MALANGPOST – Satu per satu pemain resmi skuad Arema Indonesia menginjakkan kakinya di kandang singa. Kali ini, giliran penyerang lincah, Talaohu Abdul Musafri yang mulai gabung dalam serangkaian program persiapan menyambut musim mendatang oleh tim Singo Edan. Dia langsung ikut menjalani tes fisik bersama Saktiawan Sinaga dkk di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, sore kemarin.
Mantan pemain Persiter Ternate ini mengaku baru tiba di kota Malang, siang kemarin. Meski demikian, dia tidak merasa lelah ataupun letih setelah menjalani perjalanan udara dari rumah keluarga besar istrinya, di Lampung ke Malang. Sore harinya, Musafri memutuskan untuk langsung gabung rekan setimnya, tak terkecuali melahap serangkaian beep test Arema. Buah semangat tingginya, dia meraih catatan terbaik dalam pelaksanaan hari pertama test fisik tersebut.
Musafri menyelesaikan tingkatan tes, pada level 13 tahap 2. Musafri unggul dari raihan level pemain resmi Arema yang sebelumnya lebih dahulu gabung latihan tim. Meliputi, Johan Al Farizi (level 12 tahap 2), kiper Dian Agus Prasetyo dan Leonard Tupamahu yang kompak hingga level 11 tahap 2, Waluyo pada level 10 tahap 5 dan Juan Revi Auriqto level 10. Sepanjang membela Arema semusim lalu, Musafri tercatat pemain yang mampu secara baik menjaga kondisinya.
‘’Saya hanya coba maksimal saja dan mengimbagi pemain-pemain muda saat barengan jalani test tadi (sore kemarin, Red). Saya tidak harus paksakan masuk level berapa. Saya jalani dengan semampunya, tidak perlu dikurangi dan ditambah-tambah,” terang Musafri seusai geberan beep test berakhir, petang kemarin.
Disisi lain, optimisme memberikan yang terbaik bagi Arema diapungkan mantan top skor Liga Indonesia bersama di Persiba Balikpapan ini. Musafri siap bersaing meraih tempat utama di tim sembari percaya sepenuhnya kepada tim pelatih. Paling tidak, dia kini harus bersaing berebut tempat dengan bomber seperti Saktiawan Sinaga dan Yongki Ariwibowo.
Sebagai modal, dirinya akan berusaha selalu dalam posisi terbaik dan siap tampil membela Singo Edan musim depan. ‘’Saya akan berusaha memberikan yang terbaik buat Arema, tentunya harus lebih baik lagi dibanding sebelumnya,” tutup pemain bernomor punggung 29 Arema ini. (poy/bua)
Sabtu, 10 September 2011
Fisik Pemain Memuaskan
MALANGPOST – Serangkaian persiapan coba disusun skuad Arema Indonesia menghadapi kompetisi professional level I musim depan. Sore kemarin, tim pelatih Singo Edan giliran menuangkan tes ketahanan fisik (endurance) bagi pemain di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Mereka ingin mengetahui sejauhmana tingkatan endurance terakhir dan mengukur VO2 Maks pemain sebagai bahan acuan pelatih dalam melanjutkan program latihan kedepannya.
Sesuai agenda, tes fisik ini digeber dalam dua hari beruntun, kemarin dan sore ini. Pada hari pertama pelaksanaan, tim pelatih yang dibantu tenaga dari fakultas ilmu keolahragaaan Universitas Malang (UM) ini lebih ke konsentrasi pada penggemblengan materi beep test.
Pemain berlari melintasi lintasan berjarak 20 meter dengan tahapan level tempo semakin cepat. Sedangkan, hari kedua tes, sore ini pemain akan dihadapkan menu pengukuran tingkatan endurance yang dikemas dengan materi kelincahan.
Khusus untuk beep test, asisten pelatih Arema, Joko ‘Gethuk’ Susilo membagi amunisinya menjadi empat grup. Grup I : Leonard Tupamahu, Purwaka Yudhi, Waluyo, Aji Saka (gk), Dian Agus Prasetyo (gk) dan Teguh Amirudin (gk). Grup II : Roman Golian, Saktiawan Sinaga, Juan Revi, Esteban Guilien, Johan Alfarizi dan Dicho Kurniawan. Grup III : Musafri, Andri Lesmana, Zaenal Soli, Gilang Dedik Permadi dan Lucky Ariawan. Grup IV : Andik, Dedik Priyo, Teguh Ary, Darmawan dan M Rofik.
‘’Dari tes ini, kami bisa mengetahui perkembangan terakhir dari tingkat endurance pemain. Meski belum terima hasil dari tes ini, kami melihat kondisi endurance pemain baik dengan menjalani test maksimal. Kondisi itu tentunya sesuai harapan kami,” terang Joko kepada Malang Post, seusai memimpin beep test, petang kemarin.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, TA Musafri menjadi pemain yang memiliki tingkatan endurance terbaik. Striker asal Ternate ini mampu melalui tingkatan level 13 tahap 2 yang jauh unggul diatas raihan level pemain lainnya. Diluar dugaan, dibawah catatan Musafri, dua pemain Arema Indonesia U-21 berhasil menjadi yang terbaik, Zaenal Soli dan Dicho Kurniawan yang sukses melalui level 12.
Kiper baru Arema, Dian Agus Prasetyo meraih catatan terbaik di sektor penjaga gawang mengungguli Aji Saka dan Teguh Amirudin, kiper Arema U-21. Mantan kiper Pelita Jaya Karawang ini mampu menggapai level 11 tahap 2. Sedangkan Aji hanya mampu melewati level 8. Sedangkan, pemain resmi Arema lainnya yang meraih catatan baik adalah Johan Al Farizi (level 12 tahap 2).
‘’Besok (hari ini, Red), kami melanjutkan tes fisik. Materi test nantinya diantaranya terdapat kelincahan dan jump. Tes fisik ini penting bagi kami dan pemain sebelum berlanjut ke program persiapan tim kedepannya,” pungkas Gethuk. (poy/bua)
Sesuai agenda, tes fisik ini digeber dalam dua hari beruntun, kemarin dan sore ini. Pada hari pertama pelaksanaan, tim pelatih yang dibantu tenaga dari fakultas ilmu keolahragaaan Universitas Malang (UM) ini lebih ke konsentrasi pada penggemblengan materi beep test.
Pemain berlari melintasi lintasan berjarak 20 meter dengan tahapan level tempo semakin cepat. Sedangkan, hari kedua tes, sore ini pemain akan dihadapkan menu pengukuran tingkatan endurance yang dikemas dengan materi kelincahan.
Khusus untuk beep test, asisten pelatih Arema, Joko ‘Gethuk’ Susilo membagi amunisinya menjadi empat grup. Grup I : Leonard Tupamahu, Purwaka Yudhi, Waluyo, Aji Saka (gk), Dian Agus Prasetyo (gk) dan Teguh Amirudin (gk). Grup II : Roman Golian, Saktiawan Sinaga, Juan Revi, Esteban Guilien, Johan Alfarizi dan Dicho Kurniawan. Grup III : Musafri, Andri Lesmana, Zaenal Soli, Gilang Dedik Permadi dan Lucky Ariawan. Grup IV : Andik, Dedik Priyo, Teguh Ary, Darmawan dan M Rofik.
‘’Dari tes ini, kami bisa mengetahui perkembangan terakhir dari tingkat endurance pemain. Meski belum terima hasil dari tes ini, kami melihat kondisi endurance pemain baik dengan menjalani test maksimal. Kondisi itu tentunya sesuai harapan kami,” terang Joko kepada Malang Post, seusai memimpin beep test, petang kemarin.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, TA Musafri menjadi pemain yang memiliki tingkatan endurance terbaik. Striker asal Ternate ini mampu melalui tingkatan level 13 tahap 2 yang jauh unggul diatas raihan level pemain lainnya. Diluar dugaan, dibawah catatan Musafri, dua pemain Arema Indonesia U-21 berhasil menjadi yang terbaik, Zaenal Soli dan Dicho Kurniawan yang sukses melalui level 12.
Kiper baru Arema, Dian Agus Prasetyo meraih catatan terbaik di sektor penjaga gawang mengungguli Aji Saka dan Teguh Amirudin, kiper Arema U-21. Mantan kiper Pelita Jaya Karawang ini mampu menggapai level 11 tahap 2. Sedangkan Aji hanya mampu melewati level 8. Sedangkan, pemain resmi Arema lainnya yang meraih catatan baik adalah Johan Al Farizi (level 12 tahap 2).
‘’Besok (hari ini, Red), kami melanjutkan tes fisik. Materi test nantinya diantaranya terdapat kelincahan dan jump. Tes fisik ini penting bagi kami dan pemain sebelum berlanjut ke program persiapan tim kedepannya,” pungkas Gethuk. (poy/bua)
Jumat, 09 September 2011
Sunarto-Roman Cedera
MALANGPOST - Belum genap sepekan menggeber latihan, badai cedera mulai menghampiri skuad Arema Indonesia. Dua pemain Singo Edan, Sunarto dan Chmelo ‘CR-9’ Roman terpaksa harus tersingkir dari menu latihan tim yang digeber di Lapangan Tunjung Sekar, Lowokwaru, sore kemarin. Keduanya mengalami cedera pada bagian paha kanannya.
Sunarto kembali mengalami luka sobek pada otot paha kanannya. Cedera itu terdeteksi cedera lama yang sempat dialami Sunarto pada musim kemarin. Bomber muda jebolan Akademi Arema ini diperkirakan harus absen dalam tiga sampai empat minggu kedepan untuk memaksimalkan proses penyembuhannya.
‘’Cedera Sunarto bukan termasuk hamstring, tapi ada luka sobek pada paha kanannya. Luka itu sepertinya luka lama yang sebelumnya dialaminya, karena letaknya sama. Kami masih memeriksanya. Dia harus istirahat tiga sampai empat pekan,” terang Dokter tim Arema, Alberts Rudianto kepada Malang Post, sore kemarin.
Lain Sunarto, lain halnya Roman. Gelandang asal Slovakia ini mengalami cedera hamstring paha kanannya. Disaat menanti kepastian perpanjangan kontrak, dia harus menjalani progam pemulihan cedera. Kontraknya di Arema akan berakhir pada akhir September, nanti. Belum ada rilis dari manajemen terkait perpanjangan kontraknya.
Berbeda dengan Sunato, Roman harus absen beberapa hari kedepan demi memaksimalkan program pemulihan cederanya. Menurut dokter Arema, cedera itu mulai dirasakan Roman disaat melahap game dalam rangkaian menu latihan tim di Lapangan Tunjung Sekar, Rabu (7/9) lalu.
Meski cedera, mereka berdua cukup disiplin dengan tetap hadir pada latihan tim dan menjalani latihan ringan di lapanga yang sama, sore kemarin. ''Roman alami cedera hamstring pada bagian depan paha kanannya. Otot paha Roman tertarik. Kalau untuknya, butuh waktu istirahat beberapa hari untuk pemulihan cedera, tidak selama Sunarto,” tambah Albert. (poy/bua)
Sunarto kembali mengalami luka sobek pada otot paha kanannya. Cedera itu terdeteksi cedera lama yang sempat dialami Sunarto pada musim kemarin. Bomber muda jebolan Akademi Arema ini diperkirakan harus absen dalam tiga sampai empat minggu kedepan untuk memaksimalkan proses penyembuhannya.
‘’Cedera Sunarto bukan termasuk hamstring, tapi ada luka sobek pada paha kanannya. Luka itu sepertinya luka lama yang sebelumnya dialaminya, karena letaknya sama. Kami masih memeriksanya. Dia harus istirahat tiga sampai empat pekan,” terang Dokter tim Arema, Alberts Rudianto kepada Malang Post, sore kemarin.
Lain Sunarto, lain halnya Roman. Gelandang asal Slovakia ini mengalami cedera hamstring paha kanannya. Disaat menanti kepastian perpanjangan kontrak, dia harus menjalani progam pemulihan cedera. Kontraknya di Arema akan berakhir pada akhir September, nanti. Belum ada rilis dari manajemen terkait perpanjangan kontraknya.
Berbeda dengan Sunato, Roman harus absen beberapa hari kedepan demi memaksimalkan program pemulihan cederanya. Menurut dokter Arema, cedera itu mulai dirasakan Roman disaat melahap game dalam rangkaian menu latihan tim di Lapangan Tunjung Sekar, Rabu (7/9) lalu.
Meski cedera, mereka berdua cukup disiplin dengan tetap hadir pada latihan tim dan menjalani latihan ringan di lapanga yang sama, sore kemarin. ''Roman alami cedera hamstring pada bagian depan paha kanannya. Otot paha Roman tertarik. Kalau untuknya, butuh waktu istirahat beberapa hari untuk pemulihan cedera, tidak selama Sunarto,” tambah Albert. (poy/bua)
Jalani Beep Test
MALANG – Usai beberapa hari menjalani lataihan pra kondisi, penggawa skuad Arema Indonesia dijadwalkan menjalani beep test di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, sore ini. Beep test ini termasuk rangkaian tes fisik yang lebih mengarah pada endurance atau ketahanan pemain. Tes ini sebagai salah satu langkah Singo Edan untuk menyusun program persiapan sebelum kompetisi musim kedepan.
Asisten Pelatih Arema, Joko ‘Gethuk’ Susilo mengatakan, dari tes tersebut akan diketahui sejauhmana perkembangan terakhir ketahanan fisik para pemainnya. Hasil tes itupun akan dipakai sebagai bahan dasar dari tim pelatih dalam memberikan menu latihan peningkatan ketahanan fisik pemain kedepannya.
‘’Dari beep test itu, kami akan dapatkan penilaian dari perkembangan terakhir kondisi dari masing-masing pemain. Karena tes ini berfungsi mengukur VO2 Maks pemain. Hasil dari tes itu, kami bisa sesuaikan dalam menyusun program peningkatan ketahanan fisik pemain,” terang pelatih asal Cepu ini kepada Malang Post, sore kemarin.
Sekedar diketahui, VO2 Maks adalah kemampuan maksimal seseorang untuk menghirup oksigen. Menurut Gethuk, jika tingkatan endurance pemainnya dibawah, maka pemain bersangkutan bakal mendapatkan menu latihan peningkatan endurance lebih banyak dibandingkan pemain yang memiliki nilai endurance lebih baik.
Untuk mendukung program beep test, manajemen Arema akan bekerja sama dengan Universitas Malang. Beep test ini merupakan tes yang dijalankan atlit profesional dalam mengukur tingkatan endurance-nya. Kebetulan bagi tim berjuluk SIngo Edan ini, bukan hal baru dalam melakukan beep test karena beberapa kali telah melakukan tes ini setiap jelasng memasuki pra musim kompetisi.
‘’Dari hasil beep test ini bukan kemudian akan memutuskan tingkatan endurance pemain tidak layak atau tidak masuk dalam standart yang diinginkan Arema. Melainkan, beep test ini akan menjadi awal dari semua program latihan tim. Dari latihan yang sudah kita lalui, otot-otot pemain sudah kembali kuat, jadi mereka sudah siap lalui tes ini,” pungkas Gethuk.
Menurut rencana, rangkaian tes fisik ini akan digelar dua hari. Setelah hari ini tes endurance, dilanjutkan besok berupa tes kecepatan (speed), kelincahan dan kekuatan. Semua tes tersebut tetap dipimpin Gethuk, selama Arema belum memutuskan headcoach atau pelatih kepala yang bakal menangani Arema. (poy/bua)
Asisten Pelatih Arema, Joko ‘Gethuk’ Susilo mengatakan, dari tes tersebut akan diketahui sejauhmana perkembangan terakhir ketahanan fisik para pemainnya. Hasil tes itupun akan dipakai sebagai bahan dasar dari tim pelatih dalam memberikan menu latihan peningkatan ketahanan fisik pemain kedepannya.
‘’Dari beep test itu, kami akan dapatkan penilaian dari perkembangan terakhir kondisi dari masing-masing pemain. Karena tes ini berfungsi mengukur VO2 Maks pemain. Hasil dari tes itu, kami bisa sesuaikan dalam menyusun program peningkatan ketahanan fisik pemain,” terang pelatih asal Cepu ini kepada Malang Post, sore kemarin.
Sekedar diketahui, VO2 Maks adalah kemampuan maksimal seseorang untuk menghirup oksigen. Menurut Gethuk, jika tingkatan endurance pemainnya dibawah, maka pemain bersangkutan bakal mendapatkan menu latihan peningkatan endurance lebih banyak dibandingkan pemain yang memiliki nilai endurance lebih baik.
Untuk mendukung program beep test, manajemen Arema akan bekerja sama dengan Universitas Malang. Beep test ini merupakan tes yang dijalankan atlit profesional dalam mengukur tingkatan endurance-nya. Kebetulan bagi tim berjuluk SIngo Edan ini, bukan hal baru dalam melakukan beep test karena beberapa kali telah melakukan tes ini setiap jelasng memasuki pra musim kompetisi.
‘’Dari hasil beep test ini bukan kemudian akan memutuskan tingkatan endurance pemain tidak layak atau tidak masuk dalam standart yang diinginkan Arema. Melainkan, beep test ini akan menjadi awal dari semua program latihan tim. Dari latihan yang sudah kita lalui, otot-otot pemain sudah kembali kuat, jadi mereka sudah siap lalui tes ini,” pungkas Gethuk.
Menurut rencana, rangkaian tes fisik ini akan digelar dua hari. Setelah hari ini tes endurance, dilanjutkan besok berupa tes kecepatan (speed), kelincahan dan kekuatan. Semua tes tersebut tetap dipimpin Gethuk, selama Arema belum memutuskan headcoach atau pelatih kepala yang bakal menangani Arema. (poy/bua)
Selasa, 06 September 2011
Tanpa Batas Waktu
MALANGPOST - Jika mengacu pada keterangan Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus beberapa waktu lalu, persoalan internal Arema semestinya harus tuntas sebelum Senin (5/9) kemarin. Menyusul PSSI rencananya menyerahkan dokumen klub professional ke AFC (Asian Football Confederation), kemarin.
Nyatanya deadline atau batas waktu untuk penyelesaian masalah Arema itu masih bisa molor. Bahkan PSSI sendiri melalui Djohar Arifin Husin selaku Ketua Umum, belum menegaskan rencana penyerahan dokumen klub professional itu ke AFC. Meski beberapa hari ini PSSI rapat bersama otoritas sepakbola Asia itu. ‘’Kita sudah rapat di AFC, mulai Sabtu, Minggu, sampai Senin tadi pagi (kemarin, Red.),’’ ungkap Djohar saat dikonfirmasi Malang Post terkait jadwal PSSI yang rencananya Senin (5/8) kemarin menyerahkan kelengkapan kompetisi ke AFC. ‘’Jadi besok (hari ini, Red) dari FIFA dan AFC akan bertemu dengan kita untuk rapat lagi,’’ sambungnya.
Praktis, untuk agenda kompetisi musim depan, sebenarnya masih belum ada kejelasan. Bahkan Djohar sendiri menyebutkan, ada kemungkinan format kompetisi dua wilayah yang sempat disampaikan Sihar Sitorus itu bakal berubah. Sayang, hingga tadi malam Sihar sendiri tak bisa dikonfirmasi.
