MALANG – Ajang pertemuan antara Ketua Yayasan PS Arema, HM Nur dengan pemain dan ofisial tim, nyaris saja berubah menjadi ‘pengadilan ala Arema’. Bahkan lantaran tidak kuasa menahan emosi, kapten tim Noh ‘Along’ Alam Shah, memilih meninggalkan tempat sebelum pertemuan berlangsung.
Betapa tidak, selama sembilan bulan, M Nur memang tidak pernah mendampingi tim. Terakhir mantan Manajer Persema ini mendampingi tim saat dijamu Persisam Samarinda, September 2010.
Tanda-tanda pertemuan itu memanas sudah terlihat ketika pemain dan tim pelatih, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait menghilangnya M Nur. Apalagi selama ini gaji pemain dan karyawan sering terlambat. Bahkan saat ini, sudah tiga bulan pemain dan karyawan belum mendapatkan gaji.
’’Kami sudah bermain profesional. Kamu yang mengontrak saya langsung. Saya tetap akan menuntut kamu. Kamu harus bayar gaji kami. Kamu sudah sembilan bulan tak masuk kantor. Tak peduli Arema. Kamu harus segera turun,’’ kata Pelatih Arema, Miroslav Janu, dengan nama tinggi.
Ketika itu, M Nur duduk di depan bersama Rendra Kresna (Pembina Yayasan) dan Sudarmaji (media officer). Dihadapan mereka bertiga, ada dua deret meja. Di deretan sebelah kiri M Nur diisi Miro dan asistennya, sementara Along dan beberapa pemain berada di kanan M Nur.
Mendapatkan pertanyaan Miro, M Nur dianggap tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Sontak Along yang duduk di barisan paling depan dan hanya berjarak dua kursi dari M Nur, langsung berdiri dan mendekati M Nur.
’’Kami sudah bosan. Kami sudah lelah dijanjikan terus. Kalau kamu datang, seharusnya bawa uang. Jangan janji-jani terus,’’ kata Along dihadapan M Nur. Bahkan jarak antara wajah Along dan M Nur tak sampai 50 cm.
Mantan Sekota Malang itu hanya bisa terdiam setelah ’disemprot’ Along. Apalagi usai menyampaikan uneg-unegnya, Along langsung pergi. ’’Sudah. Percuma. Lebih baik keluar dari pertemuan ini. Tak ada hasilnya,’’ katanya sembari meninggalkan ruangan.
M Nur sendiri dalam pertemuan tersebut, bersedia mundur jika ada investor yang mau masuk ke Arema dengan membawa persyaratan. Yakni dia harus mundur. Meski dia juga siap bertanggung jawab dan akan mencarikan solusi untuk segera melunasi seluruh utang Arema.
Utang-utang itu diantaranya, gaji pemain dan karyawan yang belum terbayar selama tiga bulan. Utang kepada Bank Saudara sebesar Rp 1,5 miliar dan utang kepada beberapa pihak lainnya.
‘’Saya ndak masalah. Saya ngak punya kepentingan. Kalau memang demi Arema, ada investor mau masuk, syaratnya saya keluar. Saya siap asalkan semuanya harus diselesaikan, seperti gaji dan utang, karena ini lembaga dan tanggung jawab perusahaan,’’ terang Nur.
Pria yang juga sebagai Widyaismara ini lantas berjanji, lantas berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebelum 19 Juni, atau saat pertandingan terakhir Arema di Indonesia Super Liga (ISL), musim ini.
Tetapi kalaupun toh sampai 19 Juni belum juga ada investor yang masuk, M Nur siap akan mencarikan dana untuk membayar gaji pemain. ‘’Tapi kalau sekarang (kemarin, Red.), Arema memang tidak punya uang,’’ tandasnya.
Bahkan M Nur juga mengaku selama menjabat ketua Yayasan, tak pernah tahu keuangan Arema. Dia juga tidak pernah memegang uang. Alasannya, pengurus yang mengetahui soal keuangan Arema, tidak pernah memberikan laporan kepada dia selaku Ketua Yayasan.
Namun salah satu orang yang setiap hari berada di kantor Arema menyebut, mereka kesulitan memberikan laporan kepada M Nur, lantaran keberadaannya sulit dilacak.
’’Bagaimana kami mau memberikan laporan. Telpon dan sms saja tidak pernah dijawab. Beliau juga tidak pernah komunikasi dengan kantor,’’ kata sumber yang tidak mau disebut namanya.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Pelaksana Harian Arema, Abriadi Muhara dan Sekretaris tim Muhammad Taufan itu, juga dihadiri belasan Aremania.
Komunitas suporter itu juga meminta M Nur untuk mundur. Seperti disampaikan Iin, Tembel dan Haji Slamet. Bahkan Aremania meminta seluruh pengurus yayasan dan direksi PT Arema Indonesia dibubarkan dan diganti dengan orang-orang baru. (poy/avi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar