PAKIS – Striker Arema Indonesia, Dendi Santoso untuk sementara tersisih dari program pelatnas Timnas U-23 SEA Games 2011 sejak Senin (10/5) lalu. Pemain jebolan Akademi Arema ini terdeteksi masih terbelit masalah cedera pada engkel kaki kanannya. Data itu dikantongi Badan Tim Nasional (BTN) usai menerapkan tes kesehatan bagi seluruh pemain yang masuk daftar panggil.
Dendi harus meninggalkan geberan program pelatnas jelang persiapan tampil di SEA Games 2011. Tak terkecuali, saat tim asuhan pelatih Rahmad Darmawan ini menghelat program character building di Pusat Pendidikan dan Latihan Komando Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, sejak 10 Mei lalu. Program ini untuk pembentukan mental dan jiwa nasionalisme kuat bagi pemain.
‘’Benar, saya tidak ikut di pelatnas timnas. Saya masih ada cedera engkel, dan itu terdeteksi setelah tes kesehatan di timnas. Jadi sebelum program character building itu dimulai, saya terpaksa kembali ke Malang lagi. Saat ini, kondisi cederaku sudah lumayan baik,” aku Dendi Santoso kepada Malang Post disela-sela menjalani latihan tim di Lapangan Abdulrahman Saleh Pakis, sore kemarin.
Meski demikian, peluang pemain bernomor punggung 41 Arema ini bergabung timnas masih terbuka lebar. Pasalnya, BTN dan tim pelatih timnas masih mengharapkannya bergabung di pelatnas. Hanya saja, jika cedera engkel yang dialami Dendi tersebut sudah benar pulih. Dengan begitu, Dendi terbuka lebar meneruskan labelnya sebagai pemain langganan timnas U-23.
Dendi lantas menyebut, dirinya sedianya diminta BTN dan tim pelatih timnas untuk menyusul gabung pada 23 Mei nanti. Tentunya, dia sepertinya bakal langsung masuk program latihan timnas setelah amunisi pelatnas sudah diciutkan menjadi 23 pemain, dari sebelumnya 40 pemain.
Itupun, tepat pelatnas di Batujajar ini sudah berakhir, lantaran sedianya tuntas hingga 21 Mei mendatang. Padahal, tenaga Dendi tentunya sangat diharapkan Arema saat menjamu Deltras Sidoarjo, 29 Mei nanti. ‘’Tanggal 23 nanti, saya balik gabung timnas lagi. Jadi, saya disarankan untuk lakukan pemulihan cedera dulu,” pungkasnya. (poy/bua)
Jumat, 20 Mei 2011
Arema Diwakili Siti dan Nur
JAKARTA – Teka teki siapa wakil Arema dalam Kongres PSSI di Hotel Sultan Jakarta, hari Jumat ini, akhirnya terjawab tadi malam. Komite Normalisasi telah menunjuk dan merekomendasikan Siti Nurzanah (Direktur PT Arema Indonesia) dan HM Nur (Ketua Yayasan dan Pjs Direktur Utama PT Arema Indonesia) sebagai pemilik suara Arema dalam Kongres PSSI ini.
‘’Tidak ada masalah berkaitan dengan keputusan ditunjuknya dua pengurus Arema sebagai pemilik suara dalam Kongres kali ini,’’ tegas Ahmad Riyadh, Ketua Komite Banding kepada Malang Post di Hotel Sultan.
Pelaksanaan Kongres yang diikuti ratusan peserta hari ini dikhawatirkan berlangsung ricuh dan menemui jalan buntu. Apalagi,hingga tadi malam, santer beredar kabar mengenai kemungkinan keterlibatan pihak tertentu untuk mengcounter sikap Komite Normalisasi yang tetap menolak kehadiran George Toisutta dan Arifin Panigoro. Sedangkan kelompok 78 juga terus melakukan pemetaan baik di seputar arena Kongres maupun di sebuah hotel.
Sementara itu, rapat pemilik suara hingga berita ini diturunkan pukul 21.30 masih belum selesai. Karena suara dari beberapa perwakilan baik pengurus Pengprov maupun klub-klub ISL dan divisi utama belum seperti yang diharapkan.Bahkan peserta rapat juga banyak menyoroti keputusan Komite Normalisasi (KN) jika tidak memberi kesempatan George Toisutta dan Arifin Panigoro ikut pencalonan Kongres PSSI.
Disisi lain, pewakilan dari klub juga banyak melakukan pergantian pengurus yang berhak mengikuti Kongres selama sehari ini. Misalnya perwakilan Deltras Sidoarjo Saiful Illah yang ditambah satu pengurus lagi yaitu M.Djamil. (hms/nug)
‘’Tidak ada masalah berkaitan dengan keputusan ditunjuknya dua pengurus Arema sebagai pemilik suara dalam Kongres kali ini,’’ tegas Ahmad Riyadh, Ketua Komite Banding kepada Malang Post di Hotel Sultan.
Pelaksanaan Kongres yang diikuti ratusan peserta hari ini dikhawatirkan berlangsung ricuh dan menemui jalan buntu. Apalagi,hingga tadi malam, santer beredar kabar mengenai kemungkinan keterlibatan pihak tertentu untuk mengcounter sikap Komite Normalisasi yang tetap menolak kehadiran George Toisutta dan Arifin Panigoro. Sedangkan kelompok 78 juga terus melakukan pemetaan baik di seputar arena Kongres maupun di sebuah hotel.
Sementara itu, rapat pemilik suara hingga berita ini diturunkan pukul 21.30 masih belum selesai. Karena suara dari beberapa perwakilan baik pengurus Pengprov maupun klub-klub ISL dan divisi utama belum seperti yang diharapkan.Bahkan peserta rapat juga banyak menyoroti keputusan Komite Normalisasi (KN) jika tidak memberi kesempatan George Toisutta dan Arifin Panigoro ikut pencalonan Kongres PSSI.
Disisi lain, pewakilan dari klub juga banyak melakukan pergantian pengurus yang berhak mengikuti Kongres selama sehari ini. Misalnya perwakilan Deltras Sidoarjo Saiful Illah yang ditambah satu pengurus lagi yaitu M.Djamil. (hms/nug)
Rabu, 18 Mei 2011
Maksimalkan Tiket Home
MALANGPOST–Manajemen Arema terus mencari solusi untuk menyelesaikan tanggungan pembayaran gaji pemain. Mereka bertekad kewajibannya atas 2,5 bulan gaji pemain bisa tertuntaskan sebelum kompetisi Indonesia Super Liga (ISL) berakhir. Arema sendiri kini tinggal menyisakan lima pertandingan lagi yang sedianya tuntas seiring memasuki tengah Juli mendatang.