Dampaknya, untuk persoalan internal tim seperti di Arema pun menjadi tanpa batas waktu. Setidaknya untuk sementara waktu, tidak ada kekhawatiran Arema bakal gagal ikut kompetisi. Apalagi Djohar telah memberi garansi, tim berjuluk Singo Edan ini bakal ikut kompetisi musim depan.
Satu-satunya deadline untuk Arema adalah jadwal kompetisi itu sendiri. Khususnya jika PSSI konsisten sesuai jadwal akan menggelar kompetisi musim depan, mulai 8 Oktober nanti. Djohar berharap persoalan di internal Arema ini bisa secepatnya terselesaikan. ’’Mereka (dua kubu, Red) kan mau menyiapkan tim, ya itu disitu batas waktunya. Kalau semakin lama dan terus berlarut-larut tanpa ada solusi, timnya semakin tidak siap untuk kompetisi musim depan, lalu siapa yang rugi? Tentu Arema sendiri yang rugi,’’ terang Djohar mengaku belum menerima laporan hasil rekonsiliasi Arema.
Lantaran hingga saat ini memang masih belum ada solusi, sekalipun dua kubu yang diwakili Muhammad Nur dan Rendra Kresna sudah bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam. Dari pertemuan itu, pihak Rendra sudah memberi tawaran, meski pihak M. Nur masih belum memberi respon.
‘’Baguslah kalau sudah ada pertemuan,’’ komentar Djohar. ‘’Ya, kita minta masalah intern Arema ini bisa secepatnya diselesaikan secara intern. Semuanya ingin Arema berjaya, Arema tampil dengan semangat baru, ya selesaikanlah di Arema sendiri,’’ sambung Ketua PSSI yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini.
Meski masih belum ada solusi pasti, Djohar meyakinan agenda rekonsiliasi seperti yang diinginkan PSSI itu masih dalam proses. Sehingga pria kelahiran Tanjung Pura, 13 September 1950 lalu ini tetap memprioritaskan Arema untuk mengikuti kompetisi professional level 1.
‘’Bagi kami yang penting Arema tampil di kompetisi. Itu sudah tekad dari kami, Arema harus ikut kompetisi. Masalah internal, ya selesaikanlah segera. Insya Allah Arema tetap ikut kompetisi, karena saya secara pribadi, sebelum jadi Ketua PSSI, Arema adalah kebanggaan saya,’’ yakin Ketua PSSI yang juga mantan pemain PSMS Medan ini.
Lalu siapakah pengurus yang mengelola Arema di kompetisi musim depan? ‘’Ya rame-rame mengurus Arema kan bagus. Kalau banyak yang mengurus kan bagus, karena semakin banyak yang kasih modal kan bagus. Logikanya begitu, bisa dua, tiga atau empat orang pemodal, semakin banyak kan semakin bagus,’’ jawab Djohar.
Menyusul keyakinan dari Djohar ini, menurutnya PSSI belum mau mengambil langkah untuk ikut campur dalam persoalan Arema. Harapan pria yang pernah sebagai wasit maupun pelatih ini diantara dua kubu Arema yang berseteru bisa ada kompromi demi kebaikan tim Arema.
’’Kita akan tetap memfasilitasi, dan kita akan tetap mengusahakan ada kesepakatan di Arema itu sendiri. Saya rasa keduanya ini kan mau Arema maju. Insya Allah bisa, saya doakanlah. PSSI akan terus memonitor perkembangan di Arema, dan kita mengharapkan penyelesaikan segera dilaksakan kalangan Arema sendiri,’’ pungkas Djohar.
Sementara itu dari dua kubu yang sempat bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam, belum ada tanda-tanda untuk melanjutkan pertemuan. Meski dari pihak Rendra sebenarnya kini tengah menunggu keputusan atau sikap dari M. Nur yang telah menerima tawaran opsi tetap sebagai Ketua Yayasan Arema.
Kebetulan M. Nur sendiri meminta waktu dua hari sebelum memberi jawaban. ’’Mudah-mudahan dua hari ini adalah waktu yang cukup bagi Pak Nur untuk mengambil keputusan terbaik untuk Arema,’’ sebut Sudarmaji, Manajer Media Officer Arema memastikan opsi pertama sudah tidak berlaku.
Opsi pertama adalah Rendra Kresna dan Bambang Winarno menyatakan siap mundur, jika pada Minggu malam itu Muhamad Nur menyatakan siap mengambil alih yayasan Arema. Sedangkan opsi kedua yang kini berlaku dan ditawarkan pada Muhamad Nur adalah kembali ke titik nol, yaitu Muhamad Nur tetap sebagai Ketua Yayasan.
’’Ya, sekarang kita menunggu dari Pak Nur. Kita optimis Pak Nur akan bersikap bijaksana demi Arema, apalagi opsi yang ditawarkan kompromistis. Jika diserahkan ke PSSI, kami tetap berharap PSSI obyektif, fair dalam memutuskan,’’ pungkas Darmaji. Sedangkan Muhamad Nur hingga tadi malam tak mau menjawab konfirmasi dari Malang Post. (bua/avi)
Nyatanya deadline atau batas waktu untuk penyelesaian masalah Arema itu masih bisa molor. Bahkan PSSI sendiri melalui Djohar Arifin Husin selaku Ketua Umum, belum menegaskan rencana penyerahan dokumen klub professional itu ke AFC. Meski beberapa hari ini PSSI rapat bersama otoritas sepakbola Asia itu. ‘’Kita sudah rapat di AFC, mulai Sabtu, Minggu, sampai Senin tadi pagi (kemarin, Red.),’’ ungkap Djohar saat dikonfirmasi Malang Post terkait jadwal PSSI yang rencananya Senin (5/8) kemarin menyerahkan kelengkapan kompetisi ke AFC. ‘’Jadi besok (hari ini, Red) dari FIFA dan AFC akan bertemu dengan kita untuk rapat lagi,’’ sambungnya.
Praktis, untuk agenda kompetisi musim depan, sebenarnya masih belum ada kejelasan. Bahkan Djohar sendiri menyebutkan, ada kemungkinan format kompetisi dua wilayah yang sempat disampaikan Sihar Sitorus itu bakal berubah. Sayang, hingga tadi malam Sihar sendiri tak bisa dikonfirmasi.
Dampaknya, untuk persoalan internal tim seperti di Arema pun menjadi tanpa batas waktu. Setidaknya untuk sementara waktu, tidak ada kekhawatiran Arema bakal gagal ikut kompetisi. Apalagi Djohar telah memberi garansi, tim berjuluk Singo Edan ini bakal ikut kompetisi musim depan.
Satu-satunya deadline untuk Arema adalah jadwal kompetisi itu sendiri. Khususnya jika PSSI konsisten sesuai jadwal akan menggelar kompetisi musim depan, mulai 8 Oktober nanti. Djohar berharap persoalan di internal Arema ini bisa secepatnya terselesaikan. ’’Mereka (dua kubu, Red) kan mau menyiapkan tim, ya itu disitu batas waktunya. Kalau semakin lama dan terus berlarut-larut tanpa ada solusi, timnya semakin tidak siap untuk kompetisi musim depan, lalu siapa yang rugi? Tentu Arema sendiri yang rugi,’’ terang Djohar mengaku belum menerima laporan hasil rekonsiliasi Arema.
Lantaran hingga saat ini memang masih belum ada solusi, sekalipun dua kubu yang diwakili Muhammad Nur dan Rendra Kresna sudah bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam. Dari pertemuan itu, pihak Rendra sudah memberi tawaran, meski pihak M. Nur masih belum memberi respon.
‘’Baguslah kalau sudah ada pertemuan,’’ komentar Djohar. ‘’Ya, kita minta masalah intern Arema ini bisa secepatnya diselesaikan secara intern. Semuanya ingin Arema berjaya, Arema tampil dengan semangat baru, ya selesaikanlah di Arema sendiri,’’ sambung Ketua PSSI yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini.
Meski masih belum ada solusi pasti, Djohar meyakinan agenda rekonsiliasi seperti yang diinginkan PSSI itu masih dalam proses. Sehingga pria kelahiran Tanjung Pura, 13 September 1950 lalu ini tetap memprioritaskan Arema untuk mengikuti kompetisi professional level 1.
‘’Bagi kami yang penting Arema tampil di kompetisi. Itu sudah tekad dari kami, Arema harus ikut kompetisi. Masalah internal, ya selesaikanlah segera. Insya Allah Arema tetap ikut kompetisi, karena saya secara pribadi, sebelum jadi Ketua PSSI, Arema adalah kebanggaan saya,’’ yakin Ketua PSSI yang juga mantan pemain PSMS Medan ini.
Lalu siapakah pengurus yang mengelola Arema di kompetisi musim depan? ‘’Ya rame-rame mengurus Arema kan bagus. Kalau banyak yang mengurus kan bagus, karena semakin banyak yang kasih modal kan bagus. Logikanya begitu, bisa dua, tiga atau empat orang pemodal, semakin banyak kan semakin bagus,’’ jawab Djohar.
Menyusul keyakinan dari Djohar ini, menurutnya PSSI belum mau mengambil langkah untuk ikut campur dalam persoalan Arema. Harapan pria yang pernah sebagai wasit maupun pelatih ini diantara dua kubu Arema yang berseteru bisa ada kompromi demi kebaikan tim Arema.
’’Kita akan tetap memfasilitasi, dan kita akan tetap mengusahakan ada kesepakatan di Arema itu sendiri. Saya rasa keduanya ini kan mau Arema maju. Insya Allah bisa, saya doakanlah. PSSI akan terus memonitor perkembangan di Arema, dan kita mengharapkan penyelesaikan segera dilaksakan kalangan Arema sendiri,’’ pungkas Djohar.
Sementara itu dari dua kubu yang sempat bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam, belum ada tanda-tanda untuk melanjutkan pertemuan. Meski dari pihak Rendra sebenarnya kini tengah menunggu keputusan atau sikap dari M. Nur yang telah menerima tawaran opsi tetap sebagai Ketua Yayasan Arema.
Kebetulan M. Nur sendiri meminta waktu dua hari sebelum memberi jawaban. ’’Mudah-mudahan dua hari ini adalah waktu yang cukup bagi Pak Nur untuk mengambil keputusan terbaik untuk Arema,’’ sebut Sudarmaji, Manajer Media Officer Arema memastikan opsi pertama sudah tidak berlaku.
Opsi pertama adalah Rendra Kresna dan Bambang Winarno menyatakan siap mundur, jika pada Minggu malam itu Muhamad Nur menyatakan siap mengambil alih yayasan Arema. Sedangkan opsi kedua yang kini berlaku dan ditawarkan pada Muhamad Nur adalah kembali ke titik nol, yaitu Muhamad Nur tetap sebagai Ketua Yayasan.
’’Ya, sekarang kita menunggu dari Pak Nur. Kita optimis Pak Nur akan bersikap bijaksana demi Arema, apalagi opsi yang ditawarkan kompromistis. Jika diserahkan ke PSSI, kami tetap berharap PSSI obyektif, fair dalam memutuskan,’’ pungkas Darmaji. Sedangkan Muhamad Nur hingga tadi malam tak mau menjawab konfirmasi dari Malang Post. (bua/avi)
PSSI Jamin Arema Ikut
MALANGPOST - Jika sesuai rencana, agenda rekonsiliasi dua kubu yang berseteru di Arema semestinya berlangsung pada Minggu (4/9) hari ini. Menyusul Senin (5/9) besok adalah batas waktu penyerahan dokumen klub profesional oleh PSSI ke AFC (Asian Football Confederation).
Lepas hari ini dan besok, maka persoalan dualisme kepengurusan Arema bakal sampai di meja AFC dengan kemungkinan terburuk tim kebangaan Aremania ini gagal mengikuti kompetisi profesional level 1. Meski semua masih bergantung dari keputusan PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Berdasarkan pertemuan PSSI dengan dua kubu yang berseteru di Jakarta, Jumat (26/9) lalu, diharapkan konflik internal di Arema bisa selesai dengan rekonsiliasi. Satu kubu Rendra Kresna bersama Iwan Kurniawan dan Eddy Rumpoko sebagai Pembina Yayasan, serta Iwan Budianto sebagai wakil investor.
Satu kubu lagi adalah Muhamad Nur bersama pendiri Arema, Lucky Acub Zainal. Dua kubu ini diharapkan oleh PSSI bisa menyatu untuk bersama-sama mengelola Arema. Meski hingga kemarin, belum ada tanda-tanda kedua kubu bakal kembali bertemu untuk rencana proses rekonsiliasi itu.
’’Saya sudah coba berkali-kali menghubungi Pak Nur, tapi tidak bisa. Saya sebenarnya tidak tahu siapa yang sebenarnya mengundang dan saya tidak dalam posisi itu. Saya beranikan diri untuk mengundang Pak Nur, karena ini semua demi Arema,’’ ungkap Rendra Kresna kepada Malang Post, kemarin sore.
’’Setiap saya telpon Pak Nur tidak diangkat, di sms juga tidak masuk. Lalu saya suruh Sudarmaji sebagai Manajer Media Officer. Sekali lagi saya sebenarnya tidak punya wewenang untuk mengundang, tapi ini demi Arema, kita mengundang Pak Nur,’’ sambung Pembina Yayasan yang juga Bupati Malang ini.
Rendra mengakui, pihaknya berencana bisa bertemu dengan pihak Muhamad Nur hari ini juga, tepatnya pukul 13.00 WIB. Namun bisa jadi pertemuan itu batal terwujud, karena hingga semalam belum ada komunikasi dengan Muhamad Nur.
’’Kita juga minta coba Pak Bambang (Pengawas Yayasan Arema, Red) yang menghubungi, tapi juga tidak bisa. Rencananya besok (hari ini, Red) jam satu siang kita bisa ketemu dan kita tidak bicara siapa yang mengundang, karena ini demi Arema,’’ yakin Rendra.
Menariknya dari pengakuan mantan Wakil Bupati Malang ini, dirinya menerima laporan bahwa ada Aremania yang berhasil menghubungi Muhamad Nur. Aremania yang dimaksud adalah Ahmadi korwil Bululawang. Muhamad Nur menyebutkan bahwa untuk rencana pertemuan diserahkan pada Rendra.
’’Ya, menurut Aremania ini, Pak Nur bilang pertemuannya tergantung saya untuk waktu dan tempatnya, tapi begitu saya telpon tidak diangkat,’’ kata Rendra. ’’Sebenarnya harapan kita dari pertemuan ini adalah ingin bertemu, duduk bersama dan sebenarnya mereka maunya apa,’’ lanjutnya.
’’Ya kalau ada yang bisa dikompromikan, kenapa tidak? Itu bisa dilakukan bersama-sama. Kita minta kepastian dari Pak Nur untuk bertemu, ternyata tidak bisa dihubungi. Mudah-mudahan saja besok (hari ini, Red.) jam satu siang bisa ada pertemuan, kita lihat besok (hari ini, Red.),’’ tandas Rendra.
Sementara saat Malang Post coba kembali menghubungi Muhamad Nur, mantan Sekda Kota Malang ini memang tak mau menjawab. Hanya saja Ahmadi membenarkan bahwa dirinya sempat menjalin komunikasi dengan Muhamad Nur. Sedikitnya dua kali, Ahmad mengaku bisa berkomunikasi dengan Muhamad Nur melalui telpon genggamnya.
’’Pada intinya Pak Nur memang tidak mau bertemu dan menyerahkan persoalan Arema ini ke PSSI. Alasanya agar secepatnya masalah Arema ini bisa diselesaikan PSSI dan segara ada keputusan PSSI’’ ungkap Ahmadi saat dikonfirmasi Malang Post perihal dialognya dengan Muhamad Nur, tadi malam.
Dalam dialog tersebut, Muhamad Nur justru mengaku belum dihubungi pihak Rendra Kresna. ’’Kalau kontak tidak, tapi kalau ucapan hari raya idul fitri itu ada, dan sudah saya balas. Kalau memang Pak Rendra hubungi saya, pasti saya angkat,’’ ucap Muhamad Nur seperti disampaikan Ahmadi.
’’Persoalan Arema ini sudah kita serahkan ke PSSI, beberapa waktu lalu sudah kita sampaikan ke Pak Ketua PSSI dan kemarin juga sudah ditanggapi Pak Sihar (Ketua Komite Kompetisi PSSI, Red). Ya sudahlah biar ini diselesaikan PSSI. Biar Arema ini tetap jalan, yang penting sabar saja dulu, nanti diselesaikan dengan baik,’’ ujar Ahmadi menirukan perkataan Muhamad Nur.
’’Kalau tidak demi Arema, saya sudah lama tidak urus Arema. Sungguh saya tidak ada tendensi apa pun mengurus Arema ini. PSSI sudah melangkah, malu kalau saya tarik lagi,’’ sebut M. Nur.
Persoalannya, PSSI sendiri mengaku belum menerima laporan dari pihak Muhamad Nur. Paling tidak dari pengakuan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin ternyata masih berpikir persoalan internal Arema bisa diselesaikan oleh pengurus Arema sendiri. Artinya PSSI menganggap masih ada peluang untuk proses rekonsiliasi.
‘’Ya, untuk masalah Arema kita serahkan ke Arema. Bagaimana Arema menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Sampai saat ini (kemarin sore, Red.) belum ada laporan perihal kondiri terakhir di Malang. Jadi PSSI masih belum memutuskan apa pun, dan kita minta itu diselesaikan di Arema sendiri,’’ terang Djohar kepada Tembel, Aremania korwil Stasiun saat dikonfirmasi perihal kemelut yang terjadi di Arema.
Djohar pun berharap diantara dua kubu bisa bersatu untuk bersama-sama mengelola dan mengurus Arema. Lantaran Ketua Umum yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini meyakinkan bahwa Arema mutlak harus tetap ikut kompetisi professional level 1 musim depan.
’’Arema mesti muncul di kompetisi musim depan, itu mutlak. Ya pengurus bisa bersama-sama mengelola Arema. Saya jamin, Arema pasti ikut kompetisi musim depan,’’ yakin Djohar tanpa menyebutkan pengurus yang bakal mendapat restu PSSI jika rekonsiliasi nantinya tak bisa terealisasi. (bua/avi)
Lepas hari ini dan besok, maka persoalan dualisme kepengurusan Arema bakal sampai di meja AFC dengan kemungkinan terburuk tim kebangaan Aremania ini gagal mengikuti kompetisi profesional level 1. Meski semua masih bergantung dari keputusan PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Berdasarkan pertemuan PSSI dengan dua kubu yang berseteru di Jakarta, Jumat (26/9) lalu, diharapkan konflik internal di Arema bisa selesai dengan rekonsiliasi. Satu kubu Rendra Kresna bersama Iwan Kurniawan dan Eddy Rumpoko sebagai Pembina Yayasan, serta Iwan Budianto sebagai wakil investor.
Satu kubu lagi adalah Muhamad Nur bersama pendiri Arema, Lucky Acub Zainal. Dua kubu ini diharapkan oleh PSSI bisa menyatu untuk bersama-sama mengelola Arema. Meski hingga kemarin, belum ada tanda-tanda kedua kubu bakal kembali bertemu untuk rencana proses rekonsiliasi itu.
’’Saya sudah coba berkali-kali menghubungi Pak Nur, tapi tidak bisa. Saya sebenarnya tidak tahu siapa yang sebenarnya mengundang dan saya tidak dalam posisi itu. Saya beranikan diri untuk mengundang Pak Nur, karena ini semua demi Arema,’’ ungkap Rendra Kresna kepada Malang Post, kemarin sore.
’’Setiap saya telpon Pak Nur tidak diangkat, di sms juga tidak masuk. Lalu saya suruh Sudarmaji sebagai Manajer Media Officer. Sekali lagi saya sebenarnya tidak punya wewenang untuk mengundang, tapi ini demi Arema, kita mengundang Pak Nur,’’ sambung Pembina Yayasan yang juga Bupati Malang ini.
Rendra mengakui, pihaknya berencana bisa bertemu dengan pihak Muhamad Nur hari ini juga, tepatnya pukul 13.00 WIB. Namun bisa jadi pertemuan itu batal terwujud, karena hingga semalam belum ada komunikasi dengan Muhamad Nur.
’’Kita juga minta coba Pak Bambang (Pengawas Yayasan Arema, Red) yang menghubungi, tapi juga tidak bisa. Rencananya besok (hari ini, Red) jam satu siang kita bisa ketemu dan kita tidak bicara siapa yang mengundang, karena ini demi Arema,’’ yakin Rendra.
Menariknya dari pengakuan mantan Wakil Bupati Malang ini, dirinya menerima laporan bahwa ada Aremania yang berhasil menghubungi Muhamad Nur. Aremania yang dimaksud adalah Ahmadi korwil Bululawang. Muhamad Nur menyebutkan bahwa untuk rencana pertemuan diserahkan pada Rendra.
’’Ya, menurut Aremania ini, Pak Nur bilang pertemuannya tergantung saya untuk waktu dan tempatnya, tapi begitu saya telpon tidak diangkat,’’ kata Rendra. ’’Sebenarnya harapan kita dari pertemuan ini adalah ingin bertemu, duduk bersama dan sebenarnya mereka maunya apa,’’ lanjutnya.
’’Ya kalau ada yang bisa dikompromikan, kenapa tidak? Itu bisa dilakukan bersama-sama. Kita minta kepastian dari Pak Nur untuk bertemu, ternyata tidak bisa dihubungi. Mudah-mudahan saja besok (hari ini, Red.) jam satu siang bisa ada pertemuan, kita lihat besok (hari ini, Red.),’’ tandas Rendra.
Sementara saat Malang Post coba kembali menghubungi Muhamad Nur, mantan Sekda Kota Malang ini memang tak mau menjawab. Hanya saja Ahmadi membenarkan bahwa dirinya sempat menjalin komunikasi dengan Muhamad Nur. Sedikitnya dua kali, Ahmad mengaku bisa berkomunikasi dengan Muhamad Nur melalui telpon genggamnya.
’’Pada intinya Pak Nur memang tidak mau bertemu dan menyerahkan persoalan Arema ini ke PSSI. Alasanya agar secepatnya masalah Arema ini bisa diselesaikan PSSI dan segara ada keputusan PSSI’’ ungkap Ahmadi saat dikonfirmasi Malang Post perihal dialognya dengan Muhamad Nur, tadi malam.
Dalam dialog tersebut, Muhamad Nur justru mengaku belum dihubungi pihak Rendra Kresna. ’’Kalau kontak tidak, tapi kalau ucapan hari raya idul fitri itu ada, dan sudah saya balas. Kalau memang Pak Rendra hubungi saya, pasti saya angkat,’’ ucap Muhamad Nur seperti disampaikan Ahmadi.
’’Persoalan Arema ini sudah kita serahkan ke PSSI, beberapa waktu lalu sudah kita sampaikan ke Pak Ketua PSSI dan kemarin juga sudah ditanggapi Pak Sihar (Ketua Komite Kompetisi PSSI, Red). Ya sudahlah biar ini diselesaikan PSSI. Biar Arema ini tetap jalan, yang penting sabar saja dulu, nanti diselesaikan dengan baik,’’ ujar Ahmadi menirukan perkataan Muhamad Nur.
’’Kalau tidak demi Arema, saya sudah lama tidak urus Arema. Sungguh saya tidak ada tendensi apa pun mengurus Arema ini. PSSI sudah melangkah, malu kalau saya tarik lagi,’’ sebut M. Nur.
Persoalannya, PSSI sendiri mengaku belum menerima laporan dari pihak Muhamad Nur. Paling tidak dari pengakuan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin ternyata masih berpikir persoalan internal Arema bisa diselesaikan oleh pengurus Arema sendiri. Artinya PSSI menganggap masih ada peluang untuk proses rekonsiliasi.
‘’Ya, untuk masalah Arema kita serahkan ke Arema. Bagaimana Arema menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Sampai saat ini (kemarin sore, Red.) belum ada laporan perihal kondiri terakhir di Malang. Jadi PSSI masih belum memutuskan apa pun, dan kita minta itu diselesaikan di Arema sendiri,’’ terang Djohar kepada Tembel, Aremania korwil Stasiun saat dikonfirmasi perihal kemelut yang terjadi di Arema.
Djohar pun berharap diantara dua kubu bisa bersatu untuk bersama-sama mengelola dan mengurus Arema. Lantaran Ketua Umum yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini meyakinkan bahwa Arema mutlak harus tetap ikut kompetisi professional level 1 musim depan.
’’Arema mesti muncul di kompetisi musim depan, itu mutlak. Ya pengurus bisa bersama-sama mengelola Arema. Saya jamin, Arema pasti ikut kompetisi musim depan,’’ yakin Djohar tanpa menyebutkan pengurus yang bakal mendapat restu PSSI jika rekonsiliasi nantinya tak bisa terealisasi. (bua/avi)
Senin, 05 September 2011
Optimis Satu Suara
SURABAYA - Agenda rekonsiliasi dua kubu Arema yang sama-sama mendaftarkan diri ke PSSI mulai ada titik terang. Menyusul dua kubu tersebut sudah saling bertemu di Surabaya. Tepatnya bertemu di Ria Galeria, Surabaya mulai pukul 20.30 WIB tadi malam. Menurut keterangan Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji, pertemuan berlangsung tertutup, dan hanya bisa diikuti oleh tiga orang saja. Yaitu Rendra Kresna, Muhammad Nur dan Bambang Winarno dari jajaran pengurus Yayasan Arema.
“Rekonsiliasi itu bingkainya silaturahmi, kebetulan hari raya Idulfitri ini jadi momentum yang baik. Kita punya tujuan yang sama, pertama menyambung silaturahmi dan kedua, kita berusaha mengeksistensikan Arema,” jelas Sudarmaji kepada Malang Post.
“Sekecil apapun kesalahan itu, kita jalin kembali tali silaturahmi, agar semua lebih bagus. Silaturahmi tempatnya dimana saja, meski sebenarnya harapan kita rekonsiliasi atau silaturahmi itu bisa terlaksana di Malang,” sambungnya.
Menurut mantan wartawan ini, Malang punya keterkaitan sejarah tentang Arema. Apalagi jika proses rekonsiliasi tersebut dibicarakan di Malang, ada unsur kedekatan dengan Aremania sebagai stakeholder terbesar Arema.
“Cuma ini silaturahmi bisa bertemu dimana saja dan kapanpun juga. Yang terpenting ada percepatan untuk penyelesaian persoalan Arema ini, ya kalau dianggap masalah bisa cepat diselesaikan,” katanya.
Pria yang akrab disapa Darmaji ini mengaku persoalan tempat rekonsiliasi bukan hal yang substansial. Terpenting adalah materi pembicaraan para pihak yang sempat berseteru ini untuk sepakat satu suara menjaga eksistensi Arema.
Apalagi PSSI telah memberi batas waktu pada Arema, agar bisa menyelesaikan persolan internalnya sebelum Senin (5/9) besok. Lantaran sesuai agenda, PSSI akan menyerahkan dokumen klub professional ke AFC (Asian Footbal Confederation) hari ini.
“Alhamdulillah, pertemuannya digelar sebelum tanggal 5 atau sebelum batas limit PSSI. Hari ini (kemarin, Red) masih tanggal 4, besok tanggal 5, dua hari ini kita merasa optimis, dan selalu kita bangun optimis untuk Arema,” yakin Darmaji.
“Seperti Aremania yang optimis pada Aerema. Pertemuan ini semata-mata karena optimisme Aremania tersebut. Kita optimis bisa menyelesaikan masalah ini,” lanjut pria asal Banyuwangi ini ikut mendampingi Rendra dan Bambang ke Surabaya.
Sayang hingga berita ini ditulis pukul 22.00,Sudarmaji belum belum menyampaikan hasil pertemuan Rendra, M. Nur dan Bambang Winarno tadi malam. Pastinya pertemuan hanya dilakukan bertiga, sebagai representasi pengurus Yayasan Arema.“Jadi yang bertemu yang berkompeten di internal yayasan. Untuk babak-bapak yang berkecimpung di yayasan, ini semua demi Aremania, karena Aremania ingin segera ada pertemuan dan tidak ada istilah menang-menangan,” jelasnya.
Pihak M. Nur yang sebenarnya juga didampingi Lucky Acub Zainal pun tak bisa ikut terlibat dalam dialog segitiga tersebut. “Ini persoalan yayasan, pertemuan dilakukan di internal yayasan dan akan diselesaikan secara kekeluargaan,” tutup Darmaji. (bua/nug)
“Rekonsiliasi itu bingkainya silaturahmi, kebetulan hari raya Idulfitri ini jadi momentum yang baik. Kita punya tujuan yang sama, pertama menyambung silaturahmi dan kedua, kita berusaha mengeksistensikan Arema,” jelas Sudarmaji kepada Malang Post.
“Sekecil apapun kesalahan itu, kita jalin kembali tali silaturahmi, agar semua lebih bagus. Silaturahmi tempatnya dimana saja, meski sebenarnya harapan kita rekonsiliasi atau silaturahmi itu bisa terlaksana di Malang,” sambungnya.
Menurut mantan wartawan ini, Malang punya keterkaitan sejarah tentang Arema. Apalagi jika proses rekonsiliasi tersebut dibicarakan di Malang, ada unsur kedekatan dengan Aremania sebagai stakeholder terbesar Arema.
“Cuma ini silaturahmi bisa bertemu dimana saja dan kapanpun juga. Yang terpenting ada percepatan untuk penyelesaian persoalan Arema ini, ya kalau dianggap masalah bisa cepat diselesaikan,” katanya.
Pria yang akrab disapa Darmaji ini mengaku persoalan tempat rekonsiliasi bukan hal yang substansial. Terpenting adalah materi pembicaraan para pihak yang sempat berseteru ini untuk sepakat satu suara menjaga eksistensi Arema.
Apalagi PSSI telah memberi batas waktu pada Arema, agar bisa menyelesaikan persolan internalnya sebelum Senin (5/9) besok. Lantaran sesuai agenda, PSSI akan menyerahkan dokumen klub professional ke AFC (Asian Footbal Confederation) hari ini.
“Alhamdulillah, pertemuannya digelar sebelum tanggal 5 atau sebelum batas limit PSSI. Hari ini (kemarin, Red) masih tanggal 4, besok tanggal 5, dua hari ini kita merasa optimis, dan selalu kita bangun optimis untuk Arema,” yakin Darmaji.
“Seperti Aremania yang optimis pada Aerema. Pertemuan ini semata-mata karena optimisme Aremania tersebut. Kita optimis bisa menyelesaikan masalah ini,” lanjut pria asal Banyuwangi ini ikut mendampingi Rendra dan Bambang ke Surabaya.
Sayang hingga berita ini ditulis pukul 22.00,Sudarmaji belum belum menyampaikan hasil pertemuan Rendra, M. Nur dan Bambang Winarno tadi malam. Pastinya pertemuan hanya dilakukan bertiga, sebagai representasi pengurus Yayasan Arema.“Jadi yang bertemu yang berkompeten di internal yayasan. Untuk babak-bapak yang berkecimpung di yayasan, ini semua demi Aremania, karena Aremania ingin segera ada pertemuan dan tidak ada istilah menang-menangan,” jelasnya.
Pihak M. Nur yang sebenarnya juga didampingi Lucky Acub Zainal pun tak bisa ikut terlibat dalam dialog segitiga tersebut. “Ini persoalan yayasan, pertemuan dilakukan di internal yayasan dan akan diselesaikan secara kekeluargaan,” tutup Darmaji. (bua/nug)
Langganan:
Postingan (Atom)