Selasa, 06 September 2011

Tanpa Batas Waktu

MALANGPOST -  Jika mengacu pada keterangan Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus beberapa waktu lalu, persoalan internal Arema semestinya harus tuntas sebelum Senin (5/9) kemarin. Menyusul PSSI rencananya menyerahkan dokumen klub professional ke AFC (Asian Football Confederation), kemarin.
Nyatanya deadline atau batas waktu untuk penyelesaian masalah Arema itu masih bisa molor. Bahkan PSSI sendiri melalui Djohar Arifin Husin selaku Ketua Umum, belum menegaskan rencana penyerahan dokumen klub professional itu ke AFC. Meski beberapa hari ini PSSI rapat bersama otoritas sepakbola Asia itu. ‘’Kita sudah rapat di AFC, mulai Sabtu, Minggu, sampai Senin tadi pagi (kemarin, Red.),’’ ungkap Djohar saat dikonfirmasi Malang Post terkait jadwal PSSI yang rencananya Senin (5/8) kemarin menyerahkan kelengkapan kompetisi ke AFC. ‘’Jadi besok (hari ini, Red) dari FIFA dan AFC akan bertemu dengan kita untuk rapat lagi,’’ sambungnya.
Praktis, untuk agenda kompetisi musim depan, sebenarnya masih belum ada kejelasan. Bahkan Djohar sendiri menyebutkan, ada kemungkinan format kompetisi dua wilayah yang sempat disampaikan Sihar Sitorus itu bakal berubah. Sayang, hingga tadi malam Sihar sendiri tak bisa dikonfirmasi.
Dampaknya, untuk persoalan internal tim seperti di Arema pun menjadi tanpa batas waktu. Setidaknya untuk sementara waktu, tidak ada kekhawatiran Arema bakal gagal ikut kompetisi. Apalagi Djohar telah memberi garansi, tim berjuluk Singo Edan ini bakal ikut kompetisi musim depan.
Satu-satunya deadline untuk Arema adalah jadwal kompetisi itu sendiri. Khususnya jika PSSI konsisten sesuai jadwal akan menggelar kompetisi musim depan, mulai 8 Oktober nanti. Djohar berharap persoalan di internal Arema ini bisa secepatnya terselesaikan. ’’Mereka (dua kubu, Red) kan mau menyiapkan tim, ya itu disitu batas waktunya. Kalau semakin lama dan terus berlarut-larut tanpa ada solusi, timnya semakin tidak siap untuk kompetisi musim depan, lalu siapa yang rugi? Tentu Arema sendiri yang rugi,’’ terang Djohar mengaku belum menerima laporan hasil rekonsiliasi Arema.
Lantaran hingga saat ini memang masih belum ada solusi, sekalipun dua kubu yang diwakili Muhammad Nur dan Rendra Kresna sudah bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam. Dari pertemuan itu, pihak Rendra sudah memberi tawaran, meski pihak M. Nur masih belum memberi respon.
‘’Baguslah kalau sudah ada pertemuan,’’ komentar Djohar. ‘’Ya, kita minta masalah intern Arema ini bisa secepatnya diselesaikan secara intern.  Semuanya ingin Arema berjaya, Arema tampil dengan semangat baru, ya selesaikanlah di Arema sendiri,’’ sambung Ketua PSSI yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini.