Potensi menggali dana besar pun coba terus dilakukan manajemen Singo Edan. Yang paling kongkrit, mereka memproyeksikan bisa memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket empat laga home Arema kedepan. Yakni, saat lawan Deltras Sidoarjo (29/5), Persela Lamongan, Persisam Samarinda (15/6) dan Bontang PKT (19/6). Tentunya, mereka berharap dukungan penuh Aremania, komunitas supporter fanatik Arema.
‘’Ya, kami berharap dukungan penuh Aremania. Karena proyeksi kami, empat laga home terakhir Arema di ISL itu bisa dimaksimalkan manajemen untuk selesaikan kwajiban pembayaran gaji pemain. Utamanya, untuk 2,5 bulan gaji yang terlambat,” ujar Abriadi Muhara, Manajer tim Arema Indonesia kepada Malang Post, kemarin.
Lebih lanjut, lelaki yang juga menjabat Ketua Panpel Arema ini mengidamkan, Aremania bisa memadati seluruh jengkal tribun Stadion Kanjuruhan Kepanjen saat laga home. Pihaknya pun berharap penjualan tiket yang sebanyak-banyaknya, alias bisa menuju angka Rp 1 Miliar. Pasalnya, kubu Arema sangat menanti dukungan penuh Aremania untuk ikut membantu menyelesaikan masalah krisis financial yang sedang melanda tubuh tim.
Setidaknya, pemandangan sepi penonton seperti saat tim menjamu Cerezo Osaka Jepang pada laga home terakhir tim di penyisihan Grup G AFC Champions League (LCA), 24 April lalu. Kala itu, penonton yang hadir langsung ke stadion berjumlah 3.112 penonton. Itupun sudah termasuk 1300 supporter Cerezo Osaka, yang mengatasnamakan Real Osaka Ultras baik asli dari Jepang dan karyawan Yanmar di Indonesia, perusahaan yang memiliki saham terbesar kepemilikan Cerezo. Dengan begitu, Aremania hanya berjumlah 1.812.
‘’Kami rasa, Aremania juga mengetahui dan memahami kondisi yang dialami Arema saat ini. Jadi, kedatangan Arema sangat kami nantikan di empat pertandingan home itu, kalau bisa stadion bisa penuh. Hasil pendapatan tiket di semua laga ini diharapkan bisa menutup seluruh biaya pembayaran gaji pemain,” pungkas Abriadi sembari berharap. (poy/jon)
Potensi menggali dana besar pun coba terus dilakukan manajemen Singo Edan. Yang paling kongkrit, mereka memproyeksikan bisa memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket empat laga home Arema kedepan. Yakni, saat lawan Deltras Sidoarjo (29/5), Persela Lamongan, Persisam Samarinda (15/6) dan Bontang PKT (19/6). Tentunya, mereka berharap dukungan penuh Aremania, komunitas supporter fanatik Arema.
‘’Ya, kami berharap dukungan penuh Aremania. Karena proyeksi kami, empat laga home terakhir Arema di ISL itu bisa dimaksimalkan manajemen untuk selesaikan kwajiban pembayaran gaji pemain. Utamanya, untuk 2,5 bulan gaji yang terlambat,” ujar Abriadi Muhara, Manajer tim Arema Indonesia kepada Malang Post, kemarin.
Lebih lanjut, lelaki yang juga menjabat Ketua Panpel Arema ini mengidamkan, Aremania bisa memadati seluruh jengkal tribun Stadion Kanjuruhan Kepanjen saat laga home. Pihaknya pun berharap penjualan tiket yang sebanyak-banyaknya, alias bisa menuju angka Rp 1 Miliar. Pasalnya, kubu Arema sangat menanti dukungan penuh Aremania untuk ikut membantu menyelesaikan masalah krisis financial yang sedang melanda tubuh tim.
Setidaknya, pemandangan sepi penonton seperti saat tim menjamu Cerezo Osaka Jepang pada laga home terakhir tim di penyisihan Grup G AFC Champions League (LCA), 24 April lalu. Kala itu, penonton yang hadir langsung ke stadion berjumlah 3.112 penonton. Itupun sudah termasuk 1300 supporter Cerezo Osaka, yang mengatasnamakan Real Osaka Ultras baik asli dari Jepang dan karyawan Yanmar di Indonesia, perusahaan yang memiliki saham terbesar kepemilikan Cerezo. Dengan begitu, Aremania hanya berjumlah 1.812.
‘’Kami rasa, Aremania juga mengetahui dan memahami kondisi yang dialami Arema saat ini. Jadi, kedatangan Arema sangat kami nantikan di empat pertandingan home itu, kalau bisa stadion bisa penuh. Hasil pendapatan tiket di semua laga ini diharapkan bisa menutup seluruh biaya pembayaran gaji pemain,” pungkas Abriadi sembari berharap. (poy/jon)
Nirwan Bakrie : Saya Ingin Selamatkan Arema
SURABAYA,MalangPost - Keseriusan PT Arema Indonesia menjual klub Arema Indonesia, patut dipertanyakan. Pasalnya, sampai Selasa kemarin, Nirwan Dermawan Bakrie sebagai salah satu investor belum mengetahui persis seluk beluk rencana penjualan Arema. Padahal, secara bisnis Nirwan siap mengucurkan dana yang dibutuhkan manajemen.
Hal di atas disampaikan Nirwan Bakrie kepada Malang Post, melalui saluran telepon, Selasa sore. ‘’Bagaimana caranya kalau saya ingin menyelamatkan Arema. Lewat pintu mana,’’ ujarnya bernada tanya.
Secara implisit, anak ketiga dari keluarga Achmad Bakrie ini, memang tidak menyebutkan berapa rupiah yang telah disediakan untuk menyelamatkan Arema. Tetapi, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1959 ini, benar-benar ingin mengetahui berapa rupiah tahap awal harus dikucurkan.
‘’Kita mo lihat dulu, berapa dana awal yang dibutuhkan manajemen. Apakah harus melalui beberapa tahap, apa harus langsung sesuai kebutuhan,’’ kata Nirwan, yang sebelumnya telah mengucuri Arema senilai Rp 2,5 miliar melalui Surabaya Post, Surabaya.
Selain mempertanyakan soal finansial, Nirwan rupanya juga belum mengetahui persis model manajemen yang diterapkan Arema. Artinya, jika pendiri klub sepakbola Pelita Jaya ini hendak melakukan transaksi, uang tersebut harus diserahkan ke siapa. Karena, klub Arema sepengetahuan dia pemiliknya banyak sekali.
‘’Sekali lagi, harus lewat pintu mana, kalau Arema mau saya selamatkan. Lantas siapa orang yang paling menentukan dalam persoalan jual beli atau pengambilalihan Arema. Ini mesti jelas,’’ ucap Nirwan, yang juga adik ketiga Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Menurut Nirwan, pihaknya sangat ingin menyelamatkan Arema dari keterpurukan sekarang ini. Bagi Nirwan, klub sekelas Arema sangat disayangkan kalau terus menerus berdiri dalam keadaan tidak menentu. ‘’Penyelematan. Itu dulu yang perlu didahulukan. Jangan bicara yang lain,’’ ujarnya, yang ketika dihubungi tengah berada di kantornya.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Nirwan menyatakan, akan mengambil inisiatif untuk mencari dan menemui Rendra Kresna. Dan jika tidak ada halangan, kemungkinan Jumat, 20 Mei mendatang, pihaknya akan bertemu Rendra di acara Kongres PSSI di Sutan Hotel, Jakarta.
‘’Kalau memang dia (Rendra) mengetahui persis persoalan Arema sekarang dan ke depan, maka saya akan bicara dengannya. Saya mau tahu Arema secara detail dan mendalam, sebelum saya benar-benar mengambil langkah masuk Arema,’’ tuturnya bersemangat.
Terpisah, Presiden Kehormatan Arema, Rendra Kresna menyebut, untuk tahap awal, Arema bunuh dana segar minimal Rp 10 miliar. Dana itu untuk menutupi hutang pajak, gaji pemain dan gaji pelatih.
‘’Tahap awal, kita butuh minim Rp 10 miliar dulu. Karena, beban hutang yang sifatnya immediately (segera) tidak bisa ditunda-tunda lagi. Begitu ada uang, langsung kita bayar,’’ tandas Rendra Kresna.
Secara panjang lebar, Rendra yang ketika dihubungi tengah sibuk mengikuti Rapat Kerja Nasional SOKSI Indonesia di Medan, lantas menjlentrehkan rencananya menjual Arema ke investor. Dari penjelasannya itu pula, sangat diyakini kalau penyelamatan Arema tidak mungkin ditunda-tunda lagi.
Dikatakan Rendra, jika Nirwan Bakrie hendak mengambil Arema maka tidak ada jalan lain kecuali membeli 93 saham PT Arema Indonesia, yang kini dikuasai Yayasan Arema. Sedang tujuh persen sisa saham yang ada tidak mungkin dijual, karena bukan milik Yayasan Arema melainkan milik Lucky Acub Zainal.
‘’Saham itu milik mas Lucky sebagai saham kehormatan. Karena itu, yang bisa dijual hanya saham milik yayasan. Dan berapa harganya, tergantung bagaimana negoisasi antara yayasan dengan calon investor. Bisa Rp 20 miliar atau bisa juga Rp 30 miliar,’’ ujar Rendra.
Meski pintu masuk menguasai Arema melalui yayasan, kata Rendra, investor berhak mengatur dan menempatkan orang-orangnya di PT Arema Indonesia. Artinya, membeli saham yayasan sama artinya dengan membeli PT Arema Indonesia.
‘’Silakan, kalau harga sudah sepakat dan dananya sudah masuk, kepengurusan sepenuhnya ada di tangan investor baru,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini, secara organisatoris di tubuh Arema telah terbentuk Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia. Pembentukan PT Arema Indonesia tidak lain sebagai alat bisnis Yayasan Arema, yang bersifat nirlaba.
‘’Yayasan dibentuk sifatnya non profit. Agar yayasan tetap bisa jalan dan tidak menyalahi hukum maka dibentuklah PT Arema. Dan yang bisa menghentikan dan mengangkat pengurus yayasan adalah Dewan Pembina,’’ kata Rendra, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang ini.
Ditanya soal peluang Nirwan Bakrie masuk ke Arema, lelaki yang juga bupati Malang periode 2010-2015 ini menyebutkan, kelompok Bakrie Grup adalah perusahaan pertama yang harus diberi kesempatan pertama melakukan penawaran, bahkan bisa memiliki Arema.
Alasannya, karena Bakrie selama ini telah berbuat banyak untuk Arema agar tetap bisa berkompetisi di Indonesia Super Liga. Tetapi, secara resmi, Bakrie memang belum menyatakan menawar atau ingin membeli Arema.
‘’Sampai sekarang saya masih menunggu keseriusan beliau (Nirwan Bakrie). Karena, Bakrie harus didahulukan untuk menawar Arema,’’ pungkas Rendra dengan tetap tidak mau menyebutkan berapa harga jual Arema yang sebenarnya. (has/avi)
Hal di atas disampaikan Nirwan Bakrie kepada Malang Post, melalui saluran telepon, Selasa sore. ‘’Bagaimana caranya kalau saya ingin menyelamatkan Arema. Lewat pintu mana,’’ ujarnya bernada tanya.
Secara implisit, anak ketiga dari keluarga Achmad Bakrie ini, memang tidak menyebutkan berapa rupiah yang telah disediakan untuk menyelamatkan Arema. Tetapi, lelaki kelahiran Jakarta, 1 November 1959 ini, benar-benar ingin mengetahui berapa rupiah tahap awal harus dikucurkan.
‘’Kita mo lihat dulu, berapa dana awal yang dibutuhkan manajemen. Apakah harus melalui beberapa tahap, apa harus langsung sesuai kebutuhan,’’ kata Nirwan, yang sebelumnya telah mengucuri Arema senilai Rp 2,5 miliar melalui Surabaya Post, Surabaya.
Selain mempertanyakan soal finansial, Nirwan rupanya juga belum mengetahui persis model manajemen yang diterapkan Arema. Artinya, jika pendiri klub sepakbola Pelita Jaya ini hendak melakukan transaksi, uang tersebut harus diserahkan ke siapa. Karena, klub Arema sepengetahuan dia pemiliknya banyak sekali.
‘’Sekali lagi, harus lewat pintu mana, kalau Arema mau saya selamatkan. Lantas siapa orang yang paling menentukan dalam persoalan jual beli atau pengambilalihan Arema. Ini mesti jelas,’’ ucap Nirwan, yang juga adik ketiga Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.
Menurut Nirwan, pihaknya sangat ingin menyelamatkan Arema dari keterpurukan sekarang ini. Bagi Nirwan, klub sekelas Arema sangat disayangkan kalau terus menerus berdiri dalam keadaan tidak menentu. ‘’Penyelematan. Itu dulu yang perlu didahulukan. Jangan bicara yang lain,’’ ujarnya, yang ketika dihubungi tengah berada di kantornya.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Nirwan menyatakan, akan mengambil inisiatif untuk mencari dan menemui Rendra Kresna. Dan jika tidak ada halangan, kemungkinan Jumat, 20 Mei mendatang, pihaknya akan bertemu Rendra di acara Kongres PSSI di Sutan Hotel, Jakarta.
‘’Kalau memang dia (Rendra) mengetahui persis persoalan Arema sekarang dan ke depan, maka saya akan bicara dengannya. Saya mau tahu Arema secara detail dan mendalam, sebelum saya benar-benar mengambil langkah masuk Arema,’’ tuturnya bersemangat.
Terpisah, Presiden Kehormatan Arema, Rendra Kresna menyebut, untuk tahap awal, Arema bunuh dana segar minimal Rp 10 miliar. Dana itu untuk menutupi hutang pajak, gaji pemain dan gaji pelatih.
‘’Tahap awal, kita butuh minim Rp 10 miliar dulu. Karena, beban hutang yang sifatnya immediately (segera) tidak bisa ditunda-tunda lagi. Begitu ada uang, langsung kita bayar,’’ tandas Rendra Kresna.
Secara panjang lebar, Rendra yang ketika dihubungi tengah sibuk mengikuti Rapat Kerja Nasional SOKSI Indonesia di Medan, lantas menjlentrehkan rencananya menjual Arema ke investor. Dari penjelasannya itu pula, sangat diyakini kalau penyelamatan Arema tidak mungkin ditunda-tunda lagi.
Dikatakan Rendra, jika Nirwan Bakrie hendak mengambil Arema maka tidak ada jalan lain kecuali membeli 93 saham PT Arema Indonesia, yang kini dikuasai Yayasan Arema. Sedang tujuh persen sisa saham yang ada tidak mungkin dijual, karena bukan milik Yayasan Arema melainkan milik Lucky Acub Zainal.
‘’Saham itu milik mas Lucky sebagai saham kehormatan. Karena itu, yang bisa dijual hanya saham milik yayasan. Dan berapa harganya, tergantung bagaimana negoisasi antara yayasan dengan calon investor. Bisa Rp 20 miliar atau bisa juga Rp 30 miliar,’’ ujar Rendra.
Meski pintu masuk menguasai Arema melalui yayasan, kata Rendra, investor berhak mengatur dan menempatkan orang-orangnya di PT Arema Indonesia. Artinya, membeli saham yayasan sama artinya dengan membeli PT Arema Indonesia.
‘’Silakan, kalau harga sudah sepakat dan dananya sudah masuk, kepengurusan sepenuhnya ada di tangan investor baru,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini, secara organisatoris di tubuh Arema telah terbentuk Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Yayasan Arema dan PT Arema Indonesia. Pembentukan PT Arema Indonesia tidak lain sebagai alat bisnis Yayasan Arema, yang bersifat nirlaba.
‘’Yayasan dibentuk sifatnya non profit. Agar yayasan tetap bisa jalan dan tidak menyalahi hukum maka dibentuklah PT Arema. Dan yang bisa menghentikan dan mengangkat pengurus yayasan adalah Dewan Pembina,’’ kata Rendra, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang ini.
Ditanya soal peluang Nirwan Bakrie masuk ke Arema, lelaki yang juga bupati Malang periode 2010-2015 ini menyebutkan, kelompok Bakrie Grup adalah perusahaan pertama yang harus diberi kesempatan pertama melakukan penawaran, bahkan bisa memiliki Arema.
Alasannya, karena Bakrie selama ini telah berbuat banyak untuk Arema agar tetap bisa berkompetisi di Indonesia Super Liga. Tetapi, secara resmi, Bakrie memang belum menyatakan menawar atau ingin membeli Arema.
‘’Sampai sekarang saya masih menunggu keseriusan beliau (Nirwan Bakrie). Karena, Bakrie harus didahulukan untuk menawar Arema,’’ pungkas Rendra dengan tetap tidak mau menyebutkan berapa harga jual Arema yang sebenarnya. (has/avi)
Kamis, 05 Mei 2011
Tunggu Sikap Pengurus
Rapat Tertutup di De Liv, Kemarin Sore
MALANGPOST- Adanya keterlambatan gaji yang kini sudah 2,5 bulan dan minimnya perhatian pengurus disebut-sebut jadi pemicu menurunnya performa tim Arema belakang ini. Itu terlihat jelas saat Singo Edan kalah telak 0-4 atas Cerezo Osaka dalam pertandingan Liga Champions Asia di stadion Kanjuruhan, Selasa (3/5) kemarin.
Bahkan termasuk juga mulai menurunnya motivasi para pemain saat berlatih. Meski tak lagi ada aksi mogok latihan seperti yang sudah-sudah, latihan di Araya Family Club kemarin pagi terlihat banyak pemain yang kurang bersemangat.
Baik saat menjalani recovery maupun conditioning, pemain tampak kurang bergairah. Termasuk juga banyak pilar Arema memilih untuk tidak mengikuti program recovery yang sebenarnya berfungsi mengembalikan kebugaran pasca pertandingan lawan Cerezo.
“Bagaimana mau main bagus, hak kita memang belum dibayar, dan perhatian dari pengurus juga hampir tidak ada saat ini,” ungkap salah satu pemain Arema yang memaksa agar namanya tak disebutkan di Koran.
Tak hanya peraoalan gaji, menurut pemain ini bonus juga mulai tersendat. Sementara dari pengurus, setidaknya hingga kemarin, belum ada yang menemui pemain untuk bisa memecahkan persoalan finansial ini.
“Ya, kami sangat berharap agar pengurus atau yayasan bisa segera berbicara dan juga menyelesaikan sisa hak kami yang masih tertunda ini. Kalau tidak ada perhatian pengurus, bagaimana kita bisa menang apalagi juara,” kata pemain tersebut.
Pelatih Arema, Miroslav Janu pun membenarkan bahwa saat ini timnya membutuhkan perhatian dari pengurus. Selain untuk menyelesaikan persoalan gaji, kehadiran para pengurus dinilai juga bisa menyuntikkan motivasi kepada para pemain.
’’Sekarang tidak ada pengurus. Saya tidak bisa kontak Pak Nur, bahkan terakhir saya ketemu dia di Samarinda, pada partai away Arema. Dengan kondisi sekarang tanpa kehadiran pengurus, pasti susah untuk kami bisa jadi yang terbaik,” ungkap Miro.
Secara de Jure, Muhammad Nur masih menjadi pengurus Arema sebagai Ketua Yayasan Arema sekaligus Direktur PT Arema Indonesia. Meski selama ini, mantan Sekda Kota Malang itu memang sudah tak pernah muncul di Arema.
Meski tak pernah menangani Arema, M. Nur meyakinkan masih sebagai pemilik hak suara Arema. Sedangkan selama ini, manajemen Arema ditangani oleh Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian PT Arema Indonesia yang sebenarnya bukan pemegang kebijakn tertinggi di Arema.
“Jadi pengurus yang ditanyakan oleh Miro itu bukan pengurus yang ada disini, tapipengurus yang mengaku Arema di PSSI,” ungkap Abriadi kepada Malang Post saat ditemui di kantor Arema, kemarin sore.
Pengurus yang dimaksud tentunya M. Nur dan Siti Nurzanah yang kini sebagai anggota Komite Normalisasi PSSI. Seperti halnya M. Nur, secara de Jure, Nurzanah masih tercatat sebagai Direktur PT Arema Indonesia.
“Miro mengatakan, kenapa pengurus yang ngaku-ngaku Arema itu tidak melihat kondisi Arema saat ini. Kondisi Arema sebenarnya lebih urgent, karena Arema tidak ikut kongres sebenarnya juga tidak masalah,” terang Abriadi.
Kini, baik pemain, pelatih maupun manajemen Arema tengah menunggu sikap dari pengurus. Khususnya sikap dari Pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia, untuk mengelola atau lebih tepatnya menyelamatkan tim Arema ini.
Kebetulan dari pantauan Malang Post, pengurus Arema telah melakukan pertemuan tertutup di Café De Liv, di jalan Semeru, kemarin sore. Hingga tadi malam, belum bisa dipastikan siapa-siapa yang hadir dalam pertemuan tersebut.
“Maaf, sementara (hasil pertemuan pengurus) ini masih off the record,” sebut manajer media officer Arema, Sudarmaji saat dikonfirmasi perihal adanya pertemuan yang digagas oleh Presiden Club Arema, Rendra Kresna tersebut. (mg3/bua)
MALANGPOST- Adanya keterlambatan gaji yang kini sudah 2,5 bulan dan minimnya perhatian pengurus disebut-sebut jadi pemicu menurunnya performa tim Arema belakang ini. Itu terlihat jelas saat Singo Edan kalah telak 0-4 atas Cerezo Osaka dalam pertandingan Liga Champions Asia di stadion Kanjuruhan, Selasa (3/5) kemarin.
Bahkan termasuk juga mulai menurunnya motivasi para pemain saat berlatih. Meski tak lagi ada aksi mogok latihan seperti yang sudah-sudah, latihan di Araya Family Club kemarin pagi terlihat banyak pemain yang kurang bersemangat.
Baik saat menjalani recovery maupun conditioning, pemain tampak kurang bergairah. Termasuk juga banyak pilar Arema memilih untuk tidak mengikuti program recovery yang sebenarnya berfungsi mengembalikan kebugaran pasca pertandingan lawan Cerezo.
“Bagaimana mau main bagus, hak kita memang belum dibayar, dan perhatian dari pengurus juga hampir tidak ada saat ini,” ungkap salah satu pemain Arema yang memaksa agar namanya tak disebutkan di Koran.
Tak hanya peraoalan gaji, menurut pemain ini bonus juga mulai tersendat. Sementara dari pengurus, setidaknya hingga kemarin, belum ada yang menemui pemain untuk bisa memecahkan persoalan finansial ini.
“Ya, kami sangat berharap agar pengurus atau yayasan bisa segera berbicara dan juga menyelesaikan sisa hak kami yang masih tertunda ini. Kalau tidak ada perhatian pengurus, bagaimana kita bisa menang apalagi juara,” kata pemain tersebut.
Pelatih Arema, Miroslav Janu pun membenarkan bahwa saat ini timnya membutuhkan perhatian dari pengurus. Selain untuk menyelesaikan persoalan gaji, kehadiran para pengurus dinilai juga bisa menyuntikkan motivasi kepada para pemain.
’’Sekarang tidak ada pengurus. Saya tidak bisa kontak Pak Nur, bahkan terakhir saya ketemu dia di Samarinda, pada partai away Arema. Dengan kondisi sekarang tanpa kehadiran pengurus, pasti susah untuk kami bisa jadi yang terbaik,” ungkap Miro.
Secara de Jure, Muhammad Nur masih menjadi pengurus Arema sebagai Ketua Yayasan Arema sekaligus Direktur PT Arema Indonesia. Meski selama ini, mantan Sekda Kota Malang itu memang sudah tak pernah muncul di Arema.
Meski tak pernah menangani Arema, M. Nur meyakinkan masih sebagai pemilik hak suara Arema. Sedangkan selama ini, manajemen Arema ditangani oleh Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian PT Arema Indonesia yang sebenarnya bukan pemegang kebijakn tertinggi di Arema.
“Jadi pengurus yang ditanyakan oleh Miro itu bukan pengurus yang ada disini, tapipengurus yang mengaku Arema di PSSI,” ungkap Abriadi kepada Malang Post saat ditemui di kantor Arema, kemarin sore.
Pengurus yang dimaksud tentunya M. Nur dan Siti Nurzanah yang kini sebagai anggota Komite Normalisasi PSSI. Seperti halnya M. Nur, secara de Jure, Nurzanah masih tercatat sebagai Direktur PT Arema Indonesia.
“Miro mengatakan, kenapa pengurus yang ngaku-ngaku Arema itu tidak melihat kondisi Arema saat ini. Kondisi Arema sebenarnya lebih urgent, karena Arema tidak ikut kongres sebenarnya juga tidak masalah,” terang Abriadi.
Kini, baik pemain, pelatih maupun manajemen Arema tengah menunggu sikap dari pengurus. Khususnya sikap dari Pengurus Yayasan dan Direksi PT Arema Indonesia, untuk mengelola atau lebih tepatnya menyelamatkan tim Arema ini.
Kebetulan dari pantauan Malang Post, pengurus Arema telah melakukan pertemuan tertutup di Café De Liv, di jalan Semeru, kemarin sore. Hingga tadi malam, belum bisa dipastikan siapa-siapa yang hadir dalam pertemuan tersebut.
“Maaf, sementara (hasil pertemuan pengurus) ini masih off the record,” sebut manajer media officer Arema, Sudarmaji saat dikonfirmasi perihal adanya pertemuan yang digagas oleh Presiden Club Arema, Rendra Kresna tersebut. (mg3/bua)
Loyalitas Mulai Dipertanyakan!
MALANGPOST -Hanya mendapat dukungan tak sampai 2.000 Aremania, saat Arema menjamu Cerezo Osaka, Selasa (3/5) kemarin, menjadi tanda tanya besar.
Di laga Liga Champions Asia itu, tepatnya ada 1.812 Aremania yang datang ke Stadion Kanjuruhan. Padahal kapasitas stadion milik Pemkab Malang ini berjumlah 35 ribu penonton, dan hanya terisi sekitar tiga ribu penonton.
Itu termasuk pendukung tim tamu yang berjumlah 1.300 orang hadir di Kanjuruhan. Suporter tim Cerezo yang sebagian besar karyawan Yanmar ini mampu memberi ‘perlawanan’ pada Aremania yang terkonsentrasi di tribun timur.
’’Kenapa Aremania tidak lihat tim Jepang? Ini tim bagus di Asia, jarang sekali kita bisa melihat pemain-pemain bagus dari Jepang datang ke Malang,’’ ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu melihat kondisi stadion yang sepi penonton.
Menurut pelatih asal Republik Ceko ini, harusnya Aremania minimal datang untuk menyaksikan permainan tim Jepang. Apalagi laga Arema menghadapi Cerezo Osaka itu adalah laga home terakhir Arema di ajang LCA musim.
‘’Kita belum tahu, kapan lagi Arema bisa main di LCA. Kenapa Aremania tidak datang dan stadion sepi, Arema juga tidak turunkan tim cadangan,’’ terang Miro yang sebelumnya masih berharap Aremania datang untuk memadati stadion.
Kondisi ini pun, sedikit banyak telah mempangaruhi penampilan tim Arema yang selama ini memang bertanding untuk Aremania. Termasuk tim Arema banyak mengharapkan pemasukan dari hasil penjualan tiket di setiap laga home.
‘’Jelas sangat berpengaruh. Selama ini yang bisa memberi semangat adalah suporter. Tanpa mereka kita tidak ada apa-apanya,’’ sebut asisten pelatih Arema, Tony Ho kepada Malang Post, kemarin sore.
‘’Ya, kemarin memang terasa paling sepi. Kalau menurut saya, ada pengaruhnya, karena selama ini dukungan Aremania bisa menjadikan motivasi untuk bermain habis-habisan dan membuat pemain semangat,’’ imbuh Dwi Sasmianto, pelatih kiper Arema.
Sepinya Aremania yang datang menyaksikan pertandingan level Asia ini pun membuat tim Arema tak habis pikir. Bahkan ada pemain yang mulai mempertanyakan loyalitas Aremania yang selama ini sebenarnya cukup solid mendukung Arema.
‘’Kita seperti main di partai usiran. Kita tidak bermain di kandang sendiri disaat tim terpuruk dengan masalah internal yang tak kunjung selesai. Dukungan dari supporter kita yang setidaknya dapat membangkitkan motivasi kita ternyata tidak seperti sebelum-sebelumnya,’’ ungkap Ahmad Bustomi
‘’Padahal semua pemain mau bertahan karena adanya Aremania dan Aremanita semua. Kemarin kita jadi tahu, mana yang benar-benar loyal pada tim Arema sendiri,’’ sambung gelandang Arema ini mengakui tim Arema memang sulit untuk bersaing di LCA.
Namun untuk kompetisi ISL (Indonesia Super League) menurutnya tim Arema masih bisa bersaing di papan atas, sekalipun kondisinya seperti saat ini. Sehingga menurut Bustomi, prestasi pemain dengan gaji selalu telat ini masih cukup bagus.
’’Pemain sudah melaksanakan semua kewajiban walaupun hak-hak kita belum semua terbayarkan. Jadi jangan tanyakan kepada kami tentang arti loyalitas. Sudah jelas semua, biarkan masyarakat yang menilai,’’ terang Bustomi.
’’Saat kita tahu jumlah penonton sedikit, pasti itu berpengaruh kepada kami, apalagi kita mengharapkan pemasukan dari tiket. Kalau penontonnya sedikit, apa yang bisa dibuat bayar pemain,’’ sambung salah stu pilar Arema yang tak mau namanya disebutkan di koran.
’’Memang bayar gaji pemain itu tugas pengurus. Tapi kita sekarang mempertanyakan dimana loyalitas Aremania yang katanya sebagai pemilik tim Arema dan punya loyalitas tanpa batas. Jadi kita mempertanyakan Aremania yang selalu bicara soal loyalitas,’’ sambung pemain ini.
Salah satu pemain yang selalu masuk starting line up Arema ini pun mempertanyakan Aremania yang sempat menjadi saksi penandatangan kesepakatan pemain Arema dengan manajemen Arema perihal pembayaran gaji yang dijanjikan bakal selalu tepat waktu.
’’Selama karir saya, baru kali ini Arema ditonton tak lebih dari 2.000 Aremania saat lawan tim asing. Menurut saya ada hikmahnya. Semua harus intropeksi, bahwa Arema adalah kebersamaan. Disitu bisa kita jadikan hikmah, sebagai awal titik sadar bahwa Arema harus kita selamatkan, pengurus, tim (pemain, pelatih dan staf) dan Aremania,’’ yakin Joko Susilo, asisten pelatih Arema.
Tak hanya tim Aremania yang menyesalkan minimnya dukungan laga kandang Arema yang disiarkan langsung di Indonesia dan Jepang itu. Bahkan pertandingan ini rencananya juga akan disiarkan ulang oleh jaringan telvisi internasional, ESPN.
’’Tragis, karena banyak korwil baru dan kata manajemen korwil sudah ratusan, kemana mereka? Apakah bikin korwil tujuannya biar mudah dapat tiket pas bigmatch?’’ komentar Fuad Ardiansyah, Aremania Cili menyaksikan laga Arema tanpa dukungan penuh Aremania itu.
’’Ayas kemarin juga miris lihat stadion yang kosong, ya mungkin itu bisa disebabkan karena kekalahan beruntun Arema, permainan yang monoton dan pelatih yang kurang bisa mengambil hari suporter,’’ tambah Hansano, Aremania Plat AE.
’’Tapi semoga itu cukup kemarin saja stadion kosong. Insya Allah pada pertandingan empat laga home terakhir Arema akan dipenuhi oleh kawan-kawan Aremania,’’ lanjut Hansano kepada Malang Post.
Sedangkan Naji, Aremania Klayatan ini bisa memaklumi kondisi Aremania yang tak bisa memaksakan datang langsung disaat hari kerja, Selasa (3/5) kemarin.
’’Aremania juga manusia yang butuh kerja untuk menghidupi keluarga dan tentunya loyalitas tidak bisa diukur dari kedatangan Aremania ke stadion. Aremania bukan mesin pencetak uang. Darimana Aremania dapat uang, kalau tidak kerja,’’ katanya.
Lalu menurut Amin, Aremania Jalur Gaza, Sukorejo, sepinya penonton itu akibat kerja pengurus dan pemain yang tidak sungguh-sungguh menghadapi pertandingan LCA. ’’Even yang levelnya lebih tinggi yaitu tampil di LCA dilihat sebelah mata, akibatnya Aremania malas nonton LCA,’’ ucap Amin. (bua)
Di laga Liga Champions Asia itu, tepatnya ada 1.812 Aremania yang datang ke Stadion Kanjuruhan. Padahal kapasitas stadion milik Pemkab Malang ini berjumlah 35 ribu penonton, dan hanya terisi sekitar tiga ribu penonton.
Itu termasuk pendukung tim tamu yang berjumlah 1.300 orang hadir di Kanjuruhan. Suporter tim Cerezo yang sebagian besar karyawan Yanmar ini mampu memberi ‘perlawanan’ pada Aremania yang terkonsentrasi di tribun timur.
’’Kenapa Aremania tidak lihat tim Jepang? Ini tim bagus di Asia, jarang sekali kita bisa melihat pemain-pemain bagus dari Jepang datang ke Malang,’’ ungkap pelatih Arema, Miroslav Janu melihat kondisi stadion yang sepi penonton.
Menurut pelatih asal Republik Ceko ini, harusnya Aremania minimal datang untuk menyaksikan permainan tim Jepang. Apalagi laga Arema menghadapi Cerezo Osaka itu adalah laga home terakhir Arema di ajang LCA musim.
‘’Kita belum tahu, kapan lagi Arema bisa main di LCA. Kenapa Aremania tidak datang dan stadion sepi, Arema juga tidak turunkan tim cadangan,’’ terang Miro yang sebelumnya masih berharap Aremania datang untuk memadati stadion.
Kondisi ini pun, sedikit banyak telah mempangaruhi penampilan tim Arema yang selama ini memang bertanding untuk Aremania. Termasuk tim Arema banyak mengharapkan pemasukan dari hasil penjualan tiket di setiap laga home.
‘’Jelas sangat berpengaruh. Selama ini yang bisa memberi semangat adalah suporter. Tanpa mereka kita tidak ada apa-apanya,’’ sebut asisten pelatih Arema, Tony Ho kepada Malang Post, kemarin sore.
‘’Ya, kemarin memang terasa paling sepi. Kalau menurut saya, ada pengaruhnya, karena selama ini dukungan Aremania bisa menjadikan motivasi untuk bermain habis-habisan dan membuat pemain semangat,’’ imbuh Dwi Sasmianto, pelatih kiper Arema.
Sepinya Aremania yang datang menyaksikan pertandingan level Asia ini pun membuat tim Arema tak habis pikir. Bahkan ada pemain yang mulai mempertanyakan loyalitas Aremania yang selama ini sebenarnya cukup solid mendukung Arema.
‘’Kita seperti main di partai usiran. Kita tidak bermain di kandang sendiri disaat tim terpuruk dengan masalah internal yang tak kunjung selesai. Dukungan dari supporter kita yang setidaknya dapat membangkitkan motivasi kita ternyata tidak seperti sebelum-sebelumnya,’’ ungkap Ahmad Bustomi
‘’Padahal semua pemain mau bertahan karena adanya Aremania dan Aremanita semua. Kemarin kita jadi tahu, mana yang benar-benar loyal pada tim Arema sendiri,’’ sambung gelandang Arema ini mengakui tim Arema memang sulit untuk bersaing di LCA.
Namun untuk kompetisi ISL (Indonesia Super League) menurutnya tim Arema masih bisa bersaing di papan atas, sekalipun kondisinya seperti saat ini. Sehingga menurut Bustomi, prestasi pemain dengan gaji selalu telat ini masih cukup bagus.
’’Pemain sudah melaksanakan semua kewajiban walaupun hak-hak kita belum semua terbayarkan. Jadi jangan tanyakan kepada kami tentang arti loyalitas. Sudah jelas semua, biarkan masyarakat yang menilai,’’ terang Bustomi.
’’Saat kita tahu jumlah penonton sedikit, pasti itu berpengaruh kepada kami, apalagi kita mengharapkan pemasukan dari tiket. Kalau penontonnya sedikit, apa yang bisa dibuat bayar pemain,’’ sambung salah stu pilar Arema yang tak mau namanya disebutkan di koran.
’’Memang bayar gaji pemain itu tugas pengurus. Tapi kita sekarang mempertanyakan dimana loyalitas Aremania yang katanya sebagai pemilik tim Arema dan punya loyalitas tanpa batas. Jadi kita mempertanyakan Aremania yang selalu bicara soal loyalitas,’’ sambung pemain ini.
Salah satu pemain yang selalu masuk starting line up Arema ini pun mempertanyakan Aremania yang sempat menjadi saksi penandatangan kesepakatan pemain Arema dengan manajemen Arema perihal pembayaran gaji yang dijanjikan bakal selalu tepat waktu.
’’Selama karir saya, baru kali ini Arema ditonton tak lebih dari 2.000 Aremania saat lawan tim asing. Menurut saya ada hikmahnya. Semua harus intropeksi, bahwa Arema adalah kebersamaan. Disitu bisa kita jadikan hikmah, sebagai awal titik sadar bahwa Arema harus kita selamatkan, pengurus, tim (pemain, pelatih dan staf) dan Aremania,’’ yakin Joko Susilo, asisten pelatih Arema.
Tak hanya tim Aremania yang menyesalkan minimnya dukungan laga kandang Arema yang disiarkan langsung di Indonesia dan Jepang itu. Bahkan pertandingan ini rencananya juga akan disiarkan ulang oleh jaringan telvisi internasional, ESPN.
’’Tragis, karena banyak korwil baru dan kata manajemen korwil sudah ratusan, kemana mereka? Apakah bikin korwil tujuannya biar mudah dapat tiket pas bigmatch?’’ komentar Fuad Ardiansyah, Aremania Cili menyaksikan laga Arema tanpa dukungan penuh Aremania itu.
’’Ayas kemarin juga miris lihat stadion yang kosong, ya mungkin itu bisa disebabkan karena kekalahan beruntun Arema, permainan yang monoton dan pelatih yang kurang bisa mengambil hari suporter,’’ tambah Hansano, Aremania Plat AE.
’’Tapi semoga itu cukup kemarin saja stadion kosong. Insya Allah pada pertandingan empat laga home terakhir Arema akan dipenuhi oleh kawan-kawan Aremania,’’ lanjut Hansano kepada Malang Post.
Sedangkan Naji, Aremania Klayatan ini bisa memaklumi kondisi Aremania yang tak bisa memaksakan datang langsung disaat hari kerja, Selasa (3/5) kemarin.
’’Aremania juga manusia yang butuh kerja untuk menghidupi keluarga dan tentunya loyalitas tidak bisa diukur dari kedatangan Aremania ke stadion. Aremania bukan mesin pencetak uang. Darimana Aremania dapat uang, kalau tidak kerja,’’ katanya.
Lalu menurut Amin, Aremania Jalur Gaza, Sukorejo, sepinya penonton itu akibat kerja pengurus dan pemain yang tidak sungguh-sungguh menghadapi pertandingan LCA. ’’Even yang levelnya lebih tinggi yaitu tampil di LCA dilihat sebelah mata, akibatnya Aremania malas nonton LCA,’’ ucap Amin. (bua)
Sabtu, 30 April 2011
Empat Pemain Dipanggil Timnas
MALANG-Tim Arema harus siap-siap untuk ditinggal beberapa pemainnya yang akan bergabung dengan Timnas U-23. Khususnya jelang perhelatan Sea Games 2011 ini, beberapa pemain Arema dipanggil untuk mengikuti persiapan Timnas U-23.
Menurut surat pemanggilan pemain Timnas U-23 oleh Badan Tim Nasional, ada empat pemain Arema yang akan bergabung. Empat pemain itu adalah Kurnia Meiga Hermansyah, Irfan Raditya, Yongki Ariwibowo dan Dendi Santoso.
Surat panggilan untuk empat pemain Arema ini diterima manajemen kemariun sore, dan langsung disampaikan kepada headcoach Miroslav Janu. Menurut rencana, empat pemain tersebut sudah harus berkumpul di Jakarta, Senin (2/5) lusa.
“Empat pemain yang dipanggil itu adalah Meiga, Irfan, Dendi dan Yongki, mereka harus kumpul di hotel Atlet, Jaakarta, tanggal 2 Mei,” ungkap Sekretaris Tim Arema, Muhammad Taufan usai menyampaikan panggilan empat pemain tersebut kepada Miro.
Rencananya, 3 Mei mendatang, Timnas U-23 yang bakal ditangani Rahmad Dharmawan ini akan menggelar internal meeting di Jakarta. Disusul berikutnya dilakukan tes Kesehatan, 4 Mei, tes fisik 5-6 Mei dan caracter building, 7-12 mei.
Persoalannya dari agenda Timnas U-23 untuk persiapan Sea Games tersebut, bersamaan dengan dua laga terakhir Arema di ajang LCA. Yaitu saat Arema menjamu tim asal Jepang, Cerezo Osaka, 3 Mei dan saat away ke Korea lawan Jeonbuk Hyundai Motors, 10 Mei.
Miro pun tampaknya tak bisa berbuat banyak, jika Timnas U-23 tidak memberi dispensasi pemainnya untuk ikut LCA. “Ya, kita mau apa lagi, kalau mereka memang dipanggil timnas,” terang pelatih asal Republik Ceko ini.
Jika sesui agenda, pemanggilan empat pemain Arema ini masih seleksi. Menyusul dengan pelatih baru, Rahmad Dharmawan tentu akan memilih pemain sesuai dengan kebutuhannya, dan proses seleksi renacananya melibatkan pemain dari kompetisi Liga Primer Indonesia.
Selain serangkaian tes kesehatan dan tes fisik, Rahmad Dharmawan rencanana akan mengikutkan Timnas U-23 di ajang Piala AFF U-23. Turnamen yang digelar di Palembang, 18-24 Mei ini bakal dimanfaatkannya untuk melakukan proses seleksi pemain untuk Sea Games.
Sementara itu, kapten tim Arema, Noh Alamshah menyangkan jadwal pemanggilan pemain Timnas ini bersamaan dengan jadwal pertandingan Arema di LCA. Padahal menurutnya pertandingan LCA itu sangat penting untuk menambah pengalaman pemain Arema.
“Harusnya Timnas bisa mendahulukan pertandingan LCA itu, karena satu pertandingan LCA itu sama dengan 5 atau 10 pertandingan kompetisi Liga Super. Pertandingan LCA ini penting untuk menambah pengalaman pemain muda,” terang striker Arema asal Singapura ini. (bua)
Menurut surat pemanggilan pemain Timnas U-23 oleh Badan Tim Nasional, ada empat pemain Arema yang akan bergabung. Empat pemain itu adalah Kurnia Meiga Hermansyah, Irfan Raditya, Yongki Ariwibowo dan Dendi Santoso.
Surat panggilan untuk empat pemain Arema ini diterima manajemen kemariun sore, dan langsung disampaikan kepada headcoach Miroslav Janu. Menurut rencana, empat pemain tersebut sudah harus berkumpul di Jakarta, Senin (2/5) lusa.
“Empat pemain yang dipanggil itu adalah Meiga, Irfan, Dendi dan Yongki, mereka harus kumpul di hotel Atlet, Jaakarta, tanggal 2 Mei,” ungkap Sekretaris Tim Arema, Muhammad Taufan usai menyampaikan panggilan empat pemain tersebut kepada Miro.
Rencananya, 3 Mei mendatang, Timnas U-23 yang bakal ditangani Rahmad Dharmawan ini akan menggelar internal meeting di Jakarta. Disusul berikutnya dilakukan tes Kesehatan, 4 Mei, tes fisik 5-6 Mei dan caracter building, 7-12 mei.
Persoalannya dari agenda Timnas U-23 untuk persiapan Sea Games tersebut, bersamaan dengan dua laga terakhir Arema di ajang LCA. Yaitu saat Arema menjamu tim asal Jepang, Cerezo Osaka, 3 Mei dan saat away ke Korea lawan Jeonbuk Hyundai Motors, 10 Mei.
Miro pun tampaknya tak bisa berbuat banyak, jika Timnas U-23 tidak memberi dispensasi pemainnya untuk ikut LCA. “Ya, kita mau apa lagi, kalau mereka memang dipanggil timnas,” terang pelatih asal Republik Ceko ini.
Jika sesui agenda, pemanggilan empat pemain Arema ini masih seleksi. Menyusul dengan pelatih baru, Rahmad Dharmawan tentu akan memilih pemain sesuai dengan kebutuhannya, dan proses seleksi renacananya melibatkan pemain dari kompetisi Liga Primer Indonesia.
Selain serangkaian tes kesehatan dan tes fisik, Rahmad Dharmawan rencanana akan mengikutkan Timnas U-23 di ajang Piala AFF U-23. Turnamen yang digelar di Palembang, 18-24 Mei ini bakal dimanfaatkannya untuk melakukan proses seleksi pemain untuk Sea Games.
Sementara itu, kapten tim Arema, Noh Alamshah menyangkan jadwal pemanggilan pemain Timnas ini bersamaan dengan jadwal pertandingan Arema di LCA. Padahal menurutnya pertandingan LCA itu sangat penting untuk menambah pengalaman pemain Arema.
“Harusnya Timnas bisa mendahulukan pertandingan LCA itu, karena satu pertandingan LCA itu sama dengan 5 atau 10 pertandingan kompetisi Liga Super. Pertandingan LCA ini penting untuk menambah pengalaman pemain muda,” terang striker Arema asal Singapura ini. (bua)
Langganan:
Postingan (Atom)