Jumat, 18 Maret 2011

Bidik Persiba

Lupakan LCA, Target Poin di Balikpapan
MALANG - Arema harus segera melupakan kekalahan telak 0-4 dari Jeonbuk Hyundai Motors di Stadion Kanjuruhan Rabu (16/3) lalu. Pasalnya, Singo Edan dituntut mengarahkan konsentrasi pada lanjutan kompetisi Liga Super musim ini. Skuad besutan pelatih Miroslav Janu bakal kembali bertanding pada 23 Maret mendatang.
Tak tanggung-tanggung, tim berlogo kepala singa lagi-lagi harus bertandang ke markas lawan. Kali ini lawan yang akan dihadapi adalah Persiba Balikpapan. Tim berjuluk Beruang Madu itu bertekuk lutut 0-3 saat melawat ke kandang Arema 19 Januari lalu di putaran pertama.
Hanya saja, Zulkifli Syukur dkk patut mewaspadai semangat balas dendam tim asal kota minyak tersebut. Apalagi Persiba di putaran babak kedua ini banyak melakukan perubahan pemain. Termasuk, ditangani pelatih baru Hariyadi yang mengantikan Junaedi.
Manager coach Miroslav Janu mengaku tengah menyiapkan pasukan terbaiknya agar bisa membawa oleh-oleh poin dari Balikpapan. Terlebih, mencuri poin di markas tim yang kini masih terdampar di peringkat 12 klasemen sementara ISL itu tidaklah mudah.
‘’Sabtu dan Minggu kita latihan. Senin (21/3) sudah berangkat karena Selasa (22/3) harus coba lapangan. Kita bawa 18 pemain. Semua pemain harus siap,’’ beber pelatih asal Ceko itu.
Kondisi tim yang mulai kondusif pasca beresnya masalah finansial yang mendera dirasa cukup melegakan. Der trainer yang sempat mengarsiteki PSM Makassar itu pun tak segan memuji semangat juang anak asuhnya.
‘’Pemain latihan serius. Mereka maksimal. Sekarang gaji satu bulan sudah dibayar. Problem finansial sudah oke. Kita fokus Persiba,’’ terangnya kepada Malang Post.
Disinggung soal kekuatan calon lawan, pelatih berusia 51 tahun itu mengaku bahwa Persiba bukanlah tim yang bisa diremehkan bila bermain di kandangnya. Terbukti, tim kuat macam Persipura Jayapura dipaksa pulang tertunduk dengan kekalahan 0-1 dalam lawatan ke Balikpapan. ‘’Saya lihat Persiba sebagai tim kuat,’’ tandas Miro.
Meski baru saja dipecundangi Persija Jakarta dengan skor besar 1-5, tidak menjadi gambaran permainan Persiba yang sesungguhnya.
‘’Saat lawan Persija, sebenarnya mereka bermain bagus di babak kedua. Tapi jelas permainan mereka berbeda saat melawan tim yang berbeda pula. Kita harus waspadai itu,’’ pungkas pelatih kelahiran 8 November 1959 tersebut. (tom/avi)

Selasa, 15 Maret 2011

Laga Arema Bebas dari Rokok

Malang (beritajatim.com) - Peraturan tegas yang dikeluarkan AFC selaku penyelanggara Liga Champion Asia (LCA), nampaknya tidak akan ada dispensasi lagi. Bahkan, denda Rp 50 juta siap diberikan jika sampai penonton yang duduk di tribun Very Importan Person (VIP), ketahuan merokok. Dengan begitu, tempat duduk esklusif bagi penonton VIP dan juga pekerja media di tempat itu dipastikan akan bebas dari asap rokok.

“Itu sudah aturan. Jika kami tidak ingin kena denda lima ribu dolar atau setara dengan lima puluh juta rupiah, jangan merokok di tribun VIP saat pertandingan nanti,” ungkap Humas Arema, Sudarmaji, Senin (14/3/2011) siang pada beritajatim.com.

Peraturan dilarang merokok itu menurut Sudarmaji sudah berlaku untuk pertandingan international manapun. Itu sebabnya, panita pelaksana pertandingan Arema nantinya, akan melarang penonton di tribun VIP untuk menghembuskan asap rokoknya. Para pecandu bola yang biasanya menikmati asap rokok di tribun VIP tersebut, akan menjadi target dirinya agar jangan ada denda dari AFC dan LCA terkait asap rokok.

Sudarmaji juga menjelaskan, selain tidak boleh merokok, tribun VIP selama LCA berlangsung harus bebas dari pedagang asongan. Dimana, pedagang asongan yang tergabung dalam ASOKA (Asongan Kanjuruhan) itu, dilarang keras dan tidak diperbolehkan berada di tribun VIP.

“Tadi juga ada satu asongan yang mendatangi kami. Ia bertanya, apakah boleh berjualan di tribun VIP, ya saya suruh tanya sendiri ke petugas dari LCA yang sedang survey. Jawabnya, tidak boleh. Itu berarti, selain tribun VIP bebas dari asap rokok, juga tidak boleh ada asongan ditempat itu,” ucapnya.

Hal yang sama menurut Sudarmaji pula, sebenarnya terjadi pada tribun ekonomi. Tapi, karena harus ada rasa kemanusian juga, ia akan berpikir keras agar asongan bisa berjualan di tribun ekonomi. Masalahnya, di pertandingan International manapun, tidak ada yang namanya asongan. Kalaupun ada, produk yang dijual di dalam stadion nanti, kemasannya harus diubah dan diganti menggunakan plastik. Karena itu sudah aturan resminya, mau tidak mau pihaknya juga akan mengikuti aturan itu.

“Kami akan mengikuti aturan nantinya. Jangan sampai denda Rp 50 juta itu ditanggung bagi teman-teman asongan yang nekat jualan di VIP. Kalau sampai ketahuan, ya bayar sendiri dendanya,” urai Sudarmaji.

Ditambahkannya, selain melarang tribun VIP dari asongan dan asap rokok, makan dari luar yang di bawa penonton untuk masuk kedalam stadion nanti juga akan dilakukan pemeriksaan lebih dulu. Meski akan melakukan pemeriksaan soal makanan maupun minuman yang dibawa penonton, semuanya dilakukan masih memegang rasa kemanusian.

“Tetap bawaan makanan akan kita periksa. Kalau ada yang bawa kaleng atau botol minuman tertentu, kita pindahkan ke dalam plastik. Kasihan juga kalau nggak boleh bawa makanan dan minuman. Kalau pingsan, siapa nanti yang bertanggung jawab,” pungkas Sudarmaji. [yog/but]

Presiden Kehormatan Arema: Manajemen Tak Transparan

Malang(beritajatim.com) - Bupati Malang Rendra Kresna yang juga Penasehat Tim Arema Malang mengaku jika keterlambatan gaji pemain akibat sikap manajemen yang tidak terbuka.

Hal itu diungkapkan Rendra  di Pendopo Agung Kabupaten Malang saat ditemui wartawan. Rendra menangkap jika Manajemen Arema tidak transparan lagi.

“Ketidak tepatan soal pembayaran gaji pemain ini, karena tidak transparannya manajemen. Saya selaku pihak luar dalam tim itu sendiri menilai manajemen tidak terbuka," ungkap politisi Partai Golkar ini.

Dijelaskannya, meski posisinya saat ini hanya sebagai penasehat saja Rendra menganggap jerih payahnya juga sudah tidak dihargai lagi oleh manajemen.

Munculnya masalah keterlambatan gaji sebenarnya, saat tim hendak bertandang pada LCA ke Jepang beberapa waktu lalu. Dimana, saat itu para pemain sudah mogok bermain dan tidak mau ikut bermain di Jayapura.

Tetapi, lewat campur tangannya selaku penasehat, dirinya saat itu bersedia menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Tetapi, ketika kesepakatan sudah disepakati bersama, beberapa pemain dianggapnya tidak mentaati kesepakatan. Dari situlah, ia merasa kecewa dengan sikap para pemain.
Termasuk, sangat menyayangkan sikap manajemen yang dinilainya, tidak transparan serta tertutup dalam menyelesaikan persoalan tentang pendapatan selama Arema bermain di Stadion Kanjuruhan.

"Sampai hari ini, kami tidak tahu berapa pendapatan selama bermain di Stadioan Kanjuruhan. Dari sini berarti sudah tidak ada transparansi," terang Rendra.

Politisi Partai Golkar Kabupaten Malang itu menambahkan, saat dirinya duduk dalam susunana manajemen Arema, selalu dilakukan pembicaraan dulu.

Pada masa dirinya sebagai orang di manajemen, soal transaksi pemain selalu dilakukan pembicaraan. Namun, hal itu berbeda pada saat ini. Dimana, ada kejanggalan kenaikan gaji kontrak pemain sampai 30 persen.

“Dulu kami selalu melakukan pembicaraan dulu sebelum melakukan sesuatu. Tapi sekarang, saya lihat sudah tidak begitu lagi,” ucapnya.

Ditambahkannya, untuk mensiasati gaji pemain yang terlambat itu, bisa dilakukan dengan cara mengangsur tanpa harus menunggu satu bulan gaji penuh.

Dengan begitu, tidak sampai memberatkan dan menimbulkan persoalan baru. Kuncinya adalah, setiap komponen dalam tim Arema harus saling mengisi. Serta, adanya keterbukaan dan transparansi dalam segi apapun. Termasuk, soal pendapatan Arema selama bermain di Stadion Kanjuruhan. [yog/ted]

Arema: Ini Bukan karena Gaji

Malang (beritajatim.com) – Manajemen Arema membenarkan adanya keinginan mundur dari tiga pemain. Hanya saja, sampai saat ini, manajemen belum menerima surat resmi pengunduran diri. Manajemen akan terus melakukan koordinasi.

Tiga pemain tersebut adalah Noh Alam Shah alias Along, Muhammad Ridhuan serta satu pemain lokal asal Sidoarjo, M Fakhrudin. Menanggapi hal itu, kepada wartawan, Senin (14/03/2011) siang, Pelaksana Harian PT Arema Indonesia, Abriadi Muhara, mengakui kabar tersebut.

“Iya, saya sudah dikabari pelatih Janu, usai latihan, di Stadion Gajayana, Senin (14/03/2011) pagi,” akunya, saat ditemui di Kantor Arema, Jl Sultan Agung No 9 Kota Malang.

Kata Abriadi, Janu menyampaikan, satu pemain sudah dipastikan ingin keluar dari Arema adalah M Fakhrudin. Sementara untuk Along dan M Ridhuan, masih sekadar menyampaikan secara lisan saja kepada Janu.

“Namun, hingga kini, ketiga pemain itu masih belum memberikan surat pernyataan resmi kepada manajemen Arema. Manajemen, kini masih terus akan melakukan komunikasi dengan ketiga pemain itu,” aku Abriadi.

Abriadi menambahkan, alasan ketiga pemain tersebut untuk mundur bermacam-macam. Alasan Fakhrudin aku Abriadi, telah melakukan pembicaraan dengan keluarganya dan memutuskan untuk mundur. Sementara alasan Noh Alam Shah dan Muhammad Riduan adalah koordinasi antar pemain yang semakin kurang.

Abdriadi membantah, rencana keluarnya tiga pemain itu bukan karena gaji yang tidak dibayar oleh manajemen Arema. “Yang jelas, tiga pemain mau keluar itu bukan karena soal gaji yang belum dibayar,” akunya.

Ditanya soal kapan gaji pemain akan dibayar? Abriadi mengaku, pihaknya akan terus membicarakan masalah gaji dengan pemain dan berjanji akan melunasi semua gaji sebelum awal April 2011 nanti. “Awal April manajemen akan berupaya melunasinya,” ujarnya.

Manajemen Arema aku Abriadi, sudah mempunyai rencana jika masalah gaji pemain akan saya lunasi semua pada bulan Maret ini. Dan sebelum memasuki bulan April masalah gaji sudah beres.

Apakah keluarnya ketiga pemain itu akan mengganggu laga di LCA? Abriadi menjawab, tidak akan mengganggu kinerja tim jelang melawan Jeonbuk Hyundai Motors dalam lanjutan Liga Champions Asia (LCA) 2011, babak penyisihan grup G di stadion Kanjuruhan, Rabu (16/03/2011) nanti.

“Sebab, Janu telah menyiapkan sejumlah komposisi pemain pengganti jika ketiga pemian itu menyatakan mundur dari tim. Menurut saya tak akan terganggu,” katanya. [ain/but]

Selasa, 08 Maret 2011

Masyarakat Makassar Pecat Nurdin Sebagai Warga

Andi Aisyah - Okezone 
MAKASSAR - Mahasiswa dan masyarakat Makassar menyatakan pemecatan Nurdin Halid sebagai warga Makassar. Hal itu disuarakan dalam unjuk rasa Komite Mahasiswa dan Masyarakat Pemerhati PSSI di Monumen Mandala Senin, (7/3/2011) sore.

Mereka berunjuk rasa sambil membawa spanduk pamflet dan brosur. Dalam orasinya Jenderal Lapangan Basdir menilai Nurdin Halid telah melampaui batas. Akibatnya, orang Sulsel merasa dipermalukan dari Sabang sampai Merauke.

"Kami semua mengharamkan Bapak Nurdin Halid meninjakkan kaki di tanah dan bumi Sulsel. Ini adalah harga diri kami sebagai orang Sulsel," tegas Basdir.

Basdir mengkhwatirkan kemelut PSSI menjadi penyebab terpecahnya masyarakat Indonesia. Menurutnya, itu akan merugikan dan menjadi disintegrasi bangsa.

"Kami mendesak penegak hukum mengusut dan menangkap Nurdin Halid atas semua dugaan korupsinya selama menjadi Ketum PSSI," pungkasnya lagi.

Dalam aksinya, para pengunjukrasa bermaksud membakar foto-foto Nurdin Halid. Namun sayang karena unjuk rasa dilangsungkan di tengah hujan yang turun, poster dan pamflet itu urung terbakar walau telah disiram bensin dan dibakar dengan pemantik.

Para pengunjukrasa berasal dari mahasiswa, anak-anak dan ibu-ibu rumahtangga. Usai berorasi mereka berkonvoi keliling kota Makassar di beberapa jalan protokol sambil tetap berorasi menggunakan megaphone yang mereka bawa.
(zwr)
 

Jumat, 04 Maret 2011

Inilah Putusan FIFA tentang PSSI

Zurich (beritajatim.com) - Nasib persepakbolaan Indonesia akhirnya mendapat putusan dari Federasi Sepakbola Dunia atau FIFA. Setelah melalui rapat eksekutif, FIFA tidak memberikan sanksi kepada PSSI. Hanya saja, ada beberapa putusan yang harus dilaksanakan.

Melalaui situs resminya, FIFA meminta PSSI menggelar Kongres Luar Biasa dengan agenda pemilihan ketua umum berserta jajarannya. Pelaksanaan kongres paling lambat 30 April 2011. Pemilihan tanggal itu sesuai dengan berakhirnya masa jabatan Nurdin Halid pada 29 April 2011.

Putusan ini berbeda dengan keterangan yang diberikan oleh Deputi Sekjen Bidang Luar Negeri PSSI Dali Tahir dua hari sebelumnya. Saat itu, Dali Tahir menyatakan bahwa PSSI diberi batas waktu kongres sampai Juli 2011. Jika merujuk pada keterangan Dali Tahir, Nurdin mendapat perpanjangan jabatan selama 3 bulan.

FIFA juga meminta PSSI agar membentuk Komite Pemilihan paling lambat 26 Maret 2011. Berbeda dengan Komite Pemilihan yang sebelumnya, komite kali ini harus mengadopsi Electoral Code dari Standar Electoral Code FIFA.

Sekadar diketahui, Kongres Luar Biasa PSSI sedianya digelar tanggal 26 Maret 2011 di Bali. PSSI membuat kebijakan penundaan atas agenda empat tahunan tersebut. Pasalnya, Komite Banding yang diketuai oleh Tjipta Lesmana menganulir semua kandidat ketua umum. Mereka adalah Nurdin Halid, George Toisutta, Nirwan D Bakrie, dan Arifin Panigoro.

Sebelumnya, Komite Pemilihan menganulir pencalonan dari George Toisutta dan Arifin Panigoro. Calon yang diloloskan hanya Nurdin Halid dan Nirwan D Bakrie. Keputusan Komite Pemilihan ini memantik reaksi keras dari masyarakat pecinta bola di tanah air. Ribuan suporter melalukan menuntut pemerintah agar membekukan PSSI. Bahkan, kantor PSSI sempat disegel oleh massa. [but]
Hasil Rapat Komite Eksekutif FIFA :

The FIFA Executive Committee, chaired by President Joseph S. Blatter, took note of the 2010 FIFA Financial Report announcing a positive result of USD 631 million for the four-year period 2007-2010 during a two-day meeting held in Zurich on 2 and 3 March. The committee also decided on the hosts of eight FIFA competitions, including the FIFA Women’s World Cup 2015™, which will be held in Canada, and the slots per confederation for the 2014 FIFA World Cup™.

During the 2007-2010 four-year cycle, FIFA obtained revenue of USD 4,189 million, while the expenses amounted to USD 3,558 million, leading to an overall result of USD 631 million. This very positive result reflects the financial success of the 2010 FIFA World Cup™ in South Africa, which has allowed FIFA to continue with its development programmes and the organisation of football competitions and events. The financial result from this period has also helped to strengthen FIFA’s reserves (now amounting to USD 1,280 million), which is required by the FIFA Statutes and is also important in view of FIFA’s strong financial dependency on the FIFA World Cup™. The FIFA Financial Report is produced in accordance with IFRS (International Financial Reporting Standards) and can be read in its entirety on FIFA.com.

The committee also decided on the slots for the 2014 FIFA World Cup™, which will be as follows: AFC 4.5, CAF 5.0, CONCACAF 3.5, CONMEBOL 4.5, OFC 0.5, UEFA 13.0 and one slot the host Brazil. This is the same distribution of slots as for the 2006 and 2010 FIFA World Cups™. For the play-offs relating to the half slots, a draw will determine how the four confederations involved (AFC, CONCACAF, CONMEBOL and OFC) will pair off. Sufficient time will be allowed between the home and away legs of these play-offs.

Furthermore, the committee appointed the hosts for several FIFA competitions in the years 2012 to 2015. These decisions were as follows: FIFA Women’s World Cup 2015™ and FIFA U-20 Women’s World Cup 2014 awarded to Canada; FIFA U-20 World Cup 2013 to Turkey; FIFA U-20 World Cup 2015 to New Zealand; FIFA U-17 World Cup 2013 to the United Arab Emirates; FIFA U-17 World Cup 2015 to Chile; FIFA U-20 Women’s World Cup 2012 to Uzbekistan and FIFA U-17 Women’s World Cup 2014 to Costa Rica.

Meanwhile, Budapest (Hungary) was selected as the venue of the 62nd FIFA Congress in 2012 and Mauritius was appointed as the venue of the 63rd FIFA Congress in 2013.

Franz Beckenbauer was confirmed as chairman of the FIFA Task Force Football 2014, which will work on concrete proposals to improve football in areas such as the Laws of the Game, refereeing, competition regulations, women’s football, medical matters and fair play.

The Executive Committee approved the Regulations Governing International Matches, which will ensure that the notification, reporting and registration of international “A” matches is more transparent and efficient. These regulations are now pending the adoption of amendments to the FIFA Statutes by the FIFA Congress 2011.

Regarding the situation in various associations, the committee approved the following proposals:

- Indonesia (PSSI): the PSSI should organise the general assembly on 26 March 2011 to elect the electoral commission and adopt an electoral code based on the FIFA standard electoral code. The electoral commission will then organise elections before 30 April 2011. In addition, if the PSSI is not able to regain control of the breakaway league, the case will be submitted to the FIFA Executive Committee for a potential suspension.

- Benin (FBF): the appointment of the co-opted members of the FBF Executive Committee will be submitted for the approval of the general assembly by mid-April. If accepted, they will stay in place until the end of the mandate. If not, the FBF should organise elections within two months as stipulated in their statutes.

In addition, the Football Federation of Kosovo (FFK) has requested authorisation to play international friendly games at both club and representative team level. It was agreed that this request should be referred to UEFA.

Finally, the committee was informed of the launch of FIFA’s media rights programme for the 2018 and 2022 FIFA World Cups™, and approved the TV agreements made so far, which are worth USD 1.7 billion. These agreements cover the Middle East and selected territories in Asia and Latin America and represent a 90% increase approximately compared to the same territories for the 2010 and 2014 FIFA World Cups™.

At the start of the meeting, the committee welcomed two new members, FIFA Vice-President David Chung, elected as OFC President at the 2011 OFC Congress in Pago Pago (American Samoa), and FIFA Executive Committee member Mohamed Raouraoua, elected by CAF in the recently-held CAF Congress in Khartoum (Sudan).

Rabu, 02 Maret 2011

Kemelut PSSI : FIFA Pastikan tak Ada Sanksi

Surabaya (beritajatim.com) - Otoritas sepakbola dunia tidak memberikan sanksi terhadap sepakbola Indonesia. Informasi ini disampaikan oleh Suryadharma “Dali” Tahir, anggota Komite Etik FIFA, Rabu (2/3/2011) pagi.

"Dalam pertemuan saya dengan Sekjen FIFA Jerome Valcke Senin sore lalu masalah sanksi itu memang tidak disebut-sebut olehnya. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa FIFA masih memberikan dukungannya kepada kita, sehingga masalah sanksi untuk kita tidak dibahas pada sidang Komite Asosiasi tersebut," jelas Suryadharma seperti dilansir website resmi PSSI.

Sidang Komite Asosiasi atau Associations Committee dipimpin langsung oleh ketuanya, Geoff Thompson dari Inggris, dengan wakil ketua Jacques Anouma dari Ivori Coast. Anggota Komite Asosiasi, yang kerap disebut juga sebagai Komite Emergency ini berjumlah ganjil, yakni 17 orang, untuk memudahkan bila dilakukan pemungutan suara dalam pengambilan keputusan. Ketua, wakil ketua dan 17 anggota Komite Asosiasi seluruhnya berasal dari negara yang berbeda.

Dari total 19 representasi anggota FIFA yang berada di Komite Asosiasi ini, hanya dua orang yang berasal dari benua Asia, yakni Sheiki Ahmad Bin Khalifa Al Thani dari Qatar, dan Mirabror Usmanov dari Uzbekistan.

Dali Tahir mengakui, dia mengenal cukup baik Geoff Thompson, karena sering bertemu pada berbagai acara-acara resmi FIFA. Namun demikian, dalam kunjungan terakhirnya ke Zurich pada Minggu dan Senin kemarin dia tidak sempat bertemu dengan salah satu petinggi FA Inggris itu. Yang jelas, Geoff Thompson termasuk salah satu pejabat FIFA yang pernah datang ke Indonesia mendampingi Joseph Sepp Blatter, Presiden FIFA. [but]