Meski masih belum ada solusi pasti, Djohar meyakinan agenda rekonsiliasi seperti yang diinginkan PSSI itu masih dalam proses. Sehingga pria kelahiran Tanjung Pura, 13 September 1950 lalu ini tetap memprioritaskan Arema untuk mengikuti kompetisi professional level 1.
‘’Bagi kami yang penting Arema tampil di kompetisi. Itu sudah tekad dari kami, Arema harus ikut kompetisi. Masalah internal, ya selesaikanlah segera. Insya Allah Arema tetap ikut kompetisi, karena saya secara pribadi, sebelum jadi Ketua PSSI, Arema adalah kebanggaan saya,’’ yakin Ketua PSSI yang juga mantan pemain PSMS Medan ini.
Lalu siapakah pengurus yang mengelola Arema di kompetisi musim depan? ‘’Ya rame-rame mengurus Arema kan bagus. Kalau banyak yang mengurus kan bagus,  karena semakin banyak yang kasih modal kan bagus. Logikanya begitu, bisa dua, tiga atau empat orang pemodal, semakin banyak kan semakin bagus,’’ jawab Djohar.
Menyusul keyakinan dari Djohar ini, menurutnya PSSI belum mau mengambil langkah untuk ikut campur dalam persoalan Arema. Harapan pria yang pernah sebagai wasit maupun pelatih ini diantara dua kubu Arema yang berseteru bisa ada kompromi demi kebaikan tim Arema.
’’Kita akan tetap memfasilitasi, dan kita akan tetap mengusahakan ada kesepakatan di Arema itu sendiri. Saya rasa keduanya ini kan mau Arema maju. Insya Allah bisa, saya doakanlah. PSSI akan terus memonitor perkembangan di Arema, dan kita mengharapkan penyelesaikan segera dilaksakan kalangan Arema sendiri,’’ pungkas Djohar.
Sementara itu dari dua kubu yang sempat bertemu di Surabaya, Minggu (4/9) malam, belum ada tanda-tanda untuk melanjutkan pertemuan. Meski dari pihak Rendra sebenarnya kini tengah menunggu keputusan atau sikap dari M. Nur yang telah menerima tawaran opsi tetap sebagai Ketua Yayasan Arema.
Kebetulan M. Nur sendiri meminta waktu dua hari sebelum memberi jawaban. ’’Mudah-mudahan dua hari ini adalah waktu yang cukup bagi Pak Nur untuk mengambil keputusan terbaik untuk Arema,’’ sebut Sudarmaji, Manajer Media Officer Arema memastikan opsi pertama sudah tidak berlaku.
Opsi pertama adalah Rendra Kresna dan Bambang Winarno menyatakan siap mundur, jika pada Minggu malam itu Muhamad Nur menyatakan siap mengambil alih yayasan Arema. Sedangkan opsi kedua yang kini berlaku dan ditawarkan pada Muhamad Nur adalah kembali ke titik nol, yaitu Muhamad Nur tetap sebagai Ketua Yayasan.
’’Ya, sekarang kita menunggu dari Pak Nur. Kita optimis Pak Nur akan bersikap bijaksana demi Arema, apalagi opsi yang ditawarkan kompromistis. Jika diserahkan ke PSSI, kami tetap berharap PSSI obyektif, fair dalam memutuskan,’’ pungkas Darmaji. Sedangkan Muhamad Nur hingga tadi malam tak mau menjawab konfirmasi dari Malang Post. (bua/avi) 

PSSI Jamin Arema Ikut

MALANGPOST - Jika sesuai rencana, agenda rekonsiliasi dua kubu yang berseteru di Arema semestinya berlangsung pada Minggu (4/9) hari ini. Menyusul Senin (5/9) besok adalah batas waktu penyerahan dokumen klub profesional oleh PSSI ke AFC (Asian Football Confederation).
Lepas hari ini dan besok, maka persoalan dualisme kepengurusan Arema bakal sampai di meja AFC dengan kemungkinan terburuk tim kebangaan Aremania ini gagal mengikuti kompetisi profesional level 1. Meski semua masih bergantung dari keputusan PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Berdasarkan pertemuan PSSI dengan dua kubu yang berseteru di Jakarta, Jumat (26/9) lalu, diharapkan konflik internal di Arema bisa selesai dengan rekonsiliasi. Satu kubu Rendra Kresna bersama Iwan Kurniawan dan Eddy Rumpoko sebagai Pembina Yayasan, serta Iwan Budianto sebagai wakil investor.
Satu kubu lagi adalah Muhamad Nur bersama pendiri Arema, Lucky Acub Zainal. Dua kubu ini diharapkan oleh PSSI bisa menyatu untuk bersama-sama mengelola Arema. Meski hingga kemarin, belum ada tanda-tanda kedua kubu bakal kembali bertemu untuk rencana proses rekonsiliasi itu.
’’Saya sudah coba berkali-kali menghubungi Pak Nur, tapi tidak bisa. Saya sebenarnya tidak tahu siapa yang sebenarnya mengundang dan saya tidak dalam posisi itu. Saya beranikan diri untuk mengundang Pak Nur, karena ini semua demi Arema,’’ ungkap Rendra Kresna kepada Malang Post, kemarin sore.
’’Setiap saya telpon Pak Nur tidak diangkat, di sms juga tidak masuk. Lalu saya suruh Sudarmaji sebagai Manajer Media Officer. Sekali lagi saya sebenarnya tidak punya wewenang untuk mengundang, tapi ini demi Arema, kita mengundang Pak Nur,’’ sambung Pembina Yayasan yang juga Bupati Malang ini.
Rendra mengakui, pihaknya berencana bisa bertemu dengan pihak Muhamad Nur hari ini juga, tepatnya pukul 13.00 WIB. Namun bisa jadi pertemuan itu batal terwujud, karena hingga semalam belum ada komunikasi dengan Muhamad Nur.
’’Kita juga minta coba Pak Bambang (Pengawas Yayasan Arema, Red) yang menghubungi, tapi juga tidak bisa. Rencananya besok (hari ini, Red) jam satu siang kita bisa ketemu dan kita tidak bicara siapa yang mengundang, karena ini demi Arema,’’ yakin Rendra.
Menariknya dari pengakuan mantan Wakil Bupati Malang ini, dirinya menerima laporan bahwa ada Aremania yang berhasil menghubungi Muhamad Nur. Aremania yang dimaksud adalah Ahmadi korwil Bululawang. Muhamad Nur menyebutkan bahwa untuk rencana pertemuan diserahkan pada Rendra.
’’Ya, menurut Aremania ini, Pak Nur bilang pertemuannya tergantung saya untuk waktu dan tempatnya, tapi begitu saya telpon tidak diangkat,’’ kata Rendra.  ’’Sebenarnya harapan kita dari pertemuan ini adalah ingin bertemu, duduk bersama dan sebenarnya mereka maunya apa,’’ lanjutnya.
’’Ya kalau ada yang bisa dikompromikan, kenapa tidak? Itu bisa dilakukan bersama-sama. Kita minta kepastian dari Pak Nur untuk bertemu, ternyata tidak bisa dihubungi. Mudah-mudahan saja besok (hari ini, Red.) jam satu siang bisa ada pertemuan, kita lihat besok (hari ini, Red.),’’ tandas Rendra.
Sementara saat Malang Post coba kembali menghubungi Muhamad Nur, mantan Sekda Kota Malang ini memang tak mau menjawab. Hanya saja Ahmadi membenarkan bahwa dirinya sempat menjalin komunikasi dengan Muhamad Nur. Sedikitnya dua kali, Ahmad mengaku bisa berkomunikasi dengan Muhamad Nur melalui telpon genggamnya.
’’Pada intinya Pak Nur memang tidak mau bertemu dan menyerahkan persoalan Arema ini ke PSSI. Alasanya agar secepatnya masalah Arema ini bisa diselesaikan PSSI dan segara ada keputusan PSSI’’ ungkap Ahmadi saat dikonfirmasi Malang Post perihal dialognya dengan Muhamad Nur, tadi malam.
Dalam dialog tersebut, Muhamad Nur justru mengaku belum dihubungi pihak Rendra Kresna. ’’Kalau kontak tidak, tapi kalau ucapan hari raya idul fitri itu ada, dan sudah saya balas. Kalau memang Pak Rendra hubungi saya, pasti saya angkat,’’ ucap Muhamad Nur seperti disampaikan Ahmadi.
’’Persoalan Arema ini sudah kita serahkan ke PSSI, beberapa waktu lalu sudah kita sampaikan ke Pak Ketua PSSI dan kemarin juga sudah ditanggapi Pak Sihar (Ketua Komite Kompetisi PSSI, Red). Ya sudahlah biar ini diselesaikan PSSI. Biar Arema ini tetap jalan, yang penting sabar saja dulu, nanti diselesaikan dengan baik,’’ ujar Ahmadi menirukan perkataan Muhamad Nur.
’’Kalau tidak demi Arema, saya sudah lama tidak urus Arema. Sungguh saya tidak ada tendensi apa pun mengurus Arema ini. PSSI sudah melangkah, malu kalau saya tarik lagi,’’ sebut M. Nur.
Persoalannya, PSSI sendiri mengaku belum menerima laporan dari pihak Muhamad Nur. Paling tidak dari pengakuan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin ternyata masih berpikir persoalan internal Arema bisa diselesaikan oleh pengurus Arema sendiri. Artinya PSSI menganggap masih ada peluang untuk proses rekonsiliasi.
‘’Ya, untuk masalah Arema kita serahkan ke Arema. Bagaimana Arema menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Sampai saat ini (kemarin sore, Red.) belum ada laporan perihal kondiri terakhir di Malang. Jadi PSSI masih belum memutuskan apa pun, dan kita minta itu diselesaikan di Arema sendiri,’’ terang Djohar kepada Tembel, Aremania korwil Stasiun saat dikonfirmasi perihal kemelut yang terjadi di Arema.
Djohar pun berharap diantara dua kubu bisa bersatu untuk bersama-sama mengelola dan mengurus Arema. Lantaran Ketua Umum yang menggantikan posisi Nurdin Halid ini meyakinkan bahwa Arema mutlak harus tetap ikut kompetisi professional level 1 musim depan.
’’Arema mesti muncul di kompetisi musim depan, itu mutlak. Ya pengurus bisa bersama-sama mengelola Arema. Saya jamin, Arema pasti ikut kompetisi musim depan,’’ yakin Djohar tanpa menyebutkan pengurus yang bakal mendapat restu PSSI jika rekonsiliasi nantinya tak bisa terealisasi. (bua/avi)

Senin, 05 September 2011

Optimis Satu Suara

SURABAYA - Agenda rekonsiliasi dua kubu Arema yang sama-sama mendaftarkan diri ke PSSI mulai ada titik terang. Menyusul dua kubu tersebut sudah saling bertemu di Surabaya. Tepatnya bertemu di Ria Galeria, Surabaya mulai pukul 20.30 WIB tadi malam. Menurut keterangan Manajer Media Officer Arema, Sudarmaji, pertemuan berlangsung tertutup, dan hanya bisa diikuti oleh tiga orang saja. Yaitu Rendra Kresna, Muhammad Nur dan Bambang Winarno dari jajaran pengurus Yayasan Arema.
     “Rekonsiliasi itu bingkainya silaturahmi, kebetulan hari raya Idulfitri ini jadi momentum yang baik. Kita punya tujuan yang sama, pertama menyambung silaturahmi dan kedua, kita berusaha mengeksistensikan Arema,” jelas Sudarmaji kepada Malang Post.
“Sekecil apapun kesalahan itu, kita jalin kembali tali silaturahmi, agar semua lebih bagus. Silaturahmi tempatnya dimana saja, meski sebenarnya harapan kita rekonsiliasi atau silaturahmi itu bisa terlaksana di Malang,” sambungnya.
Menurut mantan wartawan ini, Malang punya keterkaitan sejarah tentang Arema. Apalagi jika proses rekonsiliasi tersebut dibicarakan di Malang, ada unsur kedekatan dengan Aremania sebagai stakeholder terbesar Arema.
“Cuma ini silaturahmi bisa bertemu dimana saja dan kapanpun juga. Yang terpenting ada percepatan untuk penyelesaian persoalan Arema ini, ya kalau dianggap masalah bisa cepat diselesaikan,” katanya.
Pria yang akrab disapa Darmaji ini mengaku persoalan tempat rekonsiliasi bukan hal yang substansial. Terpenting adalah materi pembicaraan para pihak yang sempat berseteru ini untuk sepakat satu suara menjaga eksistensi Arema.
Apalagi PSSI telah memberi batas waktu pada Arema, agar bisa menyelesaikan persolan internalnya sebelum Senin (5/9) besok. Lantaran sesuai agenda, PSSI akan menyerahkan dokumen klub professional ke AFC (Asian Footbal Confederation) hari ini.
“Alhamdulillah, pertemuannya digelar sebelum tanggal 5 atau sebelum batas limit PSSI. Hari ini (kemarin, Red) masih tanggal 4, besok tanggal 5, dua hari ini kita merasa optimis, dan selalu kita bangun optimis untuk Arema,” yakin Darmaji.
“Seperti Aremania yang optimis pada Aerema. Pertemuan ini semata-mata karena optimisme Aremania tersebut.  Kita optimis bisa menyelesaikan masalah ini,” lanjut pria asal Banyuwangi ini ikut mendampingi Rendra dan Bambang ke Surabaya.
Sayang hingga berita ini ditulis pukul 22.00,Sudarmaji belum belum menyampaikan hasil pertemuan Rendra, M. Nur dan Bambang Winarno tadi malam. Pastinya pertemuan hanya dilakukan bertiga, sebagai representasi pengurus Yayasan Arema.“Jadi yang bertemu yang berkompeten di internal yayasan. Untuk babak-bapak yang berkecimpung di yayasan, ini semua demi Aremania, karena Aremania ingin segera ada pertemuan dan tidak ada istilah menang-menangan,” jelasnya.
    Pihak M. Nur yang sebenarnya juga didampingi Lucky Acub Zainal pun tak bisa ikut terlibat dalam dialog segitiga tersebut. “Ini persoalan yayasan, pertemuan dilakukan di internal yayasan dan akan diselesaikan secara kekeluargaan,” tutup Darmaji. (bua/nug)

Rabu, 13 Juli 2011

Arema Tunggu PSSI

MALANG – Skuad Arema Indonesia berharap PSSI segera menentukan format atau sistem kompetisi musim depan. Apalagi setelah induk organisasi sepakbola tanah air tersebut baru saja menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, Sabtu (9/7) lalu dan menghasilkan Ketua PSSI. Singo Edan ingin segera mendapat kepastian sehingga bisa dijadikan pijakan untuk mulai menyusun amunisi musim depan.
Meski demikian, Arema ternyata tidak hanya diam sepanjang menunggu kepastian tentang agenda musim kompetisi baru nantinya. Mereka pelan-pelan mulai merangkai persiapan. Apalagi Arema akan turun di dua ajang berbeda musim depan. Meliputi, kompetisi Indonesia Super Liga (ISL) dan AFC Cup. Meski hingga kemarin, PSSI sendiri juga belum memberikan kepastian.
Sudarmaji, Media Officer Arema Indonesia mengatakan, langkah awal yang dilakukan Arema adalah menjalankan organisasi untuk menyusun kerangka tim, baik di Yayasan Arema dan Direksi PT Arema Indonesia. Pihaknya berharap ketika PSSI mengumumkan kepastian format atau sistem kompetisi ISL musim depan, manajerial di tubuh Arema sudah siap menatap kompetisi musim depan.
‘’Sambil jalan, kami tetap siapkan kerangka tim. Kami coba jalankan organisasi di tim Arema ini, baik di yayasan dan direksi. Karena belum ada kepastian dari PSSI, kami juga mendorong agar PSSI segera dapat mengutamakan penataan kompetisi untuk musim depan,’’ terang Sudarmaji kepada Malang Post, semalam.
Mantan wartawan ini menyebut, kepastian atau keputusan PSSI seputar bagaimana kompetisi ISL musim depan, menjadi pondasi klub-klub dalam mulai menyusun kekuatannya untuk musim depan. Diharapkan, PSSI dibawah kepemimpinan Ketua Umum PSSI baru, Djohar Arifin Husin, bisa secepatnya melahirkan keputusan soal hal ini.
Sembari menunggu keputusan PSSI, Arema tetap fokus membangun kerangka timnya untuk musim depan. Mereka sadar tidak ingin asal-asalan lantaran juga akan mewakili Indonesia di ajang AFC Cup. Selain tentunya meraih prestasi lebih baik lagi di ISL musim depan.
Meski diakui Darmaji, Singo Edan ini juga akan terlebih dahulu menggelar evaluasi tim sepanjang penampilannya di musim lalu. Arema meraih runner up ISL musim lalu, dan hanya sebagai penggembira di AFC Champions League (LCA).
‘’Harapannya ketika kerangka tim sudah tersusun, PSSI juga sudah putuskan soal bagaima format musim depan, atau setidaknya sejalan bersama. Selain itu, PSSI juga bisa segera sosialisasikan format kompetisi nantinya kepada klub-klub sehingga bisa dijadikan acuan untuk menyusun tim untuk kompetisi musim depan,” pungkas Darmaji. (poy/bua)

Senin, 11 Juli 2011

Yayasan Arema Hanya Satu

MALANG - Kongres PSSI usai dan telah memilih pemimpin baru. Yakni duet Djohar Arifin Husin dan Farid Rahman. Namun untuk persoalan di Arema belum ada titik temu. Semua pihak masih menunggu kejelasan nasib Arema yang disebut-sebut telah memiliki dua kepengurusan berbeda.
Setidaknya dari pengakuan Komite Normalisasi beberapa waktu lalu, ada dua kepengurusan berbeda yang masing-masing mengirim delegasi untuk menghadiri Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, Sabtu (9/7) kemarin.
Benarkah, Arema kini telah memiliki dua kepengurusan? Hingga saat ini belum terbukti secara legal formal tim berjuluk Singo Edan ini terbagi dua. Meski sudah muncul tanda-tanda bakal ada dua Yayasan berbeda untuk mengelola Arema.
Pertama Yayasan Arema dibawah kendali Rendra Kresna dan Iwan Kurniawan sebagai Pembina bersama Bambang Winarno selaku Pengawas Yayasan. Satu lagi Eddy Rumpoko sebagai ketua Dewan Pembina Yayasan bersama Lucky Acub Zaenal.
Penempatan duet Eddy dan Lucky sebagai Pembina Yayasan itu, seperti keterangan Andi Darussalam Tabusalla beberapa waktu lalu. Putusan ini berdasarkan hasil rapat Pendiri dengan Ketua Yayasan yang lama, Muhammad Nur. Sekalipun Eddy Rumpoko tidak mau disebut sebagai pembina, sebelum ada kejelasan seputar legaltias formal.
Andi yang sebelumnya sempat dipercaya sebagai Pembina Yayasan meski tanpa lgalitas formal menyebutkan, Ketua Yayasan Arema nantinya adalah Said Amin, salah seorang pengusaha asal Kalimantan yang ikut menjadi investor Arema.
’’Kalau berdasarkan Undang-Undang Yayasan yang baru, Pembina Yayasan yang bisa merubah pengurus yayasan itu,’’ ungkap Eko Handoko Widjaja, SH. M.Hum, notaris yang membuat akta Yayasan Arema tahun 2005 lalu.
’’Kalau pendiri itu tidak ada wewenang. Prinsipnya, pendiri setelah yayasan itu lahir atau terbentuk, sudah putus hubungannya. Kecuali dia duduk sebagai pembina atau sebagai pengurus dalam yayasan yang dibentuk,’’ sambung notaris yang memegang akta nomer 146 untuk perubahan Yayasan Arema saat dikelola Bentoel. Ketika itu pula Eko Handoko menunjukkan berkas-berkas akta yayasan yang tetap dia simpan.
Kalau pendiri bisa merubah, menurut Eko Handoko, itu adalah aturan lama, dimana Yayasan belum mendapat standarisasi dari Departemen Kehakiman. Sehingga diakuinya, untuk standar akta yang lama, notaris bebas membuat sendiri-sendiri.
’’Kadang-kadang pendiri ditambahkan pasal tertentu, bahwa pendiri itu diberi keistimewaan tertentu. Misalkan kalau mau angkat pengurus harus persetujuan pendiri, atau mau jual akta harus persetujuan pendiri. Tapi itu yang lama, kalau sekarang sudah tidak bisa,’’ jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, dalam akta Yayasan Arema yang dipegangnya, tidak tercantum nama pendiri dalam struktur kepengurusnya. Sehingga bisa dipastikannya, pendiri tidak punya wewenang dalam Yayasan Arema.
’’Tidak tahu apa setelah ini ada perubahan lagi,’’ sebut Eko Handoko yang mengaku sudah tak ikut merubah akta Yayasan Arema saat dilepas oleh Bentoel tahun 2009 lalu.
Sementara itu, terkait kemungkinan adanya yayasan baru, notaris yang berkantor di jalan Kawi ini menyebutkan, tidak mungkin lagi saat ini ada nama yayasan yang sama dengan Yayasan Arema sebelumnya. Menurut Eko Handoko, untuk kasus nama yang sama akan melalui sidang di Departemen Kehakiman.
’’Kalau ada yayasan lagi, bukan yayasan yang dulu. Itu yayasan baru. Meskipun namanya sama dan pendirinya kebetulan sama dengan yang dulu, tapi tidak bisa yayasannya sama. Ya, kalau mendirikan yang baru, itu sudah yayasan yang lain,’’  yakin Eko Handoko.
’’Terus misalkan bisa berjuang membuat namanya sama, itu juga tidak ada gunanya. Karena itu tetap bukan yayasan yang ada sekarang,’’ sambung notaris yang memastikan bahwa proses pendirian yayasan baru ini tidaklah sulit dan tidak lama, karena diperkirakan satu bulan sudah selesai.
Namun terlepas itu, Eko Handoko berharap konflik yang terjadi di kepengurusan Arema ini tidak terus berlanjut. Khususnya menyangkut rencana pendirian Yayasan Arema yang baru, diharapkannya tak sampai menjadi konflik horizontal antar suporter Aremania sendiri.
’’Daripada ribut-ribut, harusnya dilihat hukumnya. Ya, kalau bisa jangan sampai ribut di tingkat suporter. Itu tidak boleh. Saya pikir, petinggi-petingginya, kalau mengerti masalahnya itu tidak masuk akal, ya tidak usah diteruskan. Ini pendapat saya sebagai orang netral,’’ pungkas Eko Handoko kepada Malang Post, kemarin. (bua)

Rabu, 08 Juni 2011

Optimis Sikat Persijap

JEPARA-Kemenangan dua laga home disaat kondisi tim tengah dilanda krisis finansial rupanya meningkatkan percaya diri pemain Arema. Khususnya menghadapi Persijap Jepara di stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, malam ini mulai pukul 19.00 WIB.
Terlepas kualitas lawan yang dihadapi adalah tim papan bawah, pemain Arema optimis raih poin penuh di kandang Persijap. Menyusul target sapu bersih sisa laga Arema, menjadi satu-satunya cara agar tim kebangaan Aremania ini raih posisi runner up.
“Ya, kita optimis menghadapi Persijap besok, kita datang kesini untuk raih poin penuh. Kita sudah tinggal tiga kali main saja, kita harus dapat poin sebanyak-banyaknya untuk bisa posisi teratas semaksimal mungkin,” ungkap Esteban Guillein.
Menurut gelandang Arema asal Paraguay ini, persoalan demi persoalan yang dihadapi timnya bukan penghalang untuk memenangkan pertandingan malam ini. Termasuk dengan komposisi tim Arema yang tanpa beberapa pemain pilarnya.
“Meski tidak full team, tapi ini adalah grup yang kompak, yang sudah terbukti, setiap ada problem pemain, yang masuk mengganti juga akan tampil cukup baik,” sebut Esteban mengomentari absennya seorang Chmelo Roman sebagai socond striker.
“Saya yakin, siapapun besok yang mengganti Roman, akan bermain sebaik Roman juga, untuk kita bisa dapat tiga poin yang penting,” sambung pemain yang akrab disapa Este ini usai latihan di stadion Gelora Bumi Kartini, kemarin pagi.
Meski optimis menaklukkan Persijap dan bawa pulang tiga poin, menurut Este juga bukan pekerjaan mudah. Menyusul tim asuhan Suimin Diharja itu bakal memberikan perlawanan sengit pada Singo Edan.
“Persijap kelihatan lebih kuat kalau bermain di kandangnya, mereka menganadalkan pemain asing tengah dan depan yang cukup berbahaya, kita harus mewaspadai mereka,” terang Este mengacu pada sosok striker Alberto ‘Beto’ Gonchalves yang haus gol.
Striker Persijap asal Brazil itu memang menjadi momok bagi setiap tim yang menghadapi tim berjuluk Laskar Kalinyamat ini. Sedangkan gelandang asing Persijap yang juga layak di waspadai adalah Jose Sebastian.
“Tapi saya pikir, kalau kita bisa mengontrol itu dulu, saya rasa pemain-pemain depan kita akan dapat kesempatan untuk cetak gol. Besok pertandingan akan berjalan menarik untuk ditonton dan kita optimis dapat tiga poin disini,” pungas Este.
Sementara untuk pengganti Roman yang bakal berduet dengan Este di lini kedua diperkirakan bakal ditempati Sunarto. Sayap kanan Dendi Santoso, kiri Musafri dan Yongki Ariwibowo tetap dipercaya sebagai striker utama mengganti posisi Alamshah.
Lalu untuk posisi gelandang jangkar tetap Ahmad Bustomi, dengan komposisi empat pemain belakang diperkirakan sama seperti saat Arema lawan Persela. Ada Benny Wahyudi di kiri, Zulkifli di kanan serta duet Golian-Leo di jantung pertahanan Arema. (bua)

Pegang Kelemahan M. Yasir

JEPARA-Jika sesuai hasil latihan kemarin pagi, tim Persijap diprediksikan bakal menurunkan kiper M. Yasir. Mantan kiper Persija Jakarta dan Arema ini masuk dalam starting line up yang dipersiapkan pelatih Suimin Diharja untuk laga malam ini.
M. Yasir saat ditemui Malang Post usai latihan kemarin pagi pun mengaku sudah siap untuk menghadapi Arema. Bahkan kiper asal Jakarta ini mengaku punyamotivasi lebih untuk menghadapi mantan klubnya sendiri.
'“Saya sudah siap untuk pertandingan besok, apalagi ini menghadapi Arema, ada motivasi lebih untuk saya. Saya selalu optimis bisa mengalahkan mantan klub saya,” ungkap M. Yasir sebelum meninggalkan stadion Gelora Bumi Kartini, kemarin pagi.
    Sementara itu, tim pelatih Arema mengaku sudah mengantongi kelemahan kiper berkepala plontos ini. Seperti diungkapkan pelatih kiper Arema, Dwi Sasmianto, timnya bisa memanfaatkan kelemahan dari M. Yasir untuk raih poin maksimal.
“Yasir kiper bagus, tapi ada satu yang jadi kelemahannya, yaitu dia cenderung ceroboh. Terus dia banyak melakukan blunder. Ya, bagaimana nanti caranya pemain depan kita untuk melakukan pressing,” terang Dwi.
“Kalau dia dipressing, dia cenderung  ceroboh. Seperti saat kita memang 5-1 atas Persija musim lalu, kipernya itu Yasir. Pertama dia main bagus, tapi begitu dapat pressing, dia langsung down,” sambung pelatih kiper yang akrab disapa Kirun ini.
Harapnya, Yongki dkk bisa tampil dengan determinasi tinggi seperti saat menaklukkan Persela Lamongan dan Deltras Sidoarjo. Jika Arema kembali tampil bagus seperti dua laga home itu, peluang menang terbuka lebar.
“Saya rasa kalau anak-anak main seperti lawan Deltras dan Persela,  terus melakukan pressing, itu akan melemahkan mental Yasir, kita ada peluang untuk menang,” yakin Kirun kepada Malang Post usai latihan kemarin pagi. (bua)