermain di kandang sendiri disaat tim terpuruk dengan masalah internal yang tak kunjung selesai. Dukungan dari supporter kita yang setidaknya dapat membangkitkan motivasi kita ternyata tidak seperti sebelum-sebelumnya,’’ ungkap Ahmad Bustomi
‘’Padahal semua pemain mau bertahan karena adanya Aremania dan Aremanita semua. Kemarin kita jadi tahu, mana yang benar-benar loyal pada tim Arema sendiri,’’ sambung gelandang Arema ini mengakui tim Arema memang sulit untuk bersaing di LCA.
Namun untuk kompetisi ISL (Indonesia Super League) menurutnya tim Arema masih bisa bersaing di papan atas, sekalipun kondisinya seperti saat ini. Sehingga menurut Bustomi, prestasi pemain dengan gaji selalu telat ini masih cukup bagus.
’’Pemain sudah melaksanakan semua kewajiban walaupun hak-hak kita belum semua terbayarkan. Jadi jangan tanyakan kepada kami tentang arti loyalitas. Sudah jelas semua, biarkan masyarakat yang menilai,’’ terang Bustomi.
’’Saat kita tahu jumlah penonton sedikit, pasti itu berpengaruh kepada kami, apalagi kita mengharapkan pemasukan dari tiket. Kalau penontonnya sedikit, apa yang bisa dibuat bayar pemain,’’ sambung salah stu pilar Arema yang tak mau namanya disebutkan di koran.
’’Memang bayar gaji pemain itu tugas pengurus. Tapi kita sekarang mempertanyakan dimana loyalitas Aremania yang katanya sebagai pemilik tim Arema dan punya loyalitas tanpa batas. Jadi kita mempertanyakan Aremania yang selalu bicara soal loyalitas,’’ sambung pemain ini.
Salah satu pemain yang selalu masuk starting line up Arema ini pun mempertanyakan Aremania yang sempat menjadi saksi penandatangan kesepakatan pemain Arema dengan manajemen Arema perihal pembayaran gaji yang dijanjikan bakal selalu tepat waktu.
’’Selama karir saya, baru kali ini Arema ditonton tak lebih dari 2.000 Aremania saat lawan tim asing. Menurut saya ada hikmahnya. Semua harus intropeksi, bahwa Arema adalah kebersamaan. Disitu bisa kita jadikan hikmah, sebagai awal titik sadar bahwa Arema harus kita selamatkan, pengurus, tim (pemain, pelatih dan staf) dan Aremania,’’ yakin Joko Susilo, asisten pelatih Arema.
Tak hanya tim Aremania yang menyesalkan minimnya dukungan laga kandang Arema yang disiarkan langsung di Indonesia dan Jepang itu. Bahkan pertandingan ini rencananya juga akan disiarkan ulang oleh jaringan telvisi internasional, ESPN.
’’Tragis, karena banyak korwil baru dan kata manajemen korwil sudah ratusan, kemana mereka? Apakah bikin korwil tujuannya biar mudah dapat tiket pas bigmatch?’’ komentar Fuad Ardiansyah, Aremania Cili menyaksikan laga Arema tanpa dukungan penuh Aremania itu.
’’Ayas kemarin juga miris lihat stadion yang kosong, ya mungkin itu bisa disebabkan karena kekalahan beruntun Arema, permainan yang monoton dan pelatih yang kurang bisa mengambil hari suporter,’’ tambah Hansano, Aremania Plat AE.
’’Tapi semoga itu cukup kemarin saja stadion kosong. Insya Allah pada pertandingan empat laga home terakhir Arema akan dipenuhi oleh kawan-kawan Aremania,’’ lanjut Hansano kepada Malang Post.
Sedangkan Naji, Aremania Klayatan ini bisa memaklumi kondisi Aremania yang tak bisa memaksakan datang langsung disaat hari kerja, Selasa (3/5) kemarin.
’’Aremania juga manusia yang butuh kerja untuk menghidupi keluarga dan tentunya loyalitas tidak bisa diukur dari kedatangan Aremania ke stadion. Aremania bukan mesin pencetak uang. Darimana Aremania dapat uang, kalau tidak kerja,’’ katanya.
Lalu menurut Amin, Aremania Jalur Gaza, Sukorejo, sepinya penonton itu akibat kerja pengurus dan pemain yang tidak sungguh-sungguh menghadapi pertandingan LCA. ’’Even yang levelnya lebih tinggi yaitu tampil di LCA dilihat sebelah mata, akibatnya Aremania malas nonton LCA,’’ ucap Amin. (bua)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